KEKUATAN ITU ADA PADA KEBERSAMAAN

Jika kita mencermati sejarah umat terdahulu, salah satunya kita pasti dapat menyimpulkan bahwa  mereka yang selalu bersama dalam hal apapun, biasanya sangat kuat dan tidak mudah untuk dikalahkan, karena memang sesungguhnya kekuatan itu terletak pada kenbersamaan, bukan pada kesendirian atau keterbelahan. Ibaratnya jika kita mengenal sapu lidi, jika sendirian maka kekuatan satu lidi tidak akan mampu melakukan apa apa dan kalaupun bisa maka itu hanya terbatas sekali, namun jika dibersamakan dalam sebuah ikatan tertentu, maka dia akan menjadi kuat dan dapat melakukan  segala hal yang memungkinkan.

Demikian juga keberadaan umat manusia selalu saja akan  dapat dinilai dari kebersamannya. Jika sebuah umat selalu saja ceksok dan tidak mampu bersatu, maka  musuh akan dengan mudah mengalahkan mereka dan mereka smeua akan menjadi  sebuah umat yang rapuh bahkan sama sekali tiodak mampunyai daya apapun.  Tentu berbeda dnegan sbeuah umat yang kokoh dalam menjal;in persatuan, maka musuh yang bagaimanapun pasti akan grogi dan akhirnya akan meyerah bahklans ebelum mereka bertanding.

Kebersamaan tersebut akