PENYUSUNAN KRITERIA KELULUSAN CALON MAHASISWA

Kegiatan penerimaan calln mahasiswa baru memang menjadi agenda rutin setiap tahun, tetapi bukan berarati tanpa inovasi, karena setiap kali diselenggarakan penerimaan calon mahasiswa baru dapat dipastikan akan dilakukan evaluasi menyeluruh, sehingga akan diketahui ke;emahan yang masih tampak dan diusahakan untuk diperbaiki, dengan dmeikian dapat dipastikan setiap tahun akan muncul persoalan baru dan harus ditanggapi untuk perbaikannya.  Salah satu yang kemudian dilakukan perbaikan ialah tentang kriteria kelulusan itu sendiri.

Adaa beberapa jalur penerimaan calon mahasiwwa baru, diantaranya ialah kalur prestasi akademik yang itu dimulai dari pertimbangan nilai raport masng masing siswa, kemudian juga nilai prestasi  individual masing masing siswa, lalu juga prestasi lembaganya, yakni akreditasi lembaganya dan juga pertimbangan lainnya. Nah, ternyata  setelah dilakukan evaluasi, masih dianggap bahwa pertimbangan pertimbangan tersebut masih kurang, sehingga diperlukan penyusunan kriteria lagi sehingga mendekati sempurna dan harapan untuk mendapatlan calon mahaswia yang ideal akan didapatkan.

Salah satu peetimbangan yang akan dijalankan, khusus terkait dengan penerimaan melalui jalur SPAN PTKIN ialah dengan mempertimbangkan kemampuan calon mahasiswa dalam BTQ atau baca tulis alquran. Itu disebabkan masih ditemukan mahasiswa yang sudah terjaring masuk di perguruan tinggi kita tetapi ternyata tidaka mampu membaca alqurn dnegan baik, demikian juga dengan menuliskan huruf alquran.  Tentu ini merupakan persoalan tersendiri karena perguruan tinggi keagamaan yang  seharusnya menjadi pelopor dalam kajian  keislaman, namun untuk sekedar membaca kitab sucinya saja masih belepotan.

Memang akan menjadi sulit jika harus me nhyeleksi secara keseluruhan para calon yang menapai rautsan ribu, karena itu diperlukan cara yang jitu untuk dapat menyaring para calon tersebut, sehingga kita akan mendapatkan mahasiwa yang sudah mempunyai dasar keislaan yang cukup.  Untuk itu jika calon menyertakan prestasi hafalam alquran, maka itu menjadi salah satu pertimbangan untuk kelulusannya. Sedangkan yang sama sekali tidak menhyertakan prestasi dalam bidang tersebut harus dicarikan jalan lain, semacam dilihat nilai rapornya yang terkait dengan pelajaran  alquran dan hadis atau lainnya.

Lalu pertanyaannya ialah bagaimana dengan mereka yang bukan dari madrasah, melainkan dari sekolah umum, baimana caranya untuk mengetahui [restasi mereka dalam bidang BTQ tersebut?  Itulah yanag harus dipikirkan agar penyaringan calon mahasiswa gtersbeut benar benar dapat memberikan manfaat yang besar bagi PTKIN kita.  Sudah barang tentu selain masalah etrsebut masih ada persoalan lain yang   menjadi sangat penting untuk dipertimbangkan, yakni mengenai asal daerah.  Artinya bagaimanapun kita tetap memberikan asas keadilan dan juga pemerataan, karena itu mereka yang berasal dari daerah 3T harus diberikan kesempatan untuk dapat mengakses universitas kita.

Karena itu pertimbangan asal daerah sangat mungkin juga dijadikan salah satu pertimbangan, meskipun tidak mutlak.  Artinya kalua dalam kenyataannya prestasi masing masing siswa tersebut berbeda jauh  dan terpaut sangat besar, maka  asal daerah tidak boleh mengalahkan prestasi akademik yang demikian.  Namun jika hanya berbeda sedikit dan bahkan mungkin relative sama, tetapi salah satunya dari daerah 3T maka harus diprioritaskan yang dari daerah 3T tersebut.

Kriteria yang dicoba untuk dirumuskan bersama ialah kriteria umum yang diberlakukan secara berdama oleh seluruh PTKIN, sementara bagi masing masingnya dapat menentukan kriteia tambahan yang menjadi ciri khas daerah dan PTKIN.  Jika  pada PTKIN yang jumlah calon mahasiwanya tidka terlalu banyak dan ingin memberikan tambahan kriteria tes baca tulus alquran, maka dipersilahkan saja, karena hal tersebut menjadi kewenangan masing masing kampus, asalkan tidak akan mengganggu jadual pengumuman yang sudah disepakati secara nasional.

