SYAFAAT

Barangkali kata syafaat hanya dikenal dalam pergulatan ajaran agama yang dikaitkan dengan posisi Nabi yang akan memberikan  bantuan kepada pihak pihak yang dikehendakinya.  Me4mang wacana syafaat tersebut terkait dengan pemberian pertolongan pada saat tidak ada satu pihak pun yang memberikan pertolongan, karena mengurusi dirinya sendiri saja sudah kuwalahan, karena itu nabi, khususnya nabi Muhammad saw sebagai seorang rasul yang bertanggung jawab atas keselamatan umatnya, kemudian diberiikan  prevelag untuk memebriikan peertolongan kepada umatnya yang  berjasa.

Bahkan kemudian, syafaat etrsebut akan diberikan kepada mereka yang banyak menyebut namanya.  Itu dikonotasikan bahwa siapapun yang banyak menyebut nama Nabi ialah mereka yang mencintainya.  Menyebut nama  atau  biasa disebut sebagai membaca shalawat pada saatnya akan mendapatkan pertolongan dari Nabi.  Memang Nabi bukanlah pihak yang menentukan segala sesuatu terkait dengan nasib umat manusia, namun Nabi diberikan kewenangan untuk sekedar memberikan pertolongan bagi mereka yang berjasa kepada Nabi.

Kaitannya dengan syafaat tersebut, lalu ada juga pihak yang mengembangkannya sedemikian rupa meskipun tanpa dalil yang kuat bahwa syafaat etrsebutb juga dapat diberikan oleh hamba Allah yang sangat baik, yakni para wali Allah, namun kebanyakan ulama tidak menyepakatinya, karena persoalan syafaat, khususnya yang terkait pemberian peertolongan di akhirat nanti, hanya didapatkan oleh nabi Muhammad saw, bahkan para Nabi sebelum beliau pun  juga tidak diberikan kewenangan untuk syafaat tersebut.

Terkadang  sesuatu yang khusus seeprti syafaat tersebut juga diplesetkan maksudnya oleh beberapa pihak menjadi kata  atau  sesuatu yang maksudanya lain sama sekali, walaupun masih semakna secara harfiyah.  Sebagai contohnya ialah jika  ada seorang mahasiswa yang mengikuti ujian dan sudah mengulang beberapa kali masih tetap tidak lulus. Nah, pada ujian yang kesekian kalinya kemudiana diberikan syafaat, sehingga  diluluskan, dan tentu banyak hal lainnya yang dapat diberikan kata syafaat yang maksudnya hanya  belas kasihan semata.

Bahkan pada zaman yang lalu banyak pihak yang meminta syafaat kepada  pihak tertentu untuk meloloskan seseornag yang  ingin masuk di perguruan tinggi tertentu atau untuk meloloskan pihak tertentu yang sedang mengikuti ujian menjadi pegawai di sebuah perusahaan atau lainnya.  Pendeknya kata syafaat tersebut sudah beralih maksud menjadi  sekedar pertyolongan untuk mendapatkan sesuatu, dan biasanya dengan melakukan sesuatu yang tidak semestinya.

Padahal kita tahu bahwa maksud dari kata syafaat itu sendiri sangat baik, yakni memberikan  pertolongan kepada pihak pihak yang telah ebrjasa dan bukan dengan cara meminta sesuatu yang seharusnya tidak menjadi haknya.  Kita yakin bahwa kata syafaat etrsebut akan terus berkembang, terutama dalam hal penggunaannya dalam kehidupan kita sehari hari, karena biasanya kata kata yang berasal dari bahasa agama tersbeut justru malah akan lebih laku ketimbang  kata kata lainnya.  Hanya saja seharusnya kita mampu menjaga mlambang lambing keagamaan agar tetap  asli untuk peruntukannya.

Namun dmeikian kita juga dapat mengerti kalau kemudian  penggunaan kata kata tersebut tidak dimaksudkan sebagai pelecehan terhadap lambing keagamaan, melainkan hanya sekedar meminjam istilah saja yang  memang dimaksudkan hanya sebagai pengambilan kata kata harfiyahnya semata.  Kita juga  mendengar dan pernah juga mengalami penggunaan kata kata yang sesungguhnya berkonotasi dengan persoalan agama dan keakhiratan, namun kemudian digunakan sebagai hal yang biasa saja.

