ZIARAH WALISONGO

Tradisi ziarah bagi sebagian orang Indonesia merupakan hal yang tidak akan pernah dilupakan.  Itu disebabkan  masyarakat Indonesia  khususnya jawa sangat menghargai jasa para pendahulu yang telah mengukir sejarah dan berkontribusi dalam mengukir sejarahnya.  Jika mereka mempunyai orang tua yang masih hidup, maka ziarah tersebut berarti bersilaturrahim kepada orang  tuanya denagn memberikan sesuatu yang membuat mereka bangga. Namun jika mereka sudah meninggal dunia mereka biasanya akan berziarah ke kubuur atau makamnya dengan membacakan doa kepada Allah swt.

Demikian juga dengan para guru dan sanak family yang tentu  mempunyai kenangan manis  dan segudang kenangan yang mampu membuat mereka bangga kepada mereka.  Jika mereka masih hidup, biasanya mereka juga bersilaturrahim meskipun hanya setahun sekali untuk memberikan  kebahagiaan, baik bagi dirinya maupun kepada mereka. Namun jika mereka sudah tidak ada, biasanya  juga menziarahi makamnya atau sekdar mengingat dan mendoakan mereka.

Tradisi baik etrsebut tentunya  harus dilestarikan agar kebaikan yang telah mereka tunjukkan kepada kita masih akan terus membekas dalam diri kita sehingga kita akan tetap menghargai dan ingat dengan jasa jasa mereka. Untuk itu tradisi tersebut memang sudah selayaknya  dilanjutkan bahkan diwariskan kepada anak cucu kita agar mereka tidak pernah lupa dengan jasa pihak lain yang telah diberikan kepada mereka.

Nah, kaitannya dengan ziarah walisongo yang selalu dilaksanakan oleh UIN Walisongo setiap menjelang hari ulang tahunnya, tentu juga ada keterkaitan dnegan hal tersebut. Sebagaimana kita tahu  nama walisongo diambil dari para wali yang berjasa menyebarkan islam di tanah Jawa. Sepak terjang mereka sungguh mengagumkan karena merka mampu mengembangkan Islam dnegan cara damai dan bahkan masyarakat yang sebelumnya berbeda keyakinan, malahan  mendatangi mereka untuk ikut masuk Islam.

Cara yang bijak tersbeut tentunya juga merupakan warisan yang sangat berharga bagi masyarakat saat ini agar tidak mudaha meyalahkan pihak lain dan menghukumi pihak lain sebagai salah atau bahkan sesat. Para wali dahulu begitu  bijak dalam menyamp[aikan pesan pesan agama, sehingga tidak ada satupun pemeluk agama lain yang merasa terganggu  dan atau merasa difitnah dan lainnya. Bahkan tradisi yang selam itu sudah berjalan dan dilaksanakan oleh masyarakat pra Islam pun juga tidak serta merta dibumi hanguskan.

Sebagiannya yang dapat diisi dnegan kegiatan keisalaman, tetap masih dipertahankan dengan memasukkan aspek keisalaman ke dalamnya, sehingga terjadi asimilasi budaya dengan ajaran Islam. Namun harus diingat bahwa asimilasi etrsbeut bukan dalam arti ajaran  aqidahnya, melainkan hanya sekedar menjdaikan budaya dan tradisi yang ada sebagai sarana  untuk menjalankan dan mendakwahkan islam.

Kita tentu mengatahui tradisi wayang yang itu pastinya bukan dari tradisi Islam, namun kemudian diadopsi dan diisikan nilai nilai keislaman di dalamnya sehingga masyarakat yang sudah kadung gandrung dnegan seni wayang masih tetap dapat menyaksikan dan menjalaninya tetapi sudah ada aspek keislamannya yang memang disengaja untuk didakwahkan kepada masyarakat. Demikian juga dengan tradisi mendoakan mereka yang sudha meninggal dunia semacam  nujuh hari, empat puluh hari seratus hari dan lainnya yang kemudian diisi dnegan tradisi islam di dalamnya.

Nah, walisongo yang telah berjasa demikian hebat dalam dakwah islamiyah di Jawa tersebut tentu sangat perlu diteladani dan  beberapa aspek dakwahnya harus terus dikembangkan dan dijadikan sebagai model untuk berdakwah dalam era modern ini.  Saat ini kita sudha mengembangkan dakwah yang menyenagkan tersebut dan juga bijak dalam menghadapi tradisi yang secara lahir bertentangan dnegan ruh islam.  Sebagai sebuah perguruan tinggi islam tentu kita juga akan etrsu mengembangkan cara sebagaimana yang telah ditempuh oleh para walisongo dahulu.

