BAHAYANYA PEMAHAMAN SECARA HARFIYAH

Kita tentu sangat mengenal istilah pemahaman yang harfiyah atau tekstual dan juga sekaligus kontekstual, dimana keduanya sangat berbeda jauh. Nah, kebanyakan orang yang belum banyak mengenal ilmu tentang bagaimana cara memahami sebuah teks, apalagi kalau berkaitan dengan teks agama, maka biasanya akan tergiring kepada pemahaman tekstual yang menyebabkan kesalahan fatal. Jika orang yang baru saja mengenal teks dan bahkan hanya mengetahuinya berdasarkan terjemahan semata, biasanya akan mudah mengkalim bahwa pemahamannya sajalah yang paling benar.

Dalam komndisi dmeikian tidak mustakhil kemudian dia  mengkalim kebenaran dan mudah menyalahkan dan bahkan menganggap sesat bagi siapapun yang tidak sama pemahamannya denagnnya. Tentu ini sangat ebrbahaya, karena sangat mungkin apa yang dipahaminya tersebut tidak sebegaimana yang seharusnya.  Ada banyak pertimbangan dalam memahami sebuah tekls agama, karena terkadang apa yang dapat dibaca secara harfiyah terkadang malah tidak sama dengan apa kandungan yang sesungguhnya.

Tidak heran kalau saat ini kita mengetahui banyak  orang baru belajar agama lalu dengan mudahnya menyalahkan dan menganggap sesat kepada seorang yang sangat ahli dalm bidang agama. Para ulama yang sudah sangat banyak makam garam kehidupan dalam memahami kitab suci atau agama, lalu dengan mudahnya disalahkan karena hanya berdasarakan pemahaman berdasarkan teks dan bahkan mungkin hanya berbekal terjemahan saja. Karena itu sangat  bijak jika orang kemudian mau bertanya tentang ketidak smaan antara pemahamannya dengan pemahaman pihak lain, sebab jangan jangan pemahaman kita lah yang tidak tepat.

Ada ilmunya terentu yang harus diterapkan jika ingin memehami teks agama, karena tidak smeua teks itu dapat dipahami secara harfiyah, melainkan harus memakai pertimbangan ilmu lainnya sehingga akan mendapatkan pemahaman yang tepat.  Kalau kita hanya memahami teks hanya berdasarkan teksnya saja, boleh jadi nantinya kita akan menemukan banyak pertentangan antara satu teks dengan teks lainnya, dan mungkn saja kita nanti akan berkesimpulan bahwa kitab suci kita itu penuh dengan pertentangan di dalamnya.  Ini tentu akan lebih berbahaya.

Namun biasanya hal tersbeut akan lama terjadinya khususnya bagi mereka yang hanya mampu memahami secara tekstual semata.  Justru mereka malah sama sekali tidak menemukan perbedaan dan pertentangan di dalamnya karena mereka memang tidak menekuninya secara seksama.  Hal yang menjadi perhatiannya  hanyalah terkait dnegan eprsoalan tertentu saja sehingga dia tidak akan membaca teks lainnya yang juga sama berada di dalam kitab keagamaan tersbeut. Namun jika  mereka mau mengkaji teks lainnya di dalam kitab tersebut maka sangat mungkin nantinya dia akan bingung sendiri karena banyak menemukan pertentangan diantara satu dengan lainnya.

Hakekatnya teks satu dnegan lainnya secara lafdhiyah memang tampak be4rbeda dan bertentangan, namun jika kita mengetahui ilmunya maka pertentangan tersbeut akan dnegan udah disingkap dan sejatinya tidak ada perbedaan. Para ulama zaman dahului sudah menyusun ilmu ilmu bantu untuk memehami teks agama sehingga dengan ilmu ilmu tersebut seseorang akan terhindar dari kesalahan fatal dalam memahami teks.  Akibatnya juga tidak akan mudah menyalahkan pihak lain yang kebetulan pemahamannya berbeda.

Sikap kedewasaan tersbeut akan terus mengalir seiring dengan kedalaman ilmunya dalam upaya memahami kitab suci atau teks keagamaan lainnya. Mereka sangat mengetahui bahwa  Islam itu begitu luasnya dan juga kitab suci dan teks agama lainnya juga sangat longgar dalam menempatkan agama dan hokum hokum nya. Dengan dmeikian dapat dipahami ada pihak yang memahami teks tersbeut dnegan pendekatan tertentu dan yang lainnya dengan pendekatan lainnya yang smeuanya sama sama dapat diterima, meskipun hasil akhirnya berbeda.

