SERTIFIKASI PEMBIMBING HAJI

Untuk memperbaiki layanan kepada para jamaah haji yang bervariasi usianya dan etnisnya, maka  sangat diperlukan para pembimbing yang benar benar professional, sehingga pembimbingannya akan maksimal. Selama ini para pembimbing haji  memang sudah cukup bagus, nemun masih banyak yang kurang maksimal dan bahkan ada sebagiannya yang lepas tangan dari pembimbingan, terutama kalau sudah berurusan dengan pihakl di Saudi. Biasanya terkendala persoalan bahasa dan keberanian untuk menyelesaikan persoalan.

Persoalan leadership tentu memagangbperanan penting dalam pembimbingan tersebut, karena bukan saja  terkait dnegan persoalan ibadah, melainkan juga terkait denagn seluruh aktifitas dan proses ibadah haji.  Terkadang kita temui juga petugas yang tidak ngopeni jamaahnya, melainkan malah mencari kesenangan sendiri, padahal mereka itu diberangkatkan secara gratis dan dibiayai oleh pemerintah dengan tugs  membimbing jamaah haji. Itul;ah mengapa kemudian  direncanakan  tahun depan akan diberlakukan bahwa semua pembimbing haji harus bersertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga yang diberikan kewenangan untuk itu.

Memang  dengan sertifikat tersebut belumlah ada jaminan 100 persen akan  mulus, melainkan setidaknya secara umum para pembimbing tersbeut jauh lebih baik, tertib dan dapat diandalkan.  Mungkin juga ada yang berpendapat bahwa sebagian  orang yang tidak bersertifikat akan jauh lebih bagu pembimbingannya ketimbang mereka yang sudah bersertifikat. Itu memang ada kemungkinan, tetapi mereka yang bersertifikat setidaknya sudah mengikuti training dan  diberikan penge5tahuan yang cukup untuk membimbing sehingga bagaimanapun secara umum mereka yang sudah mempunyai sertifikat dan melalui training yang diselenggarakan untuk itu, akan lebih bagus ketimbang yang tidak bersertifikat.

Apalagi proses pemberian sertifikat juga dilakukan dengan selektif dan  melalui proses yang meyakinkan, sehingga smeua pihak harus memberikan kepercayaan kep[ada para pembimbing ibadah haji yang sudah bersertifikat etrsebut. Kalu dibandingkan dengan sewrtifikasi guru pada  masa yang lalu tentu  berbneda karena  jika sertifikasi guru zaman dahulu ada yng tidak melalui training, melainkan hanya pemberian sertifikat  dengan alsaan tertentu, sehingga kalau guru yang professional tidak lebih bagus ketimbang guru yang belum bersertifikat itu mungkin terjadi.

Namun secara formal, mereka yang sudah bersertifikat tentu akan lebih diakui dan diperlakukan berbeda dengan yang belum.  Artinya kalau nanti persyaratan pembimbing haji harus bersertiofikat, maka bagi mereka yng belum bersertifikat, meskipun mampu membimbing, tetaplah tidak diterima sebagai pembimbing haji.  Aspek formalitas itu memang sangat penting untuk memberikan kepercayaan kepada masyarakat agar mereka menjadi mantap saat menunaikan ibadah di tanah suci.

Karena itu   untuk mendapatkan sertifikat sebagai pembimbing haji haruslah diikuti seluruh rangkaian pelaksanaan trainingnya, termasuk pendalaman materi manasik dan  segala hal yang terkait dnegan  jamaah haji.  Dengan begitu training tersbeut akan benar benar memberikan pengalaman dan pemahaman yang lebih untuk para calon pembimbing haji agar nantinya dapat maksimal saat memberikan bimbingan kepada jamaah dan akhirnya para jamaah tidak akan kecewa, melainkan justru menjadi puas dengan bimbingan yang dijalankan.

Persoalan yang biasa dialami oleh para jamaah di tanah suci itu cukup banyak dan bervariasi, diantaranya ialah jamaah haji mengalami sakit yang mengharuskan dirawat di rumah sakit. Nah, kalau pembimbingnya tidak berani dan tidak ada kepedulian, maka jamaah tentu akan dirugikan.  Demikian juga saat jamaah  mempunyai masalah terkait dengan pemondokan atau dengan muassasah dan lainnya, maka pembimbing harus tampil untuk menyelesaikannya. Untuk kaitannya dnegan ini, memang sebaiknya dan nanti ke depan  pembimbing haji harus mampu menguasai bahasa asing, bahasa Arab ataupun Inggris, sehingga akan menolong mempermudah tugasnya.

