JAUHI FITNAH

Mungkin semua orang sudah paham tentang bahaya dan akibat fitnah, namun kemudian masih banyak yang tetap melakukannya, meskipun tanpa menyadarinya.  Saat ini, khususnya pada zaman tahun politik ini, banyak pihak yang seolah tanpa berdosa menyebarkan  kata atau kalkmat hoax yang itu sama dengan fitnah. Untuk mengetahui akibatnya,  mungkin  sesekali kita perlu mengbaratkan diri kita yanag terkena hoax tersebut, lalu kita mebayankan bahwa  kitalah yang dituju oleh hoax tersebut, pastinya akan terasa sakit sekali, karena kita yang sama sekali tidak melakukan apapun, namun kemudian dituduh seolah kta melakukan hal hal tidak terpuji yang ada di hoax tersebut.

Seperti itulah fitnah yang terkadang sama sekali tidak kita sadari telah menimpa kepada  saudara kita yang sama sekali tidak bersalah.  Biasanya orang yang sudah terlalu fanatic terhadap seseorang dan kemudian  mampu melakukan apapun demi untuk menyenangkan atau mungkin juga memanangkan orang tersebut dalama kontastasi pemilu.  Padahala kita semua mengetahui bahwa fitnah itu lebih kejam ketimbang pembunuhan. Lalu kemanakah pemahaman kita terhadap pernyataan tersebut? Tidak adakan penyadaran dalam diri kita bahwa kita itu belum selesai menjalani hidup di dunia, dan pastinya masih akan diteruskan  diakhirat nanti?

Bahkan karena ketidak tahuan kita terhadap sesuatu, lalu ada orang yang menyebarkan hoax dan tanpa tabayyun, lalu kita  mempercayai begitu saja, bahan kemudian juga ikut menyebarkannya kepada teman lainnya, maka dosa kita juga sama dengan membuat fitnah itu sendiri, sebab menhebarkan  fitnah itu juga sama besar dosanya dengan membuat fitnah, bahkan terkadang malahan lebih besar dosanya karena fitnah tersebut akan semakin menyebar dan tidak mampu untuk dikendalikannya.

Kita dapat menyaksikan betapa masifnya  hoax di sekitar kita dan itu pastinya sangat merugikan pihak tertentu yang dituju, meskipun mungkin mereka yang dituju tidak atau belum mengetahuinya.  Lalu pertanyaan kita ialah bagaimana mungkin sesame muslim mampu melakukan hal tersebut, padahal kita sudah mengetahui akibatnya dan juga mengetahui dosa yang akan kita tanggung dengan membuat fitnah tersebut.  Janganlah karena kebencian kita kepada seseorang yang karena beda pilihan, lalu kita  melakukan futnah keji terhadap mereka, karena itu pastinya akan merugikan kita sendiri.

Sementara kita yang merupakan kaum intelektual, sepertinya juga tidak terlalu bebeda dengan masyarakat awam yang tidak berpendidikan, karena pengaruh media social yang begitu hebatnya. Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk membendung maraknya hoax tersebut? Dan bagaimana pula kita mampu menyelamatkan umat dari persoalan tersebut?  Sudah pasti kita smeua wajib hukumnya untuk melakukan pencegahan terhadap masalah tersebut, tentu dengan cara yang mampu dilakukan oleh masing masing kita.

Terhadap keluarga, tentu kita harus tegas dan memperingatkan kepada keluarga kita, terutama anak anak yang mungkin akan mudah terseret kepada masalah ini, hanya karena pengaruh lingkungan saja. Bahkan kalua perlu kita harus bertindak tegas terhadap mereka, meskipun tetap dengan cara mendidik dan kasih saying. Lalu terhadap masyarakat lingkungan, kita juga tetap harus  menasehati mereka dengan cara yang terbaik, sehingga mereka akan menyadarinya, dan bukan malah menentang kita.  Ada banyak cara yang dapat dilakukan, semacam pembinaan khusus dengan menunjukkan akibat yang dapat dilihat bial hoax tersebut menimpa seseorang.