Untuk itu kiranya sangat bijak jika kita mengenang jasa merweka tidak saja melalui pelestarian cara dakwah meeka tersbeut, melainkan juga sekaligus kita berziarah ke makam mereka seraya  mendoakan kepada mereka agar apa yang sudha dimulai oleh mereka akan tetap dilestarikan oleh  generasi mendatang.  Ziarah walisongo  tersebut sekaligus juga sebagai wahana untuk bersakwah kepada masyarakat bahwa  di kalngan perguruan tinggi yang masyarakatnya intelek saja masih mau ziarah, lalu kenapa  merka tidak melakukannya.

Ziarah  merupakan salah satu bentuk penghargaan  kepada para pendahulu yang telah memberikan keteladanan baik kepada generasi berikutnya, dan kita tentu juga berkeinginan  untuk terus melestarikan tradisi ziarah tersebut. Biarlan kalau masih ada pihak yang nyinyir dengan kegiatan ziarah tersebut, karena kami telah bulat melaksanakannya dengan dasar sebagaimana tersebut.  Kita sangat yakin bahwa apa yang kita biasakan etrsebut adalah baik dan akan mendpaatkan balasan kebaikan juga nantinya dari Allah swt.

Kita tentu menyadari bahwa tidak semua pihak setuju dengan tradisi ziarah tersebut, karena memang masing masing orang berhak untuk berpandangan sendiri sendiri.  Kenyataannya juga memang ada  riwayat dari nabi Muhammad swt yang intinya dahulu Nabi pernah melarang ziarah kubur. Itu karena pada saat itu yakni zaman jahiliyyah orang ziarah kubur tersbeut justru meminta minta kepada kubur sehiungga akan dekat dengan kemusyrikan, namun seiring dengan pengetahuan yang sudha menjalar di masyarakat islam, lalu Nabi pun membolehkan untuk berziarah kubur.

Alasan utamanya kenapa Rasul meralat dan membolehkan ziarah kubur ialah karena ziarah kubur tersbeut akan mampu mengingatkan orang yang ziarah tersebut akan kematian atau ingat kehidupan akhirat.  Jika orang mengingat kematian, maka secara tidak langsung dia pasti akan menyadari bahwa suatu ketika entah kapan pasti dia juga akan mati, dan jika orang ingat kepada mati, maka dia akan menjadi baik amaliyahnya dan menjauhkan diri dari praktek maksiat dan semua perbuatan jahat yang diolarang oleh Allah swt.

Jika kenyataannya memang ada perbedaan pandangan mengenai zairah tersebut, maika  kita akan membiarkannya berjalan terus sambil kita terus meyakinkan bahwa  ziarah tersebut sarat dengan makna  penghargaan kepada p[ihak lain yang sudha berjasa kepada kita. Bersikap baik kepada siapapun yang pernah berbuat baik untuk kiat tentu adalah sebuah perbuatan yang baik dan bahkan perlu dilestarikan.  Dengan alasan tersbeutlah kita mantap untuk terus melakukan ziarah walisongo sampai kapanpun.

Tentu juga  banyak hal yang dapat kita peroleh melalui ziarah tersebut, diantaranya ialah kita dapat mengetahui  minat ziarah masyarakat Indonesia, lalu bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar makam serta bagaimana pula  kita menyikapinya. Banyak kejadian yang  relative baru yang kita temukan pada saat kita ziarah tersebut yang kemudian dapat kita jadikan sebagai bahan awal untuk melaksanakan penelitian lebih lanjut.

Demikian juga dengan ziarah bersama sekaligus juga mampu meningkatkan rasa kebersamaan  diantara seluruh keluarga besar kampus. Bahkan sangat mungkin  dalam pelaksanaan ziarah etrsebut akan dapat dilakukan banyak hal dalam menyelesaikan persoaan kampus, atau bahkan  dapat dilakukan beberapa pendekatan untuk meningkatkan kesejahteraan secara umum. Itualh yang dapat kita  hasilnya dan sekaligus dimanfaatkan bagi  kita dalam uapay kita meningkatkan pelayanan dan kualitasnya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.