TUGAS PTKIN KE DEPAN

Kalaau beberapa waktu yang lalu focus PTKIN ialah memperbanyak akses  callon mahasiswa agar mereka dapat bergabung dengan PTKIN, namun saat ini, bahkan sudah beberapa waktu yang lalu sudah mengarah kepada peningkatan kualitas dan mutu lulusan. Namun seiring dengan itu kemudian  kementerian  sudah menargetkan bahwa  penataan menejemen internal perguruan tinggi harus menjadi focus utamanya, yakni melalaui akreditasi, baik program studi maupun APT.

Namun sebelum target tersebut terealisasi, ternyata kementerian saat ini sudah memberikan tugas target tambahan yang tidak ringan, yakni agar setiap PTKIN mampu membuat semacam group di masing masing PKIN  untuk menyahuti atau menanggapi berbagai persoalan umat yang sedang timbul di masyarakat. Tanggapan tersebut tengtu yang bersifat akademik dan dapat meyakinkan semua pihak.  Itu semua sebagai sumbangsih PTKIN kepada bangsa dan negara, I tengah tengah maraknya persoalan di masyarakat. Selama ini meskipun sudah ada  beberapa yang menanggapi persoalan umat, namun  gaungnya belum terasa, karena masih bersifat individual dan belum terpublikasikan dengan baik.

Sesungguhnya memang menjadi kewajiban PTKIN untuk terlibat langsung dan menjwab setia persoalan masyarakat, sebagai bentuk pengabdian yang mesti dilakukan, namun tentu bukan berarti seluruh masalah menjadi tanggung jawab  salah seorang saja, melainkan seharusnya semua  dosen, lebih lebih para professor untuk tanggap terhadap masalah umat.  Selama ini sesungguhnya sudah cukup banyak dosen yang terlibat langsung untuk ikut rembuk menhyelesaikan persoalan umat, hanya saja memang belum terpublikasi hingga tingkat nasional sehingga belum semua  megetahuinya.

Namun jika ini kemudian menjadi focus PTKIN pastinya akan semakin banyak para dosen kita yang  semangat untuk ikut menyelesaikan persoalan umat daan sekaligus juga tanggap terhadap smeua masalah yang timbul di masyarakat.  Selama ini masyarakat juga sudah mengaui peran dari PTKIN kita, khususnya yang terkait dengan persoalan keagamaan dan juga kemasyarakatan.  Pengakuan tersebut tidak perlu ditonjolkan tetapi secara riil keberadaan PTKIN kita memag sudah dimaklumi oleh masyarakat.  Hal tersebut dibuktikan bahwa semua ormas  yang ada, para pengurusnya hamper didominasi oleh  lulusan PTKIN.

Namun satu yang tetap harus dicatat ialah bahwa kita tidak boleh mengendorkan semangat untuk meningkatkan kualitas dan mutu lulusaan kita dengan memulainya  dalam peningkatan  pengelolaan terhadap institusi.  Karena itu focus untuk  terus meningkatkan akreditasi, baik prodi majupun APT tetap harus diupayakan secara maksimal.  Sebagaimana kita tahu bahwa hingga saat ini akareditasi APT belum  maksimal, terbukti hanya beberapa saja PTKIN yang sudah mendapatkan akreditasi A sedangkan selebihnya  baru B dan bahkan C.  Sedangkan untuk akreditasi program syudi juga masih beljum membanggakan.

Akreditasi adalah sesuatu yang kasat mata, karena itu jika serius dalam mempersiapkannya, pastinya akan mampu mendapatkan nilai yang lebih baik. Memag harus ad dukjungan riil dari semua pimpinan agar para pelaku di lapangan  mendapatkan suntikan semangat dan terus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik.  Artinya kalua di tempat lain bisa kenapa di tempat kita tidak bisa, tentu di situlah ada perbedaan yang harus ditemukan dan kemudian dilakukan perbaikan, sehingga pada saatnya akan dapat disesuaikan dan bahkan dilakukan  upaya untuk mengungguli.

Memang secara umum PTKIN kita dari aspek sarpras sudah lebih dari cukujp, dan  ketika kita membandingkannya dengan sepuluh tahun sebelumnya tentu sudah sangat berbeda, karena seluruh PTKIn sudah mempunyai gedung baru, baik melalui pembiayaan dari hutang kepada Islamic development bank maupun melalui SBSN yang hingga saat ini masih terus berproses.  Karena tulah kita dapat memahami kalua kemudian kementerian memfokuskan untuk beralih kepada peningkatan kualias dan mutu, baik dalam proses pembelajaran, majupun mutu lulusan.

