RESIK RESIK KAMPUS

Seharusnya tidak menunggu punya gawe baru kemudian resik resik  kampus, melainkan  setiap saat begitu tampak kurang bersih, harus segera dilakukan pembersihan.  Sebagaimana ketika  terhadap badan kita sendiri, maka meskipun tidak tampak kotor, kita sudah harus memebrsihakn  alias mandi setiap  saat, setidaknya dua kali dalam sehari. Mungkin untuk membersihkan kampus secara keseluruhan, cukuplah satu minggu sekali, namun untuk lingkungan kampus yang mengharuskan membersihkannya setiap hari, juga harus dibersihakn setiap hari, tidak harus menunggu satu minggu.

Sebagai kampus Islam kita seharusnya juga menyadari bahwa Islam sendiri telah memerintahkan kepada umatnya untuk selalu bersih, bahkan dalam salah satu riwayat dikatakan bahwa kebersihan itu merupakan bagian dari iman. Lalu mengapa  kebanyakan diantara kita kaum muslimin malah meninggalkan kewajiban yang ini. Bahkan aa yang sama sekali tidak peduli, meskipun di lingkungannya sangat tampak kotor. Lalu di manakah sensitifitasnya terhadap kebersihan yang menjadi bagian dari keimanan tersebut?

Meskipun kita sudah mengupayakan kebersihan kampus dengan menyewa pem,bersiha dari luar, namun jika kebiasaan kita membuang sampah di sembarang tempat masih kita lakukan, pastinya kampus tidak akan pernah terlihat nyaman.  Tentu kita harus mendorong dan sekaligus memberikan contohnkepada para pegawai kita agar mereka lebih bersemangat dan sekaligus  mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap kebersihan tersebut, sebab jika kita malah berlaku sebaliknya, pastinya mereka akan semakin malas untuk membersihkan.

Memang ada kalanya kita lebih mengerahkan tenaga untuk kebersihan tersebut, terutama pada saat diperlukan, semisal akan mempunyai gawe yang terkait dnegan penilaian kebersihan  kampus kita, semacam akreditasi, maka kita harus mengerahkan seluruh kekuatan kita termasuk diri kita sendiri untuk mengupayakannya, meskipun harus lembur misalnya. Jika lingkungan tertata dengan rapi dan bersih, maka kita akan merasakan kenyamanan berada di dalamnya dan juga sekaligus merakan kebanggan karena mempunyai lingkungan yang nyaman dan asri.

Sebaliknya jika kondisi lingkungan kita begitu parahnya dnegan sampah beserakan dan juga ketidak rapian dalam semua hal, maka kita pasti akan merasakan tidak nyaman dan  bahkan mungkin tidak kerasan berada di dalamnya.  Atas dasar itulah kita mengajak kepada semuanya untuk peduli terhadap kebersihan etrsebut, dan sementara melupakan  semua aktifitas di luar itu.  Jangan sampai kita hanyamengandalkan sataff yang tentu sensitifitasnya terhadap lingkungan masih kurang dibandingkan kita sendiri.

Semua pimpinan semestinya  mengerahkan seluruh kekuatan untuk menangani persoalan lingkungan etrsebut, karena itu memang menjadi tinggung jawab kita dan bukan pihak lain, termsuk juga menata  secara rapi kondisi  di dalam kampus atau di dalam kantor dan ruangan yang ada.  Jika terasakan ada sedikit gangguan saja, kita harus segera memperbaikinya, jangan dibiarkan hingga menjadi rusak, karena kalau itu yang terjadi maka ongkosnya terlalu mahal dan kita juga akan merasakan kerugian yang tidak sedikit.

Biasanya bagi orang yang hanya mengetahui sedikit ajaran agamanya, lalu dia berkomitmen tinggi, maka dia pastyi akan menjalankan apapun ajaran yang diketahuinya tersebut. Lain halnya dengan mereka yang justru sudah banyak mengetahui ajaran agamanya,  lalu dnegan mudahnya mengabaikan ajaran tersebut. Contoh mudahnya ialah tentang kebersihan tersebut. Bagi orang yang hanya mengatahui tentang  keberiahn itu  merupakan bagian dari iman, maka dia akan menjaganya  dengan sangat bagik dan bertanggung jawab atas kebersihan dalam lingkungannya, namun bagi mereka yang sudah tahu banyka mengenai ajaran agamanya justru malah tidak mau melakukannya.

