HAKEKAT JUJUR

Mungkin banyak orang mengerti makna jujur dalam pengertiannya secara umum, yakni sebuah sifat yang apa adanya seuai dengan kata hati. Jujur biasanya juga diaratikan sebagai sebuah keteguhan dalam mempertahankan kebenaran dan tidak mau menyeleweng dari  yang seahrusnya.  Jika digambarkan ialah orang jujur ialah orang yang akan melakukan apapun sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tidak akan pernah keluar dari apa yang seharusnya dilakukan. Jika diajak untuk bergeser dari kebenaran, maka dia akan kokoh tidak akan menyahutinya, meskipun yang mengajak tersebut ialah atasannya.

Namun kejujuran itu jauh melebihi apa yang diketahui banyak orang sebegaimana tersebut. Meskipun kalau jujur tersebut diartaikan sebagaimana tersbeut juga sudah sangat hebat, karena dengan kejujurannya, orang tidak akan pernah melakukan hal hal negative dan bertentangan dengan aturan yang berlaku.  Jujur dalam arti yang lebih luas itu menyangkut persoalan moralitas dan juga  kepercayaan.  Artinya  orang yang jujur sudah dapat dipastikan akan selalu menjalankan sesuatu sesuai dengan rel yang semestinya.

Kalaupun ada badai yang akan menerjangnya terkecuali dia harus melakukan sesuatu yang menyimpang, maka dia akan tetap menghadang badai etrsebut, walaupun nyawa harus melayang. Jika seseorang percaya bahwa melakukan sesuatu itu haram dan dilarangoleh agama serta Negara, dapat dipastikan dia akan tetap memegangnya sampai  akhir hayatnya. Bahkan kalaupun diperdintahkan untuk melakukan sesuatu etrsebut yang bertentangan dengan keyakinannya, maka dia akan lebih memilih tidak melakukannya meskipun  akibatnya dia akan dikeluarkan dari pekerjaannya,

Kita mengenal betapa sahabat zaman dahulu, khususnya pada saat awal Islam, mereka meyakini betul apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammd saw dan ketika ada pembesar kaum musyrikkin memintanya untuk mencabut keyakinan etrsebut, kemudian dia tetap tidak mau meskipun dia harus disiksa sedemikian berat. Itulah resiko menjadi orang yang jujur terhadap apapun, karena kejujuran adalah sebuah keyakinan dan     karena itu tidak ada seorang pun yang akan mampu mengubahnya selama dia masih memegang kejujuran tersebut.

Jika kita mempunyai karyawan kecil semisal sebagai pembersih, lalu dia  memang benar benar orang jujur yang tidak mau mengambil milik siapapun yang bukan miliknya, maka kita perlu bersyukur dan perlu memberikan apresiasi yang tinggi kepadanya. Dia pasti akan mau menjaga  apapun yang menjadi tangung jawabnya, sehingga kita dapat nyaman pada saat tidak sedang berada di tempat, karena di sampong kita sudah bertawakkal kepada Allahs wt, juga ada orang jujur yang  pasti akan menjaga  apa yang kita tinggalkan.

Tentu akan jauh berbeda dengan mereka yang tidak jujur,  maka jangankan kita pergi, pada saat kita lengah saja dia akan mampu mengambil sesuatu yang buian miliknya, sehingga kita tidak akan merasakan aman dan nyaman. Terkadang kita  perlu juga mengetes semua orang yang dekat dnegan kita, apakah mereka itu termasuk orang yang jujur dan mempertahankan kejujruannya terutama pada saat ada  dan menghadapi tekanan, semacam kebutuhan harta dan kemudian ada kesempatan untuk mendapatkan harta yang  berada di hadapannya.

Jika dia orang jujur, maka apapun yang ada , berbagai kemudahan dan sangat mungkin untuk mengambil milik orang lain yang sama sekali tidak diketahuinya, dapat dipastikan dia tidak akan berani melakukannya, bahkan dia pasti akan melaporkan hal tersbeut kepada pemiliknya yang kemungkinan  lupa atau tanpa sengaja  sesuatu itu jatuh dan lainnya. Orang yang jujur pasti akan selamat, dan kalaupun dia kemudian dipecat dari pekerjaannya, pasti akan segera mendapatkan jalan keluarnya dan mendapatkan sesuatu yang lebih baik.