Bahkan saat ini kemengterian sudah menginginkan bahwa lulusan PTKIN sudah harus dapat dipetakan dan kemampuan mereka itu dapat diandalkan.  Jangan sampai kita memproduksi lulusan yang tidak mempunyai keahlian yang dibutuhkan oleh masyarakat. Ini memang penting sebagai peringatan, meskipun hingga saat ini lulusan ptKIN sudah berperan banyak di masyarakat.  Persoalan sekulernya saat ini ialah lalu kalua mereka sudah bekerja dan terserap di masyarakat, di segmen masyarakat yangmana mereka itu? Apakah hanya bekerja  dengn gaji UMR ataukah mereka justru terserap dalam segmen yang atas sehingga dapat membanggakan kita semua.

Memang ada tantangan tersendiri bagi kita yang terus menginginkan keidealan, karena  kalua dahlu persoalannya ialah  para alumni PTKIn itu dapat diserap di mana saja untuk kelanjutannya, namun saat ini sudha beralih kepada pertanyaan yakni berapa gaji dan upah para lulusan PTKIN.  Memang kita perlu untuk memeprtanyakan hal demikian, namun kita tidak perlu hanya melihat hal tersebut, karena yang terpenging bahwa mereka sudah mempunyai bekal ilmumpengetahuan yang cukup dan kita anggap sudah mampu hidup dalam percaturan dunia yang sangat kompleks.  Selebihnya barulah kita lakukan analisa sejauh mana mereka mampu berperan lebih di dunianya.

Kembali kepada  keinginan kementeerian bahwa PTKIN harus tanggap terhadap persoalan umat, memang sudah saatnya  bagi yang belum menyentuh persoalan tersebut untuk segera melakukannya, karena dengan beridam diri, kita dapat dianggap sebagai berada di menera gading dan tidak merkyat, padahal tri dharma perguruan tinggi kita mengajatkan agar kkita selalu melaksankaan peran pengabdian kepada masyarakat, disamping penddikan dan pengajaran dan peneltian.  Peran  di masyarakat juga dapat dijalankan melalui aktifitas penelotian yang kemudian hasilnya  disampaikan kepada pemerintah ataupun masyarakat sehingga ada solusi yang baik untuk memulihkan kondisi masyarakat yang sedang terjadi konflik dan persoalan yang serius misalnya.

Memang kita tidak boleh reaksioner dalam menanggapi persoaan masyarakt, melainkan harus dilakukan kajian yang mendalam sehingga apa yang kita sampaikan justru akan menjadi solusi dan bukan malah menambah persoalan.  Kita tahu bahwa ada tipe orang yang suka berkomentar tanpa data dan hanya meramaikan persoalan saja.  Namun sayangnya orang demikan malahan yang lebih dikenal oleh masyarakat, seangkan mereka yang cermat dalam mengalisa persoalan biasanya malah krang diperhitungkan.

Jika kita membentuk  kelompok kajian  persoalan actual di masyarakat, tentu akan jauh lebih brmnafaat baik bagi institusi maupun bagi masyarakat secara luas, hanya saja sayangnya  kita memang kurang peka terhadap isyu masyarakat.  Untuk itulah keinginan kementerian tersebut harus kita tanggapi dengan serius  yakni dengan membentuk kajian  persoalan actual di masyarakat sehingga banyak dosen yang dapat dilibatkan.  Kita juga harus memfasilitasi untuk mempubub;ikasikan hasil kajian mereka sehingga akan diketahui oleh masyarakat secara lebih luas.

Memang secara nyata  persoalan dan focus kita tidak mungkin berhenti pada satu focus saja, melainkan akan terus mengalami perkembangan dan tantangan, sehingga dinamika kita sebaai insan akademik memang tidak boleh surut atau stagnan, melainkan harus terus dikembangkan sedemikian rupa hingga  keberadaan kita  mampu ikut menyelesaikan persoalan  yang dialami oleh masyarakat.  Kita berharap ke depan kita akan lebih mampu lagi untuk memerankan diri sebagai pihak yang memberikan solusi, bukan  sebagai bagian dari masalah, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.