Salah satu contohnya ialah pada saat seseorang sangat marah dan jengkel dengan perlakuan  pihak lain dan lalu  dia mengucapkan kata kata yang mengarah kepada  sifat yang sangat buruk yang dialamatkan kepada seseorang yang membuat jengkel tersbeut, yakni dengan ungkapan jahannam.  Padahal kita tahu bahwa kata jahannam itu merupakan sebutan dan nama sebuah tem,pat penyikasaan di akhirat nanti, yakni neraka yang paling banyak dihuni oleh mereka yang jahat dan melakukan kemaksiatan.

Namun penggunaan kata kata tersebut seolah  sudah dipahami oleh masyarakat sebagai perlambang semata, dan bukan sebagai sesuatu yang sesungguhnya.  Demikian juga dengan kata kata lainnya yang sering digunakan oleh masyarakat kita seperti menyebut seseorang sebagai setan, atau lainnya.  Jika sudah dipahami oleh masyarakat bahwa penggunaan kata kata tersebut  hanya sekedar perlambangan semata, tentu kita akhirnya dapat memakluminya, meskipun kita sebaiknya tidak mengikuti cara cara tersebut.

Memang kemudian muncul istilah lain yang  dimaksudkan untuk membedakan antara kata syafaat yang diberikan sebagai bentuk pertolongan siapapun, termasuk pada saat masih di dunia ini, dengan syafaat nanti di akhirat yang hanya dapat diberikan oleh nabi Muhammad saw kepada para umatnya  untuk terbebaskan dari siksa.  Artinya  saat ini sudah muncul istilah syfaat udhma yang  berkonotasi dengan syafaat nanti di akhirat sedangkan syafaat yang di dunia yang dapat diberikan oleh siapapun kepada pihak manapun cukup dinamakan dengan syafaat saja.

Meskipun demikian sesungguhnya penggunaan kata syafaat etrsebut menjadi tidak tepat jika dikaitkan dengan persoalan agama.  Akan tetapi kita  akhirnya dapat memakluminya karena perkembangan bahasa memang luar biasa cepat dan mengalahkan batas batas kewajaran.  Asalkan kita  mengethui maksudanya, maka penggunaan kata kata teretntu masih dapat dimaklumi dan tidak dihukumi sebagai pelanggaran terhadap kaidah agama.  Kita tentu tidak mau disebut sebagai pihak yang sangat kaku dalam memahami istilah agama dan tidak mau mengerti pekrembangan, karena itu sekali lagi yang harus diperhatikan ialah bagaimana penggunaan istilah agama tersbeut dapat dipahamkan sebagai sesuatu yang lain.

Terkait dengan persoalan syafaat tersebut kita juga dapat memahami, meskipun tuidak harus mengikutinya jika ada pihak tertentu yang kemudian meminta syafaat kepada kita pada saat tertentu, semacam menjelang hari raya atau pada saat mengalami kesulitan dan lainnya.  Tentu kita tidak boleh marah mendengar kata syafaat tersebut digunakan untuk meminta minta belas kasihan, melainkan justru kita harus memberinya nasehat yang baik serta  tetap menjaga hubungan yang selama ini terjalin dengan cukup bagus.

Jika kita harus melakukan perlawanan dengan mereka yang menggunakan lambing lambing  atau kata kata agama tersebut, maka waktu kita pasti akan habis hanya untuk hal hal yang tidak berguna.  Kita tahu bahwa menggunakan istilah agama tersbeut untuk kepentingan lainnya sesungguhnya kuirang bagus, namun kalua itu sudah emnjadi sebuah kebiasaan masyarakat tentu akan sulit untuk dihilangkan. Karena itu cukuplah kita menjaga diri dan  berusaha untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat agar tidak salah orientasi.

Masih banyak hal yang harus kita lakukan untuk sesuatu yang maslahah dan bermanfaat bagi kita dan umat.  Kita tahu bahwa saat ini sudah banyak ajaran agama kita yang terabaikan disebabkan oleh persoalan duniawi.  Perintah perintah anjuran untuk selalu berbuat baik dan saling menolong kepada sesame , saat ini sudah banyak ditinggalkan.  Nah,  untukl hal hal tersebut sebaiknya kita justru menjadi teladaan dalam hal pelestariannya dan pelaksanaannya.  Semoga kita mampu menjadikan diri kita sebagai pihak yang selalu menarik untuk melakukan kebajikan di semua  bidang, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.