TERTAWALAH DENGAN SEDIKIT SAJA

Mungkin kita pernah mengetahui adanya ungkapan yang menyatakan “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”, namun itu bukan mutlak.  Artinya tertawa itu sesuatu yang mubah atau diperbolehkan, akan tetapi tidak boleh terlalu yang akan menyebabkan kelengahan atau  kealpaan kita sendiri terhadap kewajiban atau hal hal penting lainnya.  Biasanya orang kalau terlalu banyak tertawa itu akan kehilangan sedikit akalnya atau tertutup akalnya sehingga terkadang malah sering lupa terhadap apa yang menjadi kewajibannya.

Jika kemudian dihubungkan dengan kehidupan sesudah mati di akhirat nanti, pastilah kita akan  lebih banyak menangis ketimbang tertawa, karena banyak sekali hal yang nanti akan menimpa kita mengingat perbuatan kita selama ini.  Kita juga telagh diingatkan oleh Allah swt bahwa kita diminta untuk memperbanyak menangis ketimbang tertawa. Namun bukan berarti kita harus etrus ebrsedih hati, dan hanya tersenyum sebentar saja, bukan begitu, karena peringatan etrsebut hanya sbeuah perumpamaan semata agar kita tidak larut dalam kelalaian.

Di dunia ini kita emmang pantas untuk tertawa, meskip[un tidak boleh terlalu banyak tertawa, karena masih terlalu banyak persoalan berat yang  ada di hadapan kita, khsusunya terkait persoalan kehiduopan akhirat, sehingga dengan dmeikian sebaiknya kita memang cukup sekedarnya saja untuk tertaa, dan justru malah lebih banyak memikirkan  keselamatan kita di akhirat.  Menangis bukan berarti kita harus bersedih hati secara terus menerus, melainkan  hanya kita harus mengingat persoalan akhirat yang sungguh sangat berat

Bergembira di dunia itu merupakan sesuatu yang wajar dan boleh kita lakukan, akan tetapi bukan berarti selamanya kta harus tertawa dan melupakan sesuatu yangbprinsip yang akan menentukan kehidupan kita di akhirat nanti.  Begitu beratnya kehidupan di akhirat, tentu harus dipikirkan apa yang seharusnya kita jalani did unia sehingga akan memudahkan langkah kita di akhirat nanti.  Dengan begitu tentu kita tidak akan sempat tertawa secara terus meneurs.

Tetapi kalau kiota selalu bersedih juga tentu tidak akan baik bagi kita, karena  kesedihan itu akan lebih condong kepada kondisi pasif dan pada saatnya terkadang akan berubah menajdi sakit.  Sudah barang tentu kita tidak menginginkan hal tersebut.  Untuk mendapatkan hasanah di dunai dan hasanah di akhirat kita memang harus pandai mengatur diri dalam hal kehidupan.  Artinya kita juga harus mampu membahagiakan diri di dunia dengan tertawa dan  menikmati kesenangan duniawi, tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa kehidupan yang langgeng itu ada di akhirat.

Karena itu kehidupan akhirat juga harus dipikirkan dan persiapkan sedemikian rupa sehingga kita akan mampu meraihnya dengan sangat bagus.  Keaajiban agama hartus kita kerjakan dengan baik, lalu amaliah yang mampu menunjang kehidupan di akhirat juga harus terus kita pupuk, sehingga kita akan menemukan pikiran kita yang tenang dan  bahkan selalu berkembang menjadi optimis. Dengan dmeikian apapun yang kita tempuh dan upayakan di dunia ini tentu juga harus ada keterkaitannya dengan akhirat.

Memang benar kehidupan akhirat itu harus kita utamakan, namun bukan berarti kita melupakan kehidupan duniawi, sebab keduanya sangat penting bagi kita

Para ulama juga sudah menyatakan bahwa terlalu banyak tertawa akan menyebabkan hati menjadi  keras dan bahkan dapat tertutup sehingga akan menjadi sulit untuk mendengarkan kebaikan. Jika kita mau tertawa janganlah ditahan, tertawalah dengan lepas namun jangan keseraingan dan terlalu, karena  pikiran dan hati kita akan dapat menjadi lalai. Biasa biasa saja.  Demikian juga dengan menangis jangan terlalu keseringan yang hanya akan menyebabkan bengkak mata dan kesedihan menghioasi kehidupan kita.