Ini sungguh ironis dalam pengamalan ajaran agama, karena seharusnya mereka yang mengetahui banyak tentang ajaran agamanya seharusnya lebih  bertanggung jawab atas pelaksanaan ajara tersbeut, dan berusaha secara maksimal untuk mengajak pihak lain melakukannya juga.  Kta juga tidak tahu apa sebabnya, karena pada kenyataannya banyak orang yang paham tentang agama, justru malah kurang peduli terhadap kebersihan etrsebut, sehingga nasib kebersihan seolah menjadi menggantung dan tidak tertangani dengan baik.

Barangkali mereka yang hanya mempunyai pengetahuan agama sedikit saja masih takut terhadap dosa jika tidak menjalankan ajaran agama tersebut, sehingga mereka dengan kesungguhannya tetap menjalankan ajaran agama etrsebut.  Sementara itu bagi mereka yang mempunyai pengalaman ajaran agama yang lebih banyak justru malah mempunyai keyakinan yang berbeda, karena masih banyak kewajiban yang nilainya lebih tinggi yang harus diperhatikannya, sedangkan untuk urusan kebersihan itu hanyalah dimaknai sebagai sebuah anjuran atau kesunnahan semata.

Hidup bersihan itu seharusnya bukan sekedar sebagai sebuah anjuran, melainkan harus dianggap sebagai sebuah kewajiban dan akan mempunyai konsekwensi besar jika tidak dijalaninya. Namun karena sudah terbentuk semacam pengertian yang dowarisi dari para guru yang mengajarkannya, kemudian kita akan merasakan kesulitan yang amat jika harus mengubahnya. Jalan satu satunya ialah bagaimana kita mampu menyadarkan kepada generasi muda kita  tentang kebersihan tersebut.

Artinya para generasi tua yang sudah sulit untuk diubah pendiriannya tersbeut biarkan saja, namun untuk generasi muda kita tidak boleh kita biarkan mengikuti jejak mereka.  Kita harus memberikanperingatan kepada mereka bahwa kebersihan itu merupakan sebuah kewajiban yang harus terus dipertahankan. Jika kita mampu meyqkinkan generasi muda tersebut, kita akan mempunyai harapan besar bahwa suatu ketika nanti umat muslim akan  sangat peduli terhadap kebersihan di lingkungan mereka masing masing.

Kampus memang bukan milik kita tetapi kampus merupakan tempat dimana kita  sebagai penghuninya akan selalu menyaksikannya  dan sekligus akan menempatinya, bahkan setiap hari. Bagaimana perasaan kita kalau tempat tinggal kita yang setiap hari kita  huni, lalu kelihatan snagat kotor dan jorok? Pastinya kita akan menjerit dan sama sekali tidak tahan berada di dalamnya.  Untuk itu sekali lagi  mari kita lakukan sesuatu untuk menciptakan kondisi bersih di lingkungan kita, agar smeua pihak yang sedang berada di dalamnya akan merasakan kenyamanan dan sekaligus juga kekerasanan dan kesan yang menyenangkan.

Kalau tidak kita yang melakukannya, lalu kita mengharapkan siapa lagi dan kalau tiodak dimuali sata ini kapan lagi kita akan mampu melakukannya. Kita memang harus berkomitmen untuk memulainya terutama saat ini, yakni menjelang kunjungan para asesor yang akan menilai kampus kita  dari berbagai aspek, termasuk di dalamnya dari aspek kebersihan dan kenyamanan. Apakah lalu setelah itu kita berhenti? Tentu tidak, kita harus terus menerus melakukannya dan  kunjungan para asesor tersebut hanyalah sebagai wahana untuk memulai saja, sehingga ketika sudah tercipa kebersihan yang menyenangkan kita tinggal melanjutkan.

Mungkin kalau kita melakukan pendekatan melalui raiwayat hadis tersebut, kita sudah tidak lagi diguberis, namun jika kita melakukan pendekatan lainnya, seperti keindahan lingkungan dan kesarian, sangat mungkin malah akan masuk karena semua orang tentu menginginkan keindahan dan keasrian. Untuk itu sekali lagi memang semuanya harus dimulai dari diri kita sendiri, dan kita harus mampu menjadikan diri sebagai teladan bagi yang lain. Insya Allah jika demikian kita akan mendapatakn banyak keuntungan, yang salah satunya ialah pahala karena mengajak pihak lain. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.