ZIARAH SUNAN GUNUNG JATI

Sebagaimana kita tahu bahwa Sunan Gunung Jati itu dikenal juga dengan nama Syarif Hadayatullah. Beliau termasuk salah seorang wali yang berjumlah Sembilan orang yang menyebarkan islam di tanah Jawa dengan sangat sukses. Beliaulah satu satunya walisongo yang makamnya terletak di Jawa Barat, tepatnya di Cirebon. Meskipun demikian nama beliau digunakan untuk  perguruan tinggi yang ada di Jakarta  dan juga di bandung.  Sedangkan perguruan tinggi yang ada di Cirebun malah menggunakan wali lainnya yang tidak termasuk walisongo, yakni Syek Nur Jati.

Tradisi ziarah yang sudah dijalankan oleh UIN Walisongo ialah melakukan kunjungan ke makam semua walisongo, termasuk yang di Cirebon.  Bahkan meskipun tempatnya menyendiri dan arahnya juga berbeda jika ditempuh dari Semarang, tetapi tetap saja  dikunjungi, meskipun pesertanya tidak sebanyak yang ke makam wali lainnya.  Aertinya  untuk yang berziarah ke Cirebon, hanya satu tujuan, sementara yang ke makam lainnya  dapat ditempuh dengan cara menerus, yakni dari Semarang, lalu ke Demak, ke Kudus, Muria, Tuban,  lamongan, Gresik dan Surabaya.

Untuk waktunya juga tentu berbeda, yakni jika perjalanan ke Timur dengan delapan tempat makam harus menghabiskan waktu tiga hari meskipun tidak full, yakni dimulai sore hari setyelah jam kantor hingga  tida hari ke depan.  Sedangkan yang ke barat atau ke Cirebon, apalagi saat ini sudah dapat ditempuh melalui jalan tol, maka cukup setengah hari atau maksimal satu hari saja.  Kalaupun berangkat siang hari, maka sore hari sudah dapat pulang.

Kita juga tahu bahwa di sekitar makam sunan Gunung jati tersebut sampai saat ini masih sangat banyak orang meminta minta yang memang tidak terkontrol, sehingga hamper setiap orang  selalu saja melakukan aktifitas meminta minta, bahkan hingga di atas.  Sebagai sesame orang muslim rasanya kiota menjadi risih dnegan kopndisi dan pemandangan tersebut, karena kita ini seoalh hanya sebagai beban saja terjadap pihak lain, atau bahkan dapat dikatakan kita ini sebagai bangsa peminta minta.

Konon  sudah ada  sebagian pemerintah daerah yang  berusaha untuk memberikan peringatan kepada mereka agar tidak lagi meminta minta di sekitar makam tersebut, dan konon kemudian diingatkan oleh piahk tertentu bahwa  dahulu kanjueng sunan memang  tidak memperbolehkan untuk mengusir para pengemis tersebut.  Mereka harus tetap diberikan kesempatan untuk mengais rizki melalui  kebiasaan tersebut.  Dan kondisi etrsebut memang merupakan  pemberian kanjeng sunan untuk menghidupi mereka.

Mungkin pean kanjeng sunan tidak salah, tetapi tentu bukan dimaksudkan sebagai harfiyah tersebut.  Kita tidak yakin bahwa kanjeng sunan menginginkan rakyat terus miskin dan meminta minta.  Sangat mungkin filosofi dari pernyatan sunan Gunung jati tersbeut ialah jangan sekali kali memotong rizki orang, namun jika kemudian dilakukan pembenahan dan  pengalihan pencaharian mereka dengan memberikan fasilitas semacam tempat untuk berjualan, tentu akan jauh lebih bagus dan para peminta minta tersebut hilang dari  kawasan makam.

Tetapi memang kita tidak dapat menyalahkan siapapun, karena  ada orang yang memahami setiap pernyataan dengan apa adanya sehingga merk atkut jika harus melanggar pesan orang shalih tersebut.  Akibatnya hingga saat ini pemandangan menganai mereka yang meminta minta tersebut akan terus ada dan masyarakat sekitar juga sudha terbiasa dan tidak merasa terganggu. Barangkali hanya para penziarah sajalah yang  merasakan terganggu dnegan keberadaan mereka yang selalu saja meminta minta.

