SUDAH SEHARUSNYA UMAT MUSLIM MENELADANI RASULULLAH SAW

Terkadang kita berpikir mengapa  banyak uamt muslim yang hidupnya berantakan dan mengalami kesulitan luar biasa dalam menjalani hidup. Apakah mereka itu  malas untuk berusaha ataukah mereka memang menginginklan kondisi  tersebut, atau mungkin mereka hanya  ingin menghayal semata tanpa mau berusaha dan lain kemungkinan. Namun di sisi lain banyak juga umat yang hidupnya tampak mudah, smeua urusannya dapat berjalan dengan  lancer dan seolah hidupnya tanpa masalah.

Sesungguhnya setiap orang pasti mempunyai maslaahnya sendiri sendiri, hanya saja   sebagiannya ada yang pandai untuk menyikapinya sehingga dimata orang lain seolah memang tidak ada masalah sama sekali, tetapi ada orang yang sebaliknya selalu mengeluh dan menceritakan apapun eksulitannya kepada pihak lain sehingga tampak bagi pihak lain bahwa kehidupannya begitu susah dan menderita, serta segala usahanya akan selalu emngalami kegagalan.

Ada ajaran dari nabi Muhammad saw  agar kita selalu membuat orang lain senang meskipun mungkin bagi diri kita masih teras pahit. Jadi jangan tampakkan kesedihan di hadapan orang lain, lebih labih orang lain etrsebut adalah orang tua kita sendiri.  Kita pastinya tahu bahwa orang tua tu pasti menginginkan anak anaknya dapat hidup bahagian sejahtera dan tidak mengalami  kesulitan. Nah jika kita memperlihatkan kebahagianan di hadaopan orang tua, tentu mereka akan merasakan kebahagiaan juga, dan karena itu  sikap etrsebut akan mendatangkan pahala dan  mendapatkan doa dan restu dari orang tua.

Jangan sebaliknya yakni selalu menampakkan kesedihan dan pensderitaan  di hadapan orang tua, meskipun mereka tidak secara langsung akan ikut sedioh, tetapi pasti mereka akan mikir dan merasakan kesedihan karena anaknya tidak mampu hidup bahagia, dan itu berarti menyusahkan kepada mereka,  bahkan mungkin akan berdosa jika itu dilakukan dengan tujuan tertentu, semacam agar mendapatkan bantuan dari mereka.  Kita mengetahui bahwa sebagian orang memang inginnya terus negeles dan meminta bantuan meskipun sudah cukup sukses dalam  hidupnya.

Untuk mendapatkan hidup yang damai sebagaimana dialami oleh nabi Muhammad saw, tentun kita harus mau dan mampu mencontoh beliau dalam kehidupan yang tampakn secara kasat mata.  Mungkin kita tidak akan mampu mengikuti beliau secara keseluruhan, namun jika kita menginginkan  pastinya ada jalan untuk mneladaninya meskipun hanya sebagian sikap saja.  Sebagai contoh kita dapat meneladani sikapnya yang selalu mendahulukan pihak lain ketimbang dirinya sendiri. Suatu saat beliau sedang akan menikmati hidangan makan  dan hanya itu yang beliu punya saat itu, namun kemudian datng orang yang meminta makanan, maka langsung beliau memberikan makanan yang sedianya akn dimakan beliau sendiri.

Secara lebih  jelas kita   dapat mengerti bahwa  jika beliau mempunyai apapun yang sesuatu etrsebut ternyata dibutuhkan oleh pihak lain, maka dengan tulus beliau akan memberikannya.  Nah, persoalannya mampukah kita meniru persis sebagaimana  sifat Rasul tersebut?. Jika kita memang belum mampu persis sebagaimana yang dilakukan oleh rasul, kita juga dapat menirunya sebagian saja, yakni  kita sering sering berbagia kepada pihak lain, meskipun jika kita membtuhkan  sesuatu tersebut, masih kita dahulukan diri sendiri dan keluarga.

Beliau juga tidak pernah marah untuk mengumbar emosi dan kemudian melakukan hal hal buruk, melainkan beliau seslalu akan mengedepankan  kasih saying, apalagi klalau dengan keluarga dan sahabt sahabatnya.  Beliau memang pernah marah tetapi untuk urusan yang hak dan menginginkan agar para umatnya tidak tercebur dalam kemaksiatan tersebut atau  umatnya tidak melakukan hal memberatkan umat lainnya.  Sebagai contoh ketika beliau mengingatkan umatnya tentang bahayanya bid’ah, beliau sampai seperti marah untuk mengingatkan agar umatnya tidak melakukan bid’ah Karen semua bid’ah itu tersesat.

