JANGAN MUDAH MEMPERCAYAI ORANGA LAIN

Bukan mengembangkan  buruk sangka, melainkan hanya sekedar waspada kalau kita tidak langsung mempercayai orang lain, apalagi  merwk ayng belum kita kenal dengan baik, atau mereka yang sedang mempunyai masalah tertentu, karena terkadang apa yang disampaikan ialah pembelaan yang sifatnya subyektif dan ingin mendapatkan  dukungan atas apa yang dialaminya. Padahal  secara formal dan kenyataan mereka itu memang tidak benar dalam pernyatannya.

Banyak tokoh yang sesungguhnya sudah mendapatkan kepercayaan masyarakat, lalu melakukan kesalahan fatal dengan menjadikan pernyataan orang lain sebagai sebuah bukti, sehingga apa yang dinyatakannya tersebut menjadi salah dan merusak reputasinya sendiri. Karena itu selalulah cermat dalam menyampaikan perbnyataan apapun, apalagi terkait dengan posisi pihak lain yang terkena imbas pernyataan etrsebut. Untungnya masih banyak orang yang tyoleran dalam p[ersoalan tersebut atau enggan untuk mempermasalhkannya, sehingga masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.

Dalam kaitannya dengan persoalan ini kita memang menyayangkan  pernyataan seorang tokoh nasional yang sudah dikenal banyak orang yang tidak ditabayyun terlebih dqahulu kepada yang bersangkutan, lalu menjadi viral dan merugiakn  pihak lain.  Masyarakat kemudian menuduh  buruk kepada orang yang dituju dan dibicarakan tersebut, padahal tidak demikian adanya. Barangkali  saya harus menyebut nama tertentu agar semuanya menjadi jelas dan tidak lagi liar dan menjadi polemic serta kontroversi di masyarakat.

Saat acara ILC beberapa waktu yang lalu ada mantan rector UIN malang yang dihadirkan oleh ILC untuk berbicara dan memberikan testimony  terhadap  rumor  jalanan yang seolah  ada suap dalam pengangkatan rector di sana.  Mantan rector tersebut menyataklan bahwa dirinya terpilih tetapi tidak dilantik.  Pertanyaannya ialah kalau menggunakan dasar PMA 68 tahun 2016, tentu pernyataan etrsebut dengan sendirinya sudah tidak benar, karena di sana tidak ada pemilihan calin rector.

Senat hanya memberikan penilaian atau p[ertimbangan secara kualitatif dan memberikan rekomenadasinya  untuk mengirimkan ke  pusat. Lalu pusat dalam hal ini kementerian agama membentuk tim seleksi para calon. Hasilnya tiga besar dikirim kepada menteri lalu menteri memilih satu diantara ketiganya, sehingga pernyataan sudah terpilih lalu tidak dilantik dan kemudian menuduh yang dilantik melakukan hal etrcela semacam suap tentu itu harus dapat dibuktikan, dan itu merupakan tuduhan yang tidak berdasar, melainkan hanya asumsi semata.

Pada kenyataannya ada tiga calon yang dikirim ke Jakarta, meskipun memang  hanya ada satu calon dari dalam, tetapi itu tetap saha dan bukan melanggar aturan, sementara yang dua dari UIN sunan ampel dan dari IAIN jember.  Secara  formal proses itu berjalan denagn baik dan tidak ada kendala  apapun karena menurut PMA tersbeut cara yang ditempuh sudah sesuai dengan prosedur dan benar.

Sementara itu ada tuduhan yang sungguh sangat menusuk, yakni adnaya penyataan aroma  3 Milyar untuk menjadi rector. Itu sama sekali tidak  dapat diterima. Logikanya  bagaimana, tunjangan sebagai rector selama empat tahun saja tidak cukup untuk mengembalikan itu, jika itu benar, lalu apakah jabatan rector itu menguntungkannya dan mampu mengembalikan uang sejumlah tersbeut?.

Disamping itu jga dikatakan bahwa ada calon yang bernama Andi faisol bakti yang sudah dua kali  mengikuti pencalona  rector dan dua kali memenangkan pencalonan tetapi tidak dilantik. Ini juga tidak dapat dibenarkan. Menurut cerita dari rector UIn Makasar bahwa beliau sebelumnya adalam ketua tim sukses Andi faisol bakti saat pencalonan, dan belum menggunakan PMA 68, Nah, pada saat pemilihan calon rector tersebut anggota senat yang dating tidak kuorum meskipunmenghasilkan Andi faisal bakti. Denga begitu keterpilihannya  masih cacat karena tidak kuorum, sehingga diperlukan pemilihan ulang.