Kepada  sahabat di lingkungan kerja, kita juga harus tetap berusaha untuk mengingatkan mereka dengan nasehat yang baik dan bijak, hingga mereka menyadari hal tersebut dan tidak akan melakukannya kembali. Memang tidak mudah untuk memeankan diri sebagai penasehat kepada komunitas yang sudah terpengaruh oleh social media  yang suer cepat informasinya. Tetapi jika kita memang peduli terhadap keselamatan umat, tentu kita akan tetap bersuaha dengan kesungguhan hati untuk mencegah beredarkan fitnah di tengah tengah masyarakat kita.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa hoax terkadang sama sekali tidak disadari oleh masyarakat, sehingga mereka dengan yakinnya kemudian menyebarkannya kepada rekan se group WA dan sejenisnya.  Mereka mengira dengan meberikan informasi tersebut justru akan mendapatkan pujian atau bahkan kebanggan tersendiri atau malahan mengira akan mendapatkan ganjaran, karena telah memberikan informasi penting, padahal apa yang disamaikan tersebut ialah fitnah keji terhadap seseorang, sehingga bukannya pahala yang didapatkannya, melainkan jsutru dosa.

Ketidak senangan kepada seseorang, terkadang juga mampu menyeret seseorang untuk melakukan fitnah yang seolah itu merupakan kebenaran sehingga kemjudian  pihak yang difitnah tersebut mendapatkan cacian dari rekan dan sahabatnya. Sungguh kasihan orang tersebut karena tanpa sepengetahuannya  justru mendapatkan serangan yang sangat tidak nyaman. Padahal kalua kita lihat secara cermat sesungguhnya yang paling kasihan justru ialah mereka yang melakukan fitnah tersebut, karena dia akan terus dibebani oleh dosa dan pastinya nanti di alam akhirat akan mendapatkan bal;lasan yang sangat meberatkannya.

Biasanya yang paling banyak mendapatkan serangan fitnah ialah mereka yang sedanag dberikan amanah memimpin sesuatu; mungkin menjadi presiden, atau gubernur  atau bupati dan lainnya. Itu disebabkan mereka  biasnya mempunyau kewenangan untuk membuat kebijakan yang pastinya berkaitan dengan banyak masyarakat.  Nah, sayangnya  tidak smeua masyarakat akan dapat menerima kebijakan yang dibuatnya, melainkan mereka saling menginginkan keuntungan dari kebijakan tersebut. Meskipun kebijakan tersebut sudah dipertimbangkan dari berbagai sisi dan kemudia diambil sisi yang lebih banyak maslahahnya, tetap saja pasti ada pihak yang merasd dirugikan.

Nah, pihak phak tersebutlah yang kemudian memanfaatkan kondisi etrsebut untuk menyerang dan bahkan memfitnah pemimpinnya agar pada saatnya tidak mendapatkan simpati lagi dari rakyatnya. Apalagi kalau sudah mendekati masa pemilihan dan pergangia  pemimpin, pasti banyak yang mencari cari kelemahan dan kemudian digoreng untuk dijadikan bahan.  Tidak ubahnya  yang terjadi di semua tingkatan, seperti  di pemilihan kepala desa, ataupun  pemilihan pemimpin di lembaga tertentu yang memerlukan suara dari komunitasnya.

Mengingat semua itu kiranya beralasan jika kita harus  menyuarakan dengan lantang tentang penyelamatan umat dari fitnah dan sejenisnya. Tentu masih banyak cara yang dapat kita gunakan untuk menyalurkan suara  pencegahan tersebut, seperti  melalui pertemuan yang sengaja untuk menyampaikan pesan tersebut, atau mellui group WA yang biasa digunakan untuk menhyalurkan hoax, atau bahkan dapat dilakukan melalui anjuran dalam upacara resmi dan cara lainnya.  Pendeknya semua jalur yang memungkinkan kita bersuara, harus kita manfaatkan untuk menyuarakan hal tersebut.

Dengan begitu kita berharap bahwa fitnah dan hoax tersebut akan semakin berkurang dan bahkan pada saatnya akan  hilang dari group yang kita ada di dalamnya.  Kita harus terus mengingatkan bahwa kita itu merupakan kumpilan kaum intelektual yang seharusnya tidak terseret oleh arus kebebasan orang awam yang hanya akan menurunkan kredibiltas kita saja.  Di sam[aing itu kita juga harus terus memberikan pembelajaran kepada umat bahwa kita ini umat muslim yang harusnya menjaga kerukunan dan kebrsamaan diantara sleuruh umat tanpa membedakan satu dengan lainnya. Semoga kita mampu untuk menjalani hidup dengan terus berbuat kebajikan, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.