MEMBUANG JAUH PRASANGKA

Manusia hidup di dunia ini memang sulit untuk terhindar dari prasangka kepada pihak lain, sekecil apapun, karena pikiran dan manusia itu diciptakan untuk menjadi sebuah  filter terhadap smeua yang ada di sekitarnya.  Hanya saja ada yang fungsi filternyat terlalu kuat dan bahkan  melebihi kadar yang wajar, dan sebagiannya ada yang sangat longgar dalam menjalankan fungsi filterisasinya sehingga malah seolrah membiarkan saja appaun yang terjadi di sekitarnya.  Namun hal yang tidak dapat dipungkiri ialah ketika seseorang sudah berhubungan dengan pihak lainnya, maka di situlah akan tercipta perasaan yang terkadang malah cenderi=ung negative.

Dalam ajaran agama kita sungguh sudah disampaikan bahwa  berprasangka kepada pihak lain itu sangat wajar, tetapi jika prasangka tersebut buruk, maka itu menjadi sebuah keburukan karena belum pasti  orang lain tersebut ada niat buruk kepada kita atau tindakan yang tidak menyenangkan kepada kita Bahkan sering dikira ingin berbuat buruk atau menyusahkan, tetapi dalam kenyatananya justru malah akan emmberikan pertolongan, sehingga ada penyesalan di dalam hatinya.

Ketika ada seseorang yang dating dan sebagaimana biasanya  tipe orang yang dengan pakaian yang sedrrhana serta membawa tas kecil adalah mereka yang dating ingin meminta   sumbangan atau setidaknya meminta belas kasihan, lalu kita juga sudah berprasangkan kepadanya bahwa  kedatangannya pasti untuk tujuan yang itu.  Mungkin saja tebakan dan prasangka tersebut memang benar adanya, dan itu  sesungguhnya  juga tidak baik bagi diri seseorang karena sudah emmberikan justifikasi buruk kepada orang lain, meskipun kenyataannya benar.

Namun yang lebih  tragis ialah jika persangkaannya tersbeut sama sekali salah, karena pada kenyataannya orangtersebut dating untuk mengantarkan sebuah undangan pentingn kepada tuan rumah, atau kedatangannya justru ingin memberitahukan bahwa apa yang selama ini diinginkan bersmbut karena ada pihak lain yang  ingin membeli barangnya yang sudah lama ditawarkan. Nah, kalau sudah dmeikian, maka dia pasti akan menyesali apa yang telah diprasangkakan tersbeut.

Demikian juga ketika  seseorang melihat saudaranya yang memang miskin dating menuju rumahnya, lalu dia mengora bahwa saudaranya tersebut akan meminta sumbangan atau mengeluh tentang kesulitannya, dan sejenisnya, namun kemudian yang terjadi ialah malah sebaliknya, yakni dia mengabarkan bahwa karena dia mendapatkan anugrah dari Allah swt yakni tanahnya yang dulu dibelinya ternyata saat ini terjual dengan mendapatkan keuntungan yang besar dan dia berkeinginan untuk menunaikan ibadah umrah dengan mengajak serta orang tuanya dan dia mengharapkan  kepadanya agar dapat dating saat tasyakuran.

Sesungguhnya cukup banyak kejadian yang  tidak sebagaimana mestinya atau sewajarnya, melainkan justru ada hal lain yang tidak disangka sangka.  Karena itu dalam kondisi apapun, kita memang tidak dipebolehkan  berprasangka keada siapapun, terutama berprasangkan buruk, karena jika hal tersebut tidak terbukti, maka berprasangka saja itu sudah cukup untuk mendapatkan dosa. Kita harus mampu untuk berbaik sangka dan selalu optimis bahwa siapapun yang dating kepada kita pasti akan membawa berkah.

Mengembangkan sikap baik itu memang sebuah kondisi yang terus diharapkan terutama oleh  ajaran agama kita, karena dengan begitu kita akan mampu memupuk rasa persaudaraan yang  hakiki, meskipun dalam kenyataannya nanti ada yang berbuat tidak baik kepada kita.  Hal terpenting bagi kita ialah bagaimana kita mampu berbuat yang terbaik kepada siapapun,  sedangkan perlakuan orang lain kepada kita bukan menjadi focus kita. Jika baik maka kita harus lebih bersyukur, tetapi jika perlakuan etrsebut buruk, maka kita juga harus tetap bersabar menerimanya.

