MENJADI ORANG BAIK

Untuk menjadi orang baik itu sederhana tetapi terkadang justru sangat sulit, karena ada saja halangannya. Banyak orang yang  mengira dirinya sudah sangat baik, tetapi orang lain justru memandang sebaliknya. Itulah mengapa diperlukan sebuah kondisi yang secara umum memang dianggap baik, bukan hanya untuk kepentingan sepihak saja.  Artinya untuk menjadi baik itu tidak cukup hanya dari sisi pandangannya saja melainkan juga dibutuhkan pandangan pihak lain yang tidak ada kaitannya dengan kita.

Mungkin orang dipandang  baik oleh kawan kawannya, karena dia sangat dermawan kepada mereka, tetapi justru malah sangat pelit kepada saudara saudaranya sendiri atau kepada orang tuanya sendiri.  Sikap etrsebut mungkin diambil karena dia  mempunyai masa lalu yang tidak menyenangkan kepada saudara saudaranya dan juga orang tuanya, sehingga kemudian dia tidak memerlukan mereka dan hanya memerlukan kawan kawannya saja.  Namun orang yang dmeikian pada saatnya pasti akan merasakan betapa dirinya itu sama sekali tidak baik.

Terkadang kita juga menjumpai orang yang secara lahir begitu baik, karena  tidak pernah menyakiti pihak lain, bahkan sering membantu meringan beban pihak lain tanpa pamrih, namun siapa tahu bahwa dia ternyata menyimpan dendam yang begitu besar kepada saudaranya sendiri yang meskipun tampak sangat miskin, tetapi malah dibiarkannya menderita. Lalu di manakah kebaikannya etrsebut? Apakah itu yang disebut sebagai bentuk kebaikan? Tentu kita akan menjawabnya bahwa itu bukanlah kebaikan karena masih ada pihak lain yang tidak diperhatikannya, padahal seharusnya menjadi perhatiannya.

Jika kita ingin mendapatkan gambaran manusia yang baik, maka cukuplah kita berkiblat dan berkaca kepada junjungan nabi Muhammad saw saja dalam kehidupan kesehariannya, baik terkait dengan keluarganya maupun terkait dengan para sahabatnya danmasyarakat secara umum.  Nabi tidak pernah membedakan diantara orang orang tersebut, termasuk mereka yang berbeda keyakinannya, padahal beliau baru saja mengemban risalah untuk menyampaikannya kepada umat manusia.

Secara nalar manusia biasa, beliau akan lebih memperhatikan umat yang mengikuti ajaran risalahnya dan mengabaikan umat lainnya, namun tidak demikian dengan beliau karena  beliau akan tetap menolong siapapun yang emmbutuhkan pertolongannya, sehingga dari sikap baiknya tersebut pada akhirnya banyak orang yang tadinya membecinya setengah mati, lalu bertobat dan menyatakan diri mengikuti beliau, setelah menyaksikan sendiri betapa mulianya akhlak beliau. Wajar jika beliau menyatakan bahwa  beliauy diutus oleh Allah hanya untuk memeprbaiki akhlak yang saat itu bejat.

Betapa mesranya beliau dnegan para isterinya  yang meskipun mungkin secara materi terkadang tidak ada namunbeliau sangat kaya hati, terbukti pada saat beliau mempunyai sesuatu makanan dan snagat dibuthkannya sendiri, namun jika ada orang dating memintanya karena kelaparan, maka beliau pasti akan segera memberikan makanan tersebut kepada orang yang dating tersebut dengan mengalahkan kepentinganya sendiri.  Namun kalau kemudian masih ada sisa makanan ataupun harta  setelah digunakannya sendiri maka  pasti akan segara disedekahkan kepada para sahabatnya.

Dengan dmeikian beliau tidak pernah sekalipun  menyimpan harta atau makanan di rumah beliau semalam pun. Sungguh luar biasa sikap beliau dalam  masalah ini. Bnyak kisah lainnya yang sungguh sangat menyentuh hati, seperti pada saat beliau selalu dimaki dan dibenci oleh orang orang yahudi, termasuk orang yang setiap hari disuapi di pasar yang  tidak mengetahui bahwa dirinya ialah Muihammad Rasulullah saw, bahkan saat beliau sedang menyuapi, orang tersebut masih saja mengomel dan mencaci beliau, tetapi beliau tetap saja dengan tulusnya menyuapinya.