Menangis  untuk menyesali kehidupan hitam yang pernah kita jalani tentu  akan menjadi baik, namun jangan keterusan.  Artinya mengingat  keburukan yang pernah kita lakukan itu penting agar kita dapat mengoreksi diri dan menyesali serta meminta ampunan kepada Tuhan, namun tertawa itu juga penting, terutama pada sata kita mengingat kenikmatan Tuhan yang diberikan kepada kita. Kita tidak boleh melupakan kenikmatan Allah yang selalu dilimpahkan kepada kita, sekaligus  secara bersamaan kita juga tidak boleh meluipakan sama sekali dosa yang pernah kita lakukan, agar kita seimbang dalam menjalani kehidupan.

Mengingat kenikmatan Tuhan itu akan menjadikan diri kita terbiasa mensyukuri nikmat dan terhindar dari takabur, nemun jika kita tidak pernah mengingat dosa, maka kita juga akan terlalu berani untuk melakukan hal hal yang mungkin dapat menyeret kita ke dalam  dosa.  Untuk itu sekali lagi yang terbaik ialah kita  seimbang dalam mengingat kebaikan dan kenikmatan serta meningat dosa dan perbuatan buruk.  Dengan keseimbangan tersebuit kita sekaligus dapat mensyukuri nikmat dan meminta  ampunan atas segala perbuatan dosa.

Nabi Muhammad saw sendir I juga tidak berkenan jika  para umatnya  terlalu memperbanyak ibadah sehingga melupakan kehidupan duniawi. Pernah suatu ketika ada  beberapa sahabat yang dating ke rumah Nabi, namun Nabi saat itu sedang tidak di rumah, lalu mereka menanyakan  kepada para isteri beliau tentang ibadahnya Nabi, dan setelah mereka diberian jaabannya, maka mereka seolah menganggap kecil dan lalu mereka berkomitmen untuk selalu menjalankan ibadah malam semalaman suntuk, dan pada siangnya mereka akan melakukan puasa selamanya, serta tidak akan menikah selamanya.

Namun setelah Nabi dating dan mengetahui persoalan mereka dan keinginan mereka, lalu beliau mengatakan bahwa demi Allah aku adalah yang paling taqwa kepada Allah, namun aku menjalankan ibadah malam, tetapi aku juga tidur atau beristirahat, aku berpuasa tetapi terkadang juga tidak berpuasa, dan aku juga beristeri.  Tentu  pernyataan Nabi etrsebut diucapkan dengan nada agak tinggi untuk memberikan peringatan kepada para sahabatnya tersebut agar tidak melakukan sesuatu secara berlebihan yang hanya akan menyengsarakan diri.

Kaitannya dengan  kesenangan duniawi seperti tertawa, memang secara khusus tidak ada larangan dan perintah, melainkan kita sendiri seharusnya dapat menyimpulkan bahwa yang terbaik ialah jika kita melakukan smeuanya  secara berimbang atau sedang sedang saja, tidak cenderung kepada salah satu.  Karena itu  jika kita ingin menangis pada saat mengingat dosa  yang pernah kita lakukan, ya manangislah, sebaliknya jika kita ingat nikmat Tuhan dan kemudian kita ingin tertawa, ya tertawalah tetapi jangan keterlaluan.

Lalu apa maksud dengan pernyataan Tuhan tertawalah  sedikit saja dan menangislah yang banyak?. Maksud dari pernyataan etrsebut tentu bukan secara harfiyah kita diminta untuk selalu menangis dan tertawa hanya sedikit saja, melainkan  kita harus tetap mengingat semua perbuatan buruk kita untuk kemudian kita meminta ampunan kepada Tuhan, sebab perbuatan buruk kita tentu  akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan perbuatan baik.

Karena itu jika kita menangis  karena mengingat dosa dan kemudian kita tindak lanjti dnegan meminta  ampunan Nya, pastilah itu jauh lebih bagus ketimbang kita selalu tertawa yang hanya akan menutupi hati dan pikiran kita dari mengingat Nya. Jadi itulah maksud adri pernyataan  tersebut, semoga kita akan mampu  mengingat Allah  untuk selanjutnya meminta ampunan atas segala dosa dan  juga kita tetap bersyukur atas semua nikmat Nya.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.