Demikian juga beliau pernah marah karena dilaopri oleh umat muslim yang kebwratan  pada saat diimami oleh seseroang karena  terlalu lama dalam rukuk dan sujud, padahal mereka itu sangat  perlu dan juga ada yang mengajak anak kecil yang menangis dan  orang sangat tua. Lalu Nabi mengatakan dengan nada marah agar semua orang ketika mengimami shalat atau menjadi pemimpin harus mengerti apa yang dirasakan oleh makmum atau umatnya, karena diantara mereka ada yang sudah tua, ada yang mempunyai hajart dan lainnya. Namun jika shalat sendirian silahkan untuk memperpanjang shalatnya sesuai dengan keinginan dan kekuatannya.

Nabi Muhammad saw juga tidak pernah mendendam kepada siapapun juga, termasuk mereka yang selalu menyakiti beliau atau selalu mencaci beliau.  Beliau tetap akan emmperlakukan kasih sayangkepada siapapun, buan hanya kepada keluarganya dan sahabatnya saja melainkan juga kepada siapapun. Nah, mampukah kita meniru sikap tersebut? Jika kita belum mampu mengikuti seluruhnya, cukuplah kita mengikuti sebagiannya, yakni kita harus mampu memaafkan smeua orang yang bersalah kepada kita, lalu juga membuang seluruh rasa benci dan dendam dalam hati kita.

Tentu masih banyak lagi sikap nabi Muhammad saw yang semuanya akan sangat bagus jika kita tiru dan praktekkan dalam kehidupan kita.  Namun sayangnya  diantara kita masih banyak pihak yang justru jauh dari sikap yang diteladankan oleh beliau. Masih banyak orang yang tidak peduli kepada pihak lain, termasuk keluarganya sendiri, sehingga yang terjadi ialah  permusuhan dan tidak saling membantu.  Aatau  adanya sebagian orang yang berkinginan hidup sendiri tanpa  peduli kepada pihak lain, dan semua yang ada  akan dikuasainya sendiri dengan berbagai cara yang dilakukan.

Kalau kita mengakui sebagai umat nabi Muhammad saw seharusnya kita berusaha untuk menelaaninya, bukan malah menjauh dari sifat sifat beliau. Kita sangat yakin jika banyak umat muslim meneladani sikap beliau, pasti  dalam perjalanan hidup tidak akan pernah kita temukan kesulitan yang tak mendapatkan jalan keluar. Kita pastikan bahwa  persoalan apapun yang muncul dalam kehidupan kita pasti dengan cepat akan  selesai dan  seluruh umat  akan merasakan kehidupan yang nyaman dan sejahtera, meskipun bukan berarati harus banyak dan berlimpah harta.

Kita akan jauh lebih sdih jika menyaksikan para tokoh yang seharusnya menjadi  pengamal keteladanan Nabi  namun malah   sangat jauh dari keteladanan beliau. Kalau yang belum mampu meneladani Rasul ialah rakyat jelata yang memang kurang berpendidikan, maka itu mungkin kita memakluminya dan  masih ebrharap pada anak anaknya, namun jika sudah mereka yang menjadi tokoh tetapi justru malah mengingkari sifat sifat beliau, tentu ini merupakan pukulan yang paling berat yang kitabrasakan. Sampai saat ini kita masih menyaksikan banyak tokoh yang tidak dapat dijadikan teladan untuk umat.

Barangkali sudah saatnya kita memulai garakan untuk meneldani sifat sifat Nabi, terutama yang memungkinkan dan berkaitan dengan hubungan  diantara sesame manusia.  Kita sangat yakin bahwa jika ini sudah dpaat dijalankan maka  jalan  menuju kesejahteraan  sudah dekat dankita akan mampu merasakan betapa indahnya dunia yang sedang kita huni ini.  Sem,oga seluruh tokoh dan ulama kita  semakin merasakan hal ini dan kemudian tergugah untuk menggerakkan masyarakat agar mampu meneladani nabi Muhammad saw, serta menjadikan diri mereka sebagai  pengawal dan pelaksanan keteladanan tersebut, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.