Tentu  kalau kita mencari manusia lain, tidak akan menemukannya, dan itulah kebaikan, karena  baik itu ialah jika  perbuatan baik itu tetap dijalankan dnegan tulus, meskipun dibalas dengan keburukan dan caci maki.  Kalau kita baik dengan pihak lain yang baik kepada kita, mungkin itu wajar dan mudah dijalankan, tetapi kalau kita mau berbuat baik kepada mereka yang selalu memusihi kita itulah kebaikan sejati yang sulit kita lakukan.

Orang mencerca dan mengkriti kepada pihak lain memang sangat mudah  karena kalau hanya ingin mendapatkan alasannya itu masalah mudah, tetapi kalau orang yang dicaci dan dikritik tersebut mampu bertahan dengan kesabarannya dan tidak terpengaruh  dengan cacian dan makian tersebut, maka itu sudah modal yang kuat untuk menjadi orang baik. Jika Nabi dahulu menerima cacian dan hinaan kemudian ada kesadaran dari pihak yang mencaci setelah mengetahui akhlak beliau yang begitu agung, maka harus ada keinginan  dari kita baha mereka yang mencaci dan menghina tersbeut kiranya juga diberikan keasadaran oleh Allah atas kekeliruan mereka.

Meskipun belum cukup menjadi orang baik dengan hanya berbaik kepada pihak lain saja, tetapi kita harus tetap mel;akuklannya, karena itu merupakan setets kebaikan yang mungkin akan merambat kepada kebaikan lainnya.  Kita hanya memerlukan sedikit ketabahan dalam hati untuk tidak dendam atau sakit hari saat menerim cacian dan makian dari pihak lain. Kita harus mampu menempatkan hati kita sedmeikian rupa bahwa makian dan cacian itu urusan mereka sendiri dan kita sama sekali tidak ada urusannya dengan mereka.

Teeorinya memang mudah diucapkan, akan tetapi prakteknyalah yang memerlukan perjuangan maha berat. Para hamba Allah yang salih juga pasti mengalami proses panjang untuk smapi pada pengertian baik, karena setiap orang pasti akan mengalami sesuatu yang  mengikta dalam dirinya.  Saiapapun yang mampu keluar dari keingian egonya sendiri, maka dia itulah yang paling berpotensi untuk menjadi cepat baik.  Sebaliknya mereka yang masih berat dengan egonya sendiri, maka dia akan berat pula mencapai kebaikan.

Pada saat ini mereka yang masih suka mencaci piha lain hanya karena perbedaan persepsi saja atau karena tidak memenuhi keinginan individunya sendiri, lalu dengan mengatas namakan banyak orang, pastinya  mereka itu akan masih jauh menjadi manusia yang baik. Mungkin mereka hanyan akan mengatakan baik itu jika menguntungkan diri mereka dan jika tidak, maka itu bukanlah kebaika. Nah, tipe menudia yang demikian tentu  hanya  akan mendapatkan kepuasan jika nafsu dan egonya idberikan sesuatu, meskipun itu tidak akan menjamin kepuasan hakikinya.

Beruntunglah bagi mereka yang selama ini tidak menampakkan  keegoannya dan tetap diam sambil memohon kepada Tuhan agar dijauhkan dari sifat sifat mementingkan diri sendiri tersebut, dan kemudian juga selalu berusah untuk melakukan sesuatu yang mampu memberikan manfaat kepada banyak orang.  Orang yang demikian sesungguhnya memp[unyai potensi untuk menjadi orang baik dan bahkan sudah dekat dengan kebaikan tersebut.

Kita selalu memohon kepada Allah swrt agar kita dan orang orang terdekat kita serta komunitas masyarakat kita selalu diberikan kesadaran tinggi untuk senantiasa melakukan yang terbaik, bukan saja untuk kepentingan kita sendiri, melainkan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Kita pasti mampu untuk menjadi orang baik, asalkan kita tidak dikalahkan oleh ego dan nafsu kita sendiri yang memang disetir oleh setan yang selalu ingin berbelok kepada keburukan, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.