Bahkan ketika kita kedatangan tamu petugas yang akan memberikan penilaian atas  kinerja kita atas institusi kita, sebaiknya kita juga tetap optimis dan berprasangkan baik kepadanya, bukan sebaliknya berprasangkan buruk, meskipun kita sudah mendengar sepak terjangnya yang selalu buruk.  Kita belum tahu perubahan dalam diri orang tersebut, karena sangat mungkin sudah ada perubahan dalam dirinya sehingga yang dahulu buruk, lalu berubah secara drastic menjadi snagat baik, sehingga akan mengntungkan kita.

Mungkin kita juga  harus tetap memelihara hubunagn baik dengan pihak lain yang berbuat buruk kepada kita, karena dengan begitu kita dapat ebrharap bahwa dia akan menyadari keburukan yang telah dilakukannya dan kembnali menjalani kebaikan.  Bukankah nabi Muhammad saw selalu berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada pihak yang jelas jelas memusuhi dan berbuat keburukan kepada beliau.  Dan dalam banyak hal justru pada saatnya  orang yang berbuat buruk tersebut menyadari dan berbalik  membela beliau serta menjadi sahabat beliau yang sangat setia.

Kalaupun kita belum memapu berbuat sebagaimana yang diperbuat oleh Nabi, namun  jikakita mau berbuat kebaikan, itu sudah cukup untuk menjadi modal bagi kita bahwa kita ada upaya untuk meberikan kesadaran kepada pihak lain untuk berbuat kebaikan.  Kita harus yakin bahwa apapun yang kita jalani pasti  akan dicatat oleh Tuhan dan  aka nada dampak positif yang ditimbulkannya. Kalau mislanya  belum ada dampak yang tampak  ke muka, akan tetapi kita tetap harus yakin abhwa  sesuatu yang baik pasti akan memunculkan kebaiakn juga terlepas dari waktu munculnya balasan kebaikan tersebut.

Untuk itu sudah satanyalah kita  memuali untuk memerankan diri sebagai pihak yang selalu berprasangkan baik dan menjauhkan dirin kita dari prasangka buruk tersbeut.  Jika kita sudha meninggalkan prasangka buruk, maka kita juga akan dengan mudah untuk mengajak pihak lain  untuk melakukan hal yang baik tersebut. Menyerukan sesuatu kebaikan tentu akan lebih mudah bilamana kita juga sudah menjalaninya dan sebaliknya  akan terlalu sulit bagi siapapun yang akan menyerukan kebaikan tetapi dirinya belum melakukannya.

Mungkin masih banyak orang yang  suka melakukan dan mempraktekkan  prasangkan buruk tersebut, karena memang lingkungan yang tetap membentuknya dan selalu mengajaik untuk itu, namun jika kita sudah bertekat untuk menjauhinya, pasti ada jalan yang dapat kita tempuh  dan pasti akan mampu menjauhinya. Karena  untuk masalah etrsebut sesungguhnya terletak pada kemampuan kita untuk mengendalikan diri kita dan memberikan benteng kepada diri kita terhadap berbagai hal yang pasti akan menyeruak ke dalam diri kita.

Bahkan berprasangka buruk kepada Allah swt saja kita harus menjauh karena Tuhan itu maha segalanya dan pasti kasih saying Nya jauh lebih besar ketimbang murka Nya.  Saat ini saja kita sedang diberikan nikmat yang tidak terkira oleh Nya meskipun terkadang kita tidak menyadarinya. Lantas bagaimana mungkin kita dapat mengembangkan sifat buruk sangka kepada Nya? Hanya mereka yang mengimngkari Nya sajalah yang mampu melakukannya, sedangkan orang orang beriman pastinya tidak akan berani mempraktekkannya.

Pada akhirnya kita hanya dapat ebrserah diri kepada Nya agar kita selalu dijaga  dan diberikan petunjuk oleh Nya agar kita selalu dalam kondisi sadar dan mampu mensyukuri segala nikmat Nya sehingga kita akan tetap selalu berbaik sangka terhadap apapun yang diberikan kepada kita, termasuk jika kita sedang diberikan ujian berupa sakit atau hal hal yang secara lahir kita anggap buruk, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.