SUGUHAN PARA KOMPETITOR

Sebagaimana kita tahu bahwa saat ini Negara kita sedang  ramai dan segera akan mempunyai gawe besar, yakni pemilihan presiden dan waklinya serta pemilihan wakil rakyat dan daerah.  Sudah barang tentu masing masing kontestan akan  berupaya mendapatkan dukungan suara yang banyak dari masyarakat. Akan tetapi  sebagaimana yang sudah lazim terjadi di Negara kita, bukan adu program yang ditonjolkan, melainkan justru sebaliknya, yakni adu argumentasi, bahkan kemudian  ada yang harus mencoba untuk menjatuhkan lawannya.

Pengalaman pada masa yang lalu ternyata senjata menjatuhkan lawan tersbeut justru tidak major, bahkan kemungkinan malahan menguntungkan pihak lainnya, namun aneh memang karena ternyata masih digunakan juga oleh sebagian orang. Saat ini berbagai macam cara telah dilakukan oleh masing masing pihak, seperti memasang gambar dan poster di mana mana lalu juga  berbagai tulisan mengajak untuk memilihnya dan juga suguhan lainnya.  Tidak sedikit pula yang memberikan bantuan kepada masyarakat berupa banguan untuk memperbaiki sarana peribadatan, sarana pendidikan dan  sarana umum lainnya.

Mereka  mungkin dapat berdalih bahwa itu bukan money politik karena itu diberikan sebagai sumbangan untuk sarana peribadatan dan lainnya, namun sesungguhnya kita dapat menyimpulkan bahwa apapun dalihnya  smeua itu pati dalam keangka untuk mendapatkan dukungan suara pada saat pemilu nanti. Namun kelemahan kita ialah dalam hal regulasi yang tidak memungkinkan untuk menindak orang yang menyumbang seperti itu, meskipun sesungguhnya sudah dapat dibaca dnegan  mudah.

Sebabnya ialah pada saat sebelum menghadapi pemilu dan dia tidak ada kepentingan apapun terhadap masyarakat, lalu tuiba tiba  memberikan sumbangan yang  dia sendiri sedang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat misalnya, maka patut diduga bahwa semua yang dilakukan tersbeut adalah sebagai bentuk kampanye dan  anehnya masyarakat juga menerimanya begitu saja, tanpa   membaca  keinginan dan lainnya.

Mungkin sebagiannya  berpikir biarlah dia akan mencalonkan diri dan biar puola mereka membantu kita, toh yang terpenting sarana kita menjadi lebih baik, meskipun nantinya merka tidak terpiliha dan atau akibat lainnya. Nah inilah yang harus diperbaiki di masyarakat kita.  Seharusnya mereka juga peduli terhadap perilaku para calon yang  melakukan hal demikian, karena  nantinya kalau mereka benar benar jadi, tentu mereka akan melakukan apapun untuk mengembalikan modalnya tersbeut, meskipun harus merugikan masyarakat, tanpa diketahui oleh masyarakat itu sendiri.

Sesungguhnya banyak hak masyarakat yang seharusnya dinikmati, baik berupa sarana yang semakin memabaik, atau lingkungan yang semakin baik dan juga jaminan kesehatan dan pendidikan yang semakin membaik dan lainnya. Namun jika hal tersbeut kemudian ternyata tidak didapatkannya, maka  ada kemungkinan  anggaran yang seharusnya digunakan untuk rakyat tersebut harus dialihkan untuk kepentingan lainnya yang lebih menguntungkan kepada para wakil rakyat atau para pejabat.

Ada hal yang sangat kita sesalkan yang saat ini masih terjadi dan bahkan semakin marak, yakni ujaran kebencian yang ditujukan kepada pihak tertentu atau berita berita bohong  bahkan fitnah yang terus terjadi.  Berita hoaks etrsebut memang ada kalanya disengaja untuk disebarkan dengan maksud mempengaruhi masyarakat agar tidak memilih pihak tertentu, terutama kaitannya dengan pilpres. Sedangkan untuk pileg, biasanya hanya terhadap saingan terdekat dan potensial sajalah yang dituju.

