PERINGATAN ISRA’ MI’RAJ

Kisah kisah mengenai  perjalanan  isra’ mi’raj nabi Muhammad saw sudah banyak diketahui oleh umat islam, baik yang secara garis besar maupun yang rinci hingga banyakmtamsil di dalamnya. Namun yang penting dalam kisah isra’ mi’raj tersebut ialah biasanya dikaitkan dnegan perintah menjalankan shalat bagi umat muslim. Kono ceritanya  hanya shalat sajalah perintah kepada umat muslim yang langsung diberikan oleh Tuhan kepada nabi Muhammad saw, karena yang lainnya perintahnya  selalu melalui perantara malaikat Jibril baru kepada nabi Muhammad saw.

Untuk itulah shalat menjadi istimewa karena perintahnya lagsung tanpa perantara.  Untuk itu pulalah shalt itu merupakan satu satunya ibadah yang nanti akan dioertanyakan oleh Tuhan  untuk pertama kalinya di akhirat.  Secara teoritik bahwa jika shalat seorang hamba itu bagus, maka keseluruhanamalnya dpaat dipastikan juga akan bagus, dan seba;iknya jika shalatnya buruk maka seluruh amalnya juga buruk. Lalu pertanyaannya ialah apa memang benar dmeikian? Bukankah ada orang yang shalatnya bagus tetapi masih saja melakukan perbuatan maksiat dan tercela dan sebalinya?

Mungkin itu hanya kesan semata, karena jika kita melihatnya secara jerni, maka shalat yang disampaikan oleh Allah swt jika dijalankan dnegan benar, maka  akan mampu menjauhkan pelakuknya dari perbuatan munkar dan keji, jadi otomatis  pelaku shalat akan selalu dalam kondisi baik. Nah, pertanyaannya ialah lalu kalu ada orang sudah shalat dnegan rajin, tetapi masih  melakukan kemaksiatan, lalu bagaimana?  Jawaban mudahnya ialah  bahwa orang tersebut belum menjalankan shalat dengan baik, karena belum mampu  terjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah swt menjamin dalam firman Nya bahwa shalat itu akan mampu mencegah  dari eprbuatan yang keji dan mungkar.  Karena itu jika shalat seseorang itu baik sesuai dnegan yang dikehendaki oleh Allah swt, pastinya  orang tersebut akan selalu dijaga dari perbuatan mungkar dan keji serta maksiat. Mungkin shalatnya tampak rutin dijalankan, tetapia da kemungkina  juga bahwa shalatnya tersebut tidak khusyu’ atau mungkin kurang konsentrasi dan tidak ingat kepada Allah semata, sehingga menyebabkan dia  masih mudah tergoda oleh kemaksiatan.

Peristiwa isra’ mi’raj nabi Muhammad saw memang secar langsung dikisahkan dalam alquran meskipun tidak serinci  pada hadis.  Ada ayat yang menceritakan tentang perjalanan isra; nabi tersebut, yakni suarat al-Isra’ ayat yang pertama yang maksudanya  ialah “ maha Subi Dzat yang telah memperjalankan  kepada hamab Nya di malam hari dari masjid al haram di makkah  ke masjid alAqsha di palestina yang kami berkahi di sekitarnya agar  Aku perlihatkan tanda tanda kebesaran Ku sesungguhnya Dia Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”

Memang sangat  ringkas ceritanya, namun kemudian para ulama melalui riwayat hadis lalu membuat rangkaian ceritanya menjadi snagat panjang dan bahkan hingga menerima perintah shalat yang lima waktu, dan itupun pada awalnya konon diowajibkan sebanyak lima puluh kali dan kemudian didispensasi menjadi lima waktu, akan tetapi pahalanya masih tetap sama dengan yang lima puluh kali, karena dalam Islam ekmudian perbuatan baik itu akan dilipatgandakan pahalanya menjadi sepuluh kali.

Banyak kisah yang diceritakan dan menyertai perjalanan baginda nabi Muhammad saw  selama menjalani perjalanan isra’ tersebut, apalagi kemudian juga digandengkan dengan mi’rajnya menghadap Tuihan di Sidratil Muntaha.