Namun Andi faisal bakti malah menempuh jalur pengadilan. Entah  dengan pertimbangan apa pengadilan kemudian memutuskan memenangkan Andi faisal bakti, tetapi pihak kampus tetap akan menggelar pemilihan calon rector lagi dengan  kehadiran anggota senat yang kuorum.  Tetapi dia tidak ikut, dan  rector saat ini yang sebelumnya menjadi tim suksesnya  maju dalam pemilihan, dan kemudian memanagkan pencalonan tersebut dan lalu dilantik.

Lalu pernyataan  bahwa yang bersangkuitan mengikuti pemilihan calon rector di UIN Jakarta, pastinya sudha menggunakan PMA 68, lalu kok bisa menyatakan dia memenangkan pemilihan? Itu pastinya  sebuah pernyataan yang tidak dapat dibenarkan, karena dalam PMA 68 tidak ada pemilihan calon rector oleh senat, sehingga tidak akan dapat dikatakan memanangkan pemilihan. Senat sebagaimana disebutkan di atas hanya memberikan pertimbangan  kualitatif kepada smeua calon yang maju, lalu mereka yang memenuhi syarat akan diajukan ke kementerian.

Baru  ssetelah itu kemenetrian membentuk panitia seleksi dan hasilnya tiga besar akan dikirim kepada menteri, lalu menteri memilih satu diantara ketiganya, dan kemudian dilantik. Kalaupun misalnya dia mendapatkan rangking pertama dalam timsel, maka itu tidak mutlak dia harus dipilih oleh menteri, karena menteri juga mempunyai penialain tersendiri dan itu sah.  Namun inipun masih dipertanyakan, apakah tim sel membocorkan nilai kepada para calon?. Menurut saya itu tidak mungkin karena mereka orang orang yang kredibel dan berintegritas.

Jadi kesimpulannya pernyataan mengenai menang dalm pemilihan calon rector dalam konteks kedua kampus etrsbeut tidak dapat dibenarkan.  Ini penting agar masyarakat tidak berlarut dalam menyudutkan kampus dan kementerian agama pada umumnya. Lalu  terkait dnegan  ada 3 milyar harga untuk menajdi rector, tentu harus dapat dibuktikan, jangan asl menuduh tanpa bukti yang hanya akan melukai pihak pihak teretntu saja.

Saya menajdi perihati dnegan pemberitaan ini, karena saya berada di dalam rumah besar kementerian agama, sehingga sedikit atau banyak pandangan masyarakat kepada kampus kampus di kementerian agama menjadi berbeda, padahal kita sudha cukup lama berjuang untuk mebesarkan kampus dan mengupayaknkemajuan dan pengembangannya. Namun  dirusak hanya dnegan pernyataan yang tidak bermutu tersebut. Kita persilahkan kepadamaysrakat untuk menilainya sendiri dnegan mengacu kepada PMA 68 tahun 2015 yang kemudian disandingkan pernyataan tokoh tersebut.

Ada kemungkinan bahwa merka yang menjadi sumber tokoh tersbeut ialah orang yang sedang mengalami kekecewaan karena tidak dilantik sebagai rector, kita dapat mengerti kekecewaan etrsebut, apalagi kalau kemudian yang bersnagkutan merasa bahwa dirinyalah yang paling pantas  untuk menduduki jabatan rekrectorrsbeut, tetapi jangan kemudian membuat pernyataan yang sama sekali tidak  ada hubungannya dan dapat merugikan institusi serta dapat membuat pihak lain merasa dirugikan.

Karena itu sebelum mengel;uarkan pernyataan, teliti dahululah sumbernya dan  [osisinya, apakah memang sumber tersebut dapat dipercaya ataukah tidak.  Juga harus dipahami dahulu dasar hokum yang dijadikan pijakan untuk menyatakan sesuatu. Kalau usul agar PMA itu direvisi, itu soal lain dan siapapun boleh usul, tentu munculnya PMA 68 juga didahuli oleh banyak persoalan yang kemudian diambil langkah mengubahnya seperti itu. Jadi tidak ada sebuah aturan yang sempurna, karena palaksananya juga manusia yang masih makan nasi, jadi sangat mungkin factor manusianya yang menjadi persoalan.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.