Tetapi selama itui didasarkan kepada dasar yang benar, maka tidak ada diantara para ulama yang saling serang atau saling menyalahkan, melainkan hanya berbeda dalam pendekatannya saja sehingg hasilnya juga akan berbeda pula.  Ini tentu akan berbeda dengan jika orang memahami sebuah teks tidak dnegan ilmu, melainkan hanya dengan  terjemahan saja,  maka yang terjadi adalah siapapun yang pemahamannya tidak sama dnegannya maka dianggap sebagai salah dan sesat.

Kalau kita tengok  dalam alquran, ternyata di sana banyak ayat ayat yang kalau dipahami secara harfiyah menunjukkan kekerasan dan  senderung kepada  kondisi sangat buruk, atau banyak pula ayat ayat yang  dapat dipahami secara satu arah dan itu malahan menuju kepada sebuah kondisi yang ingin dihindari oleh kebanyakan umat manusia. Lalu apakah islam cenderung untuk membenturkan manusia dnegan lainnya sehingga sama sekali tidak berusaha untuk menanamkan aspek kasih dan saying diantara manusia lainnya.

Dalam memahami ayat ayat hokum tentang hokum pidana yang disebutkan dalam alquran misalnya, jika tidak dipahami secara kontekstual justru akan mengesankan  kekerasan dan kekejian dalam hokum Islam tersebut, sperti potong tangan, hokum bunuh bagi pembunuh dan juga penzina mukhshan dan lainnya.  Jika kita memaknai kata jihad dnegan arti harfiyah juga akan  dipahami sebagai perang dengan mengangkat senjata, padahal penfgertian jihad itu sangat beragam yang salah satunya yang ditunjukkan oleh hadis ialah perang terhadap nafsu, dan begitu seterusnya.

Belum lagi ada hadis yang memerintahkan kepada umat dan Nabi yang datangnya dari Allah swt sebagiaman disabdakanoleh Nabi sendiri yang katanya ialah “aku diperintahkan oleh Allah swt untuk memerangi atau mungkin membunuh manusia hingga mereka mau mengucapkan kalimat syahadat”. Tentu ini akan  sangat ebrbahaya jika dimaknai secara harfiyah dan tekstual, padahal maknanya bukan speetri itu melainkan ada makna lain yang lebih santun dan manusiawi yakni perintah untuk berdakwah, tetapi dengan cara yang baik dan bermartabat, bukan dengan memerangi melainkan dnegan cara mengajak dengan kata yang lemah lembut dan juga dialog.

Bagi mereka yang baru saja belajkar tentang agama dan hanya melalui terjemahan terjemahan saja, terkadang  akan lebih keras  dalam melaksanakan syariat dnegan hanya mengandalkan pemahaman yang tekstual saja.  Akibatnya Islam kemudian dipahami sebagai agama yang keras dan sama sekali tidak berperikemanusiaan atu bukan agama yang santun dan menginginkan kedamaian, melainkan hanya ingin kekeraan dan sejenisnya. Ini tentu akan merugikan Islam dan umat Islam yang slama ini sudah berjuang untuk memahamkan pihak lain terhadap ajaran Islam.

Namun kita tidak boleh menyerah dengan kondisi  demikian, karena kta masih harus tetap berjuang untuk menyampaikan Islam yang santun dan rahmat, bukan Islam yang menakutkan dan dianggap sadis.  Menjadi kewajiban kita untuk membuktikan bahwa Islam itu hanif dan sangat menjunjung tinggi kedamaian dan keamanan serta persaudaraan. Jika kesan keras tersebut masih muncul ke permukaan maka itu adalah karena hanya salah dalam memahami dan menjalankan syariat Islam saja, sehingga yang semacam itu harus segera dihilangkan.

Kita sudha mengetahui dan menyadarti berbajhayanya memahami teks secara harfiyah, karena itu kita harus berupaya untuk emmebrikan pencerahan kep[ada siapapun terutama yang masih mempunyai pemahaman tekstual agar mereka mau belajar lebih dalam lagi mengenai bagaimana cara terbaik dan benar untuk memahami teks agama tersebut, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.