MAMPU MENGENDALIKAN DIRI ITU HEBAT

Dahulu kita hanya mengenal kata kata  berani jujur itu hebat, lalu muncul lagi  hidup bersiah tanpa korupsi itu hebat, dan saat ini kita harus memunculkan istilah baru lagi, yakni mampu mengendalikan diri itu hebat.  Kenapa demikian? Ya karena berasal dari emosi dan tidak mampu mengendalikan diri itulah kemudian akan terjadi sesuatu yang besar bahkan berpotensi untuk menimbulkan huru hara yang melibatkan banyak pihak.

Jika ada pihak tertentu yang lebih mengandalkan keberadaannya sebagai orang yang hebat, mungkin kaya atau mungkin sedang berkuasa atau mungkin karena sesuatu yang dihormati oleh banyak pihak, lalu tidak mampu mengelola dirinya sendiri sehingga akan mudah tersinggung dengan hanya perbuatan orang lain yang tidak terlalu berlebihan, maka itu akan dapat merusak citra dirinya sendiri, bahkan kemungkinan besar juga akan mampu mengantarkannya kepada sbeuah kondisi yang membahayakan.

Sudah banyak cerita masa lalu, termasuk dalam dongeng bahwa  kebiasaan  yang sudah terpeteri dalam diri seseorang, seumpamaya selal;u saja dihormati dan tidak ada seorangpun yang berani, meskipun hanya memandangnya saja, lalu tiba tiba ada orang lain yang berani membantah kata katanya, pastinya dia akan marah besar dan  te4singgung dengan apa yang dilakukan oleh pihak lain tersebut.  Akibatnya dia pasti akan marah dan melakukan apa yang diinginkannya, tanpa ada yang berani melarangnya.

Namun naas baginya karena pihak yang membantah tersbeut adalah seorang jawara yang baru dating dari daerah lain, sehingga pada khirnya dia harus berhadapan dengan seorang jawara yang pandai bertarung, semdntara dia hanya mengandalkan kebaradaannya saja tanpa mampu berbuat banyak untuk melawan ujawara tersebut.  Tentu saja akhirnya dia harus menanggung malu yang besar. Masih beruntung kalau kemudian rakyatnya masih menghormatinya, karena merka memang tidak mempunyai pilihan lain.

Kita juga tahu bahwa emosi itu dapat menyeret seseorang kepada kondisi yang sangat merugikan dirinya, karena emosi tersbeut tidak akan pernah membimbingnya ke jalan yang baik, melainkan pastinya akan selalu mendorongnya untuk berbuat kesalahan.  Jika  pada saat emosi lalu dia melakukan perbuatan m,elawan hokum yang mengakibatkan  kefatalan bagi orang lain, semacam meninggal dunia, maka  dia akan mendapatkan ganjaran hukuman yang akan disesalinya seumur hidup.

Dalam ksus kecil yang biasa menimpa banyak orang, utamanya pada kehidupan rumah tangga, semisal ketika emosi lalu  membanting barang barang pecah belah, maka  akibatnya pasti akan terasa saat emosinya sudah mereda, karena pasti dia akan banyak kehilanga benda benda yang dipecahkannya.  Bahkan terkadang yang pecah bukan hanya barang, melainkan juga hubungan  rumah tangga, sehingga hubungan  pertalian  pernikahan juga ikut pecah dan sangat sulit untuk dikembalikan.  Kalau ini terjadi, maka  sesal kemudian pasti tidak akan berarti sama sekali.

Kita juga pernah menyaksikan betapa ada orang tua yang tega untuk memukul anaknya sendiri pada saat emosi memuncak, lalu anaknya tersebut harus terkapar dan  harus dilarikan ke rumah sakit, dan masih beruntung karena anaknya tersebut masih dapat diselamatkan. Namun penyesalan tetaplah tidak ada artinya, untuk itu mengendalikan diri itu merupakan hal yang begitu urgen dalam diri kita, dan pastinya akan mampu emnghindarkan dari segala hal buruk yang mungkin menimpa.