Padahal kita juga menyaksikan betapa  masyarakat yang mau berusaha berjualan, baik itu pakaian, kelangkapan shalat dan juga souvenir dan berbagai macam alat ibadah, ternyata juga laku dan mereka mendapatkan keuntungan yang besar dari para penziarah  yang dating. Lalu kenapa  para peminta minta tersebut tidak terpikirkan untuk melakukan hal yang sama. Mungkin kalau soal modal, pemerintah tentu akan mampu menyediakan dan bahkan meminjami modal sambil juga memberikan pelatihan dan ketrampilan.

Masih ada banyak lapangan pekerjaan yang dapat dibuka di sekitar makam, seperti  pijat capek dan refleksi, berjualan jamu dan berbagai minuman kesehatan, berbagai makanan dan minuman sebagaimana yang dapat kita saksikan di tempat tempat makam lainnya. Bahkan mungkin saat ini makam walisongo yang pengunjungnyan paling sedikit ialah makam sunan gunung jati.  Kalau misalnya ada kahjian khusus dan menganalisanya  tentu akan bagus. Apakah mungkin karena  persoalan  pengemis yang selalu dianggap mengganguu ataukah karena persoalan lainnya.

Tetapi kepastiannya kita juga belum tahu tentangjumlah pengunjung setiap harinya. Kalaupun dianggap paling sedikit sekalip[un tetapi tetap saja  harus dikatakan sebagai banyak karena  penziarah selalu saja salih berganti dating dan pergi dan seolah memang tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan di Cirebon tersebut pengunjungnya tidak saja dari kalangan umat muslim, melainkan juga umat China yang bukan muslim.  Merka mengunjungi makam sunan gunung jati karena konon mereka sangat berterima kasih kepada sunan gunung jati yang telah membantu masyarakat china pada saat itu.

Barangkali makam sunan gunung jati tersebut dapat diperluas dengan membuat area wisata dan perparkiran yang memadahi sehingga  saat ini  yang memang sedang digalakkan wisata religious  akan dapat memenuhi  tuntutan etrsebut. Memang harus dikeluarkan modal yang besar, namun semua harus yakin jika itu smeua dikerjaklan, maka akan mampu mendapatkan pemasukan daerah yang akan membantu  pembangunan masyarakat, khususnya di kota Cirebon dan sekitarnya.

Mengunjungi makam sunan gunung jarti di Cirebon memang banyak kesan yang tidak mudah dilupakan, terutama bagi mereka yang peduli terhadap lingkungan dan kondisi masyarakat di sekitarnya. Himah yang dapat dipetik pun juga tidak sedikit karena  pasti akan muncul banyak ide yang memungkinkan smeua orang dapat mengembangkannya sedemikian rupa dan menghasilkan karya yang bermanfaat.  Tidak harus karya meonumental, melainkan cukuplah karya kecil yang dapat dibaca orang sambil berjalan atau mengendari kenadaraan.

Kalaupun secara  batin kita belum mampu menggali sesuatu yang terkait dengan peran dan keberadaan sunan gunung jati, namun dengan melihat lahirnya kita akan dapat memberikan kesan mendalam tentang sosok sunan gunung jati tersebut. Secara umum memang para wali yang berjumlah sem,bilan tersbeut memang mempunyai kekhasan sendiri sendiri dan cara dakwah yang dipraktekkan juga pasti ada perbedaannya, meskipun secara umum dapat disimpulkan  sama.

Untuk itu mari kita  tulis apapun yang dapat kita  dapatkan selama melakukan ziarah ke makam  sunan gunung jati dan juga  kepada para sahabat lain yang berziarah ke sunan lainnya yang delapan.  Dengan tulisan atas kesan yang dapat kita dapatkan tersebut, tentu akan semakin menambah hazanah  pwengetahuan  masyarakat terkait dengan makam dan peran sunan yang telah  sukses menyiarkan islam di pedalam pulau jawa, yang sebelumnya susah untuk utnuk ditembus oleh para dai sebelumnya.

Semoga saja kita  menemukan kesadaran dalam diri kita dan kemudian kita bangkit untuk menggoreskan  pensil  dalam menuliskan berita apapun terkait dengan perjalanan ziarah walisongo kita, smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.