Kriteria kroteria tersebut bobotnya juga perlu dipertimbangkan ulang, mengingat adanya informasi tentang usaha yang dilakukan oleh ebagian oknum sekolah yang  membuat atau menggelembungkan nilai rapor siswa, sehingga kalua hanya  didasarkan kepada nilai rapor dan mendapatkan ;orsi prosentase terbesar, maka akan dapat merugikan pohak lainnya.  Kita sudha   menyadari bahwa kejadian tresbeut pasti akan mungkin gterjadi karena pada awalnya kita menentukan kriteria berdasarkan nilai rapor, tetapi kemudian kita juga sudah memberikan sanksi ke[ada phak sekolah yang diketahui telah curang dengan menggelembungkan nilai rapor para siswanya.

Karena itu nilai akreditasi sekolah justru harus mendapatkan prioritas lebih banyak, karena itu menyangkut pengelolaan sekolah dan tentu akan berpengaruh kepada  kualitas pembelajaran dan prestasi siswanya.  Para prinsipnya kita memanag harus ekstra hati hati dalam menentukan prestasi siswa calon mahasiswa kita sebab dari  seleksi itulah kiranya kita akan mampu untuk berbuat lebih baik untuk mengelola mereka selanjutnya dan mengantarkan mereka untuk meraih prestasi tanpa dihambat oleh persoalan elementer yang seharusnya sudah selesai sejak awal.

Salah satu yang kita himbau kepada sekolah dan calon mahasiswa ialah  berbuatlah jujur dalam segala hal, karena itu akan menengtukan langkah kita selanjutnya. Jangan karena keinginan untuk mendapatkan  universitas yang diinginkan, kemudian hafus melakukan kecurangan yang hanya akana merugikan banyak pihak, termasuk pihaknya sendiri.  Namun dmeikian hal tersebut hanya dapat kita lakukan dengan menghimbau dana kita harus juga mampu untuk mebuat cara bagaimana mendapakan calon mahasiswa yang benar benar ebrkualotas sehingga merka diharapkan akan mampu menyelesaikan  studinya tepat pada waktunya dan berprestasi  menggembirakan.

Untuk tu pembicaraan mengenai  kriteria kelulusan dalam jalur prestasi tersebut memang harus dirumuskan dengan sangat hati hati dan menyentuh hal yang krusial.  Sementara dalam menentukan kelulusan tes ujian ulis, mungkin kita akan dapat merumuskannya melalui soal tes yang akan kita berikan kepada mereka, yang tentu harus juga mam;pu menyaring mereka  yang benar benar berkualitas dan setidaknya sudha mampu memiliki dasar seprti mampu BTQ dengan baik sehingga tidak harus mengulang sejak awal untuk memberikan perhagtian khusus dalam masalah ini.

Karena itu kita memang harus  banyak melakukan evaluasi terhadap soal tes yang kita sudah utuskan pada waltu yang lalu. Ini menjadi sangat mutlak pentingnya karena saat ini masih banyak leluhan yang dating dari para pimpinan PTI}KIN yang masih menemukan  beberapa mahasiswa yang ternyata masih  belum mampu BTQ tersebut, padahal kita  merupakan perguruan tinggi keagamaan Islam. Lalu kalua seperti ini  jumlahnya menjadi banyak dan mungkin naninya setelah mereka lulus pun juga masih belum mahir BTQ, lalu akan dikemanakan  wajah kita di depan masyarakat?

Barangkali kalua dalam jalur mandiri, masing masing kita dapat membuat kriteria tersendiri dana membuat soal yang kita desain tersendiri yang memungkinkan kita mampu menyerap dan memilakan  mereka yang mampu dan mereka yang masoh  blank terkait dengan BTQ tersebut. Namun dmeikian  persoalan tersbeut memang tidak boleh kita anggap remeh dan enteng sehingga seolah kita tidak pduli. Karena sekali kita abai terhadap persoalan tersebut, akibatnya akan  terasa sangat menyakitkan pada saatnya.  Semoga ikhgtiyar kita untuk mendapatkan calon mahasiswa yang berkualitas, akan dapat kita wujudkan dengan  memperbaiki kriteria kelulusan  tersebut, smeoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.