Banyak tamsil yang dijelaskan dalam peristiwa isra’ mi;raj tersebut, yang salah satunya ialah ada  orang yang sangat tersiksa  dengan salah satu anggota tubuhnya, yakni lidahnya digunting sendiri, lalu kesakitan dan menjerit sangat luar biasa, lalu pulih kembali dan digunting lagi dan begituseterusnya yang ternyata setelah ditanyakan oleh Nabi, itu perlambang bagi mereka yang suka  mengadu doba dan memfitnah  serta melakukan pergunjingan kepada sesamanya.

Demikan juga dnegan tamsil lainnya untuk mengibaratkan orang orang yang suka memakan harta rioba dan haram sehingga seolah merka itu memakan  api yang menjilat jilatd an  perutnya roek serta  mengeluarkan seluruh isinya, lalu kembali dan  begitu membalik lagi dan seterusnya. Sungguh dahsyat siksa akhirat yang digambrkan dalam peristiwa isra’ mi’raj tersebut.  Tentu tujuannya ialah agar umat menjadi sadar dan mau mengubah dirinya menjadi lebih baik dan serta tidak sama dengan apa yang diceritakan dalam kisah isra’ mi’raj etrsebut.

Namun sebagaimana biasanya tidak semua umat akan mengikuti kata hatinya dan mengikuti serta mengambil pelajaran dari kisah nya melainkan hanya mendegar lalu dilupakan  karena kegandrungannya kepada persoalan duniawi. Beruntunglah bagi mereka yng mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa apapun, apalagi yang menggambarkan eprsoaln akhirat yang sangat dahsyat dan mengerikan. Karena itu jika sampai hari ini kita masih belum tersentak dengan kisah tersebut, sebaiknya memang mendalaminya dengan membaca secara seksama dan merenungkannya dalam dalam.

Dengan memahami cerita tersebut dan mengambil manfaat darinya, insya Allah akan muncul kesadaran untuk memperbaiki diri dan  berhijrah kepada kebaikan sebagaimana yang selalu dianjurkan oleh Nabi dan para orang orang shalih.  Kisah isra’ mi’raj tidfak akan pernah lekang oleh zaman, melainkan semakin ke sini akan semakin dibutuhkan oleh umat, setidaknya untuk mengingatkan kembali persoalan shalat yangmenjadi kewajiban bagi umat muslim, yang tidak tergantikan oleh apapun.

Memang sebagaimana kita tahu kewajiban shalat ialah kewajiban yang tidak bisa digantikan oleh apapun, bahkan  harus dijalankan dalam kondisi apapun, sepertyi sakit dan lainnya. Selama akal kita masih waras, maka selama itu pula kita masih tetap wajib menjalaninya, meskipun tidak sempurna, sepei jika kita tidak mampu lagi berdiri, maka boleh dijalankan dengan duduk,  dan jika dengan duduk pun  masih tidak aanggup, maka boleh dijalankan dnegan berbaring,  kemudiantelantang, dan dengan isyarat.

Semua itu menunjukkan bahwa shalat itu memang tidak boleh ditinggalkan dnegan alasan apapun. Itulah keistimewaan shalat, yang memang datangnya secara langsung disampaikan oleh tuhan sendiri tanpa memalui malaikat Jibril.  Tetpi sesungguhnya  kita tidak boleh hanay mementingkan persoalan shalat saja, dalam memperingatai isra’ mi’raj nabi, karena  memang banyak hal yang harus dimunculkan, meskipun yang paling penting memang shalat lima waktu etrsebut.

Mengingatkan kepada umat muslim agar menjadi yang terbaik dengan  mengikuti teladan nabi Muhammad saw juga snabat penting untuk terus dikumandangkan, semisal tidak menyebarkan fitnah, tidak menggunjing, tidak berbuat kedhaliman, tidka berdusta dan kejatahan lainnya serta kemaksiatan yang bisanya mudah dilakukan oleh umat.  Dengan mengangkat banyak persoalan kemasyarakatan kita, tersebut kiranya kita akan  sedikit membangun  masyarakat kita dengan  memulainya sejak dari pembentukan moral dan  karakter baik kepada masyarakat kita.

Pada satnya kita yakin bahwa masyarakat yang dimodali dengan  akhlak yang bagus, nantinya  akan berkembang dnegan bagus pula dan tidak mudah untuk melakukan penyeleweangan terhadap aturan yang sudah dibuat untuk kebaikan bersama. Semoga dengan bagitu kita akan mampu  menjadikan peringata isra’ mi’raj ini  sebagai  sebuah moment yang  berharag bagi pengkondisian masyarakat untuk selalu menjadi baik secara lahir dan batinnya. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.