Itulah wajah politk kita saat ini, terkadamng tidak ingat kawan sendiri, kalau itu akan berpotensi menjadi sandingan baginya maka tidak segan segan dia akan emmbunuhnya dnegan cara yang sangat sadis, tetapi bukan membunuh dalam arti fisiknya, melainkan karakternya sehingga diharapkan lawannya yang sesungguhnya kawannya tersebut menjadi nyungsep dan tidak dipilih oleh masyarakat.  Politik memang identic dengan sikap tega dari masing masing politisinya, bahkan terlihat amat kejam dan sadis.

Kalau dahulu pertentangan hanya  terjadi antara partai politik, karena persoalan internal partai sudah diatur demikian rupa zsehingga mereka yang dianggap baik dan mewakili akan ditemp[atkan sebagai berada di nomor urut atas, lalu berikuitnya dibawahnya dan seterusnya.  Semua anggota partai akan berusaha sekuat tenaga untuk emndapatkan suara partai bukan suara perorangan. Nah, saat ini tidak dmeikian meskipun satu partai kalau itu menjadi poptensi ancaman, maka tidak segan segan kawan s endiri akan merusak reputasinya.

Bahkan terkadang malah terjadi sebaliknya, yakni kerjasama dan kong kalikong antara partai, semisal dua orang calon wakil rakyat yang satu mewakili daerah  kabupaten /kota yang satunya lagi mewakili daerah propinsi dan bahkan mungkin ada yang lainnya yang menjadi calon nasional, lalu mereka bersepakat meskipun mereka berbeda partai, untuk menjalin kerjaasama memanangkan mereka.  Maksudnya satu orang pemilih dapat memilih  partai dnegan nama calon tertentu, lalu di tingkat propinsi memiliha yang lain dengan nama tertentu dan begitu juga dengan yang ditingkat nasinal memilih yang berbeda partai lagi.

Kondisi demikian benar benar terjadi karena justru orang akan semakin tertarik untuk bekerjasama dengan pihak lain di luar partainya sendiri, karena dianggap lebih menguntungkan ketimbang dnegan orang separtai.  Namun dmeikian masih banyak pula kerjasama yang dibangun sesame  orang separtai untuk mereka yang di tingkat kabupaten/kota dnegan yang propinsi dan nasional.  Mereka melakukan kampanye bersama tetapui memang tidak memasang gambar bersama terkecuali jika separtai.

Belum lagi kondisi saat menjelang pelaksanaan coblosan atau pemilihan, yang biasanya disebut dengan serangan fajar, yakni dengan menyebar uang ke masyarakat dengan  harapan mereka akan memilih pihak yang memberikan uang tersebut. Inilah kemudian kenapa pileg tersbeut menjadi sangat mahal ongkosnya, karena untuk keperluan tersebut disamping keperluan sebelumnya yang berbentuk bantuan dan lainnya.

Mereka yang kepalang basah menceburkan diri dalam pencalonan, baisanya sudah tidak menggunakan akal sehat lagi dan  semua yang dimiliki sanggup untuk dilepas hanya untuk keperluan pemilihan etrsebut. Akibatnya jika nantinya tidak terpilih akan  ada beberapa kemungkinan, yang salah satunya ialah mengaalami stress berat dan harus masuk rumah sakit jiwa. Meskipun ada juga yang tetap kuat meskipun harus mengorbankan kepentingan lainhya yang justru lebihpenting.

Kasus terjadinya stress tersebut bukan hanya sekeedar informasi bohongan , malainkan beneran  karna saat ini saja sudah banyak orang yang tega menjual tanah  yang masih bersama kepmilikannya dnegan saudara saudaranya karena itu merupakan tanah warisan. Atau bahkana da yang berani menggdaikan rumah dan pekarangannya  karena sangat yakin akan menjadi dan terpilih. Tetapi pertanyaannya ialah lalu bagaimana mungkin semua itu dapayt kembali dan bahkan mendapatkan keuntungan jika hanya mengandlkan gaji dan tunjangan yang besarannya dapat kita lihat?

Pastilan ada niat yang tidak baik di benaknya bahwa sat nanti benar benar menduduki jabatan tertentu tersebut, dia akan dapat melakukan sesuatu yang dapat menguntungkan dirinya sehingga apa yang dijadikan modal etrsebut pasti akan dapat kembali, bahkan akan untung besar. Itulah mental masyarakat kita yang masih saja  terpengaruh dnegan mental korup yang seharusnya dibuang jauh jauh. Semoga kondisi dmeikian ke depannya akan semakin membaik seiring dnegan kesadaran  untuk emmperbaiki kondisi Negara dan bangsa ini, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.