Gambarannya ialah jika ada orang jujur dan diajak untuk melakukan kecurangan oleh atasannya atau oleh tmananya dan lalu dia menolak, biasanya dia justru akan disingkirkan karena dianggap membahayakan posisi orang tersebut yang memang melakukan kecurangan. Nah, itulah orang jujur yang kemudian dianggap tidak mujur dan bahkan malah bernasib sial. Namun kita harus yakin bahwa itu hanya sementara sebab pada saatnya kalau dia bertahan dalam kejujruan, pasti akan mendapatkan tempat dan pekrjaan yang lebih baik ketimbang sebelumnya.

Jadi kita tidak boleh mengatakan bahwa jujur itu buruk dan bahkan mengatakan jujur itu hancur. Mungkin itu hanya pandangan sementara sauja yang  karena dia berada di tempat yang tidak tepat, sehingga kejujurannya justru malah mengancam banyak pihak yang berlaku curang. Namun pada saatnya  pasti dia akan mendapatkan seuatu yang lebih baik, karena jujur itu pasti akan mendatangkan keberuntungan dan keberkahan.  Allah swt pasti tidak akan diam jika menyaksikan ada orang jujur lalu diperlakukan secara dhalim dan kemudian tidak mendapatkan keadilannya.

Pada kenyataannya banyak orang yang benar benar jujur kemudian mendapatkan keuntungan yang besar, meskipun  dalam ukurannya.  Jika dia bekerja sebagai kuli maka kejujuran akan membawanya  menjadi selamat dan selalu mendapatkan keuntungan, hatinya tenang dan jiwanya juga sangat damai. Terkadang justru malahan banyak orang menjadi iri kepadanya karena ketulusannya yang begitu hebat dan  keyakinannya yang kuat serta  tidak tertarik kepada sesuatu di luar dirinya.

Biasnaya kalau orang kejujurannya tidak penuh, akan dnegan mudah tergoyahkan, terutama jika ada tekanan, baik dari keluarga maupun dari kawan sejawat.  Itu hakekatnya ialah setan yang selalu menggoda lewat keluarga  dan kawan, namun  sma asekali tidak disadarinya dan hanya memikirkan  sesuatu yang mudah didapatkannya dan  dianggap akan dapat memenuhi kebutuhan kelurganya yang dianggap selalu kurang. Lalu jadilah dia melakukan kecurangan. Boleh jadi kemudian dia akan mengalami kesulitan karena ketahuan, ataua kalau kemudian  tidak ketahuan, maka dia jua pasti tidak akan merasakan ketenangan yang hakiki.

Namun jika jiwanya bersih dan jujur yang hakiki, pasti dia tidak akan mau melakukan apapun yang bertentangan dengan agama dan aturan main yang sudah ditetapkan, apapun resiko yang harus ditanggungnya. Dia tidak akan takut untuk dipecat karena rizki itu datangnya dari Tuhan,  karena Tuhanlah yang akan membagi rizki Nya kepada sleuruh hamba Nya, dan karena itu dia tidak akan pernah takuit untuk memperjuangkan kejujuran tersebut.

Jika terpaksa dia harus mendapatkan sesuatu yang sangat dibutuhkan dan tidak tahu lagi  harus mencari di mana? Maka dia pasti akan lebih memilih meminjam kepada  siapapun yang dikenalnya  untuk kemudian dia akan membayarnya pada  satnya nanti. Itulah mental kejujuran yang seharusnya dimiliki oleh smeua orang, bukan hanya milik segelintir orang saja, dan selebihnya  hanya menjadi pecundang dan merugikan pihak lain.

Sifat jujur tersebut sesungguhnya dapat kita bentuk sejak dini, sejak anak anak, karena bagaimanapun sifat jujur tersebut merupakan sifat ddasar manusia yang kemudian akan berkembang sesui=ai dnegan lingkungan dan pendidikan masing masing. Jika kita membiasakan mendidik anak anak kita dengan kejujruan dan keimanan yang kokoh, pada saatnya tentu kita akan menuai hasilnya yang membanggakan. Semoga kita mampu mendidik anak anak kita tentang kejujuran untuk modal mereka mengarungi dunia ini, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.