Deikian juga jika jamaah  haji hilang karena berbaur dengan jamaah lainnya atau karena bingung dan lain sebagainya, tentu pembimbing harus mampu mengantisipasinya dan memberitahukan kepada semua jamaah bimbingannya untuk mampu melakukan sesuatu yang memudahkan kepadanya untuk mencarinya.  Artinya segala kemungkinan harus dapat diantiosipasi di awal, karena terkladang pada saat ziarah sebagian diantara mereka jkuga  bingung dan tidak mampu lagi mengenali sesame jamaahnya, sehingga kemudian mereka justru melah menjauh dari rombongan.

Pada saat mereka akan berbelanja juga seharusnya diarahkan  dengan baik agar mereka  dapat nyaman dan mendaptkan apa yang mereka inginkan.  Demikian juiga pembimbing harus mampu mengarahkan kepada jamaahnya untuk menghindari hal hal yang dilarang, baik dalam pelaksanaan manasik haji maupun dilarang oleh pemerintah Saudi,  atau dilarang oleh ketentuan penerbangan dan lainnya.  Contohnya seperti  membawa air zam zam yang dimasukkan ke dalam botol lalu dikemas dan dimasukkan ke dalam koper dan lainnya.

Ternyata pembimbingan haji  itu sangat sarat dnegan persoalan, jika kita tidak jeli mengamtinya pasti aka nada kerugian yang dialami oleh jamaah.  Contoh yang sering terjadi ialah bahwa mereka tidak mampu menjaga pakaian ihramnya, terutama jika mengambil  miqat di Bir Ali, karena masih harus melalui jalan panjang untuk sampai ke makkah dan biasanya juga mampi di jalan untuk sekedar minum atau buang air dan lainnya.  Nah, di situl;ajh terletak kerawanan, karena  pada umumnya jamaah haji tidak mengetahui atau mungkin lupa dengan kewajiban menjaga ihramnya.

Di dalam bus saja biasanya mereka sudah melepas  sebagian kain ihram, atau mungkin untuk alasan tertentu kemudian  baju yang dipakai lalu disingsingkan. Tentu ini untuk jamaah perempuan. Belum lagi saat istirahat di rest area untuk sekedar buang air dan lainnya, mereka dengan satainya melingkis lengan bajunya untuk ke WC dan atau bentuk lainnya yang kemudian harus membuka kain ihramnya.  Tentu hal hal kecil ini harus dieprhatikan dan disampaikan sebelum mereka memakai kain ihram sehingga mereka akan mampu menjaganya dengan baik.

Pada saat wukup di Arafah, disebabkan  biasany masih menunggu hingga semalam dan setengah hari sebelum wukuf, kemudian mereka  sembarangan dalam tidur mereka, terkadang  kerudung mereka juga disingkap atau kain ihramnya dibuka dan lainnya sehingga semua itu akan merugikan jamaah.  Terutama pada saat mereka akan berwudlu  dalam upaya menjalankan shalat, biasnaya mereka kemudian dengan santainya melingkis kain bajunya ihramnya sehingga mereka membukan kain ihram yang sesungguhnya tidak diperkenankan.  Para pembimbing harus memberi informasi bahwa cara berwudlu bagi perempuan yang sedang ihram di  Arafah, dimana tempatnya terbuka, maka  cukup[lah dengan membasahi bajunya tersebut, toh akan segera keringa dan tidak perlu membukanya, karena itu menjadi larangan.

Tenryata masih banyak hal hal yang harus diperhatikan oleh jamaah haji, dan itu juga menjadi bagian dari tugas pembimbing untuk mengarahkannya dan sekaligus  memberikan bibingannya supaya semua manasik haji dapat dijalankan dan ditaati dengan baik. Barangkali masih terlalu banyak masalah yang ditemukan selam menjalankan ibadah haji yang belum disentuh oleh tulisan ini, namun masing masing pembimbing tentu sudah menguasai manasik haji sehingga jika ada pengalaman atau kejadian yang menimpa jamaah haji harus segera dapat dilakukan penanganannya dan mengatasinya dengan baik.

Semoga semua pembimbing jamaah haji Indonesia akan mampu menjalankan tugas mereka dnegan baik dan mendapatkan pahala dari Allah swt. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.