Pantaslah kalau nabi Muhammad saw selalu mengingatkan kepada kita selaku umatnya untuk  mampu mengendalikan diri dari marah dan emosi.  Terlalu banyak contoh akibat dari mengumbar emosi yang akhirnya dapat merugiakn diri kita, baik dalam kadar yang  kecil sampai dengan kadar yang sangat besar dan tidak dapat dikembalikan.  Pesan Nabi saw agar kita tidak marah ternyata mempunyai efak yang luar biasa dan karena itu kita memang harus berusaha untuk mengendalikan diri kita.

Mungkin bagi seseorang hal tersebut sangat sulit, namuan  jika kita niat dengan kesungguhan hati, pastilah akan mampu meskipun harus dimulai dari hal hal kecil yang  kita anggap remeh.  Mengendalikan emosi diri memang emmbutuhkan energy tersendiri, karena  kalau kita belum terbiasa untuk menahan kemarahan diri,  maka akan sangat suliot bagi kita untuk dapat menata niat untuk berbuat kebajikan, baik kepada diri sendiri, maupun lebih lebih kepada pihak lain.

Kenapa mampu mengendalikan diri kita sebut sebagai hebat? Ya karena dengan kemampuan tersebut pastinya seseorang akan  dapat menggunakan akal sehatnya untuk melihat dan meyikapi segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya, sehingga  dia tidak akan terjebur dalam  persoalan yang menyulitkan. Jika seseorang  menggunakan akal sehatnya dan mampu untuk melihat dan menyikapi segala hal dengan baik dan bijak, tentu akan membantu dirinya untuk terus berada dalam kondisi yang sadar dan normal dalam menjalankan aktifitas apapun.

Kemampuan untuk mengendalikan emosi dan kemarahan itu identic dengan kesabaran yang memang merupakan salah satu sifat baik yang dimiliki oleh orang orang hebat.  Jika  orang tersebut sudah menjadi dmeikian, artinya dia akan tetap  sabar dan menggunakan akal sehatnya saat sedang mengalami goncangan apapun, dan kondisi tersebut sudah pasti akan membuat dirinya tetap stabil dan tetap dapat berpikir secara jernih dan jauh dari serampangan serta ngawur yang biasanya dialami oleh orang yang tidak stabil.

Kita  tentu dapat melihat betapa hebatnya para Rasul Allah saw yang selalu tabah dan sabar dalam menghadapi kaumnya yang selalu saja membuat ulah.  Coba bayangkan jika mereka tidak tabah dan marah, pastinya pesan yang akan disampaikan kepada mereka pastinya akan hancur berantakan.  Ternyata  kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi berbagai persoalan itu membawa berkah dan ketenangan serta  kejernihan pikiran.  Dengan begitu siapapun yang mampu menahan diri dari marah dan emosi, maka dapat dipastikan dia akan selalu berada dalam kondisi prima, teruitama terkait dnegan aktifitas akalnya.

Sifat ghadalab itu sesungguhnya hanya  pantas menjadi milik Tuhan, karena  Tuhanlah yang maha segalanya, sehingga pantaslah Dia marah terhadap apapun yang dilakukan para hamba Nya yang melanggar aturan yang sudah disampaikan untuk ditaati.  Sementara  sebagai manusia yang banyak kelemahan dan kekurangannya, amat tidak pantas untuk merah ataupun emosi terhadap kondisi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

Bahkan para nabi saja tidak akan marah, terkecuali hanya untujk kepentingan para umatnya, seperti pada saat diingatkan untuk tidak melanggar aturan yang sudah sangat bagus.  Dengan dmeikian kemarahan Rasul etrsebut bukan untuk melampiaskan emosi, melainkan  karena untuk menegakkan hal yang hak.  Kita melihat biasanya marah atau emosi itu dilakukan karena kepentingannya yang tidak terkait dengan sesuatu yang hak dilanggar, [adahal kemarahan yang diperbolehkan itu jika ada sesuatu yang tidak benar lalu diupayakan agar kembali kepada kebenaran.

Untuk itulah sebagai umat muslim memang secara keseluruhan kita tidak patut marah atau emosi, karena kiota masih dalam tahap mementeingkan kepentingan sendir, dan belum  tertaruk untuk memikirkan kepentingan umat secara umum sebagaimana para Nabi saat itu.  Semoga kita mampu menghindarkan diri dari marah dan emosi sehingga kita akan menjadi orang yang hebat dan selalu berada dalam kebenaran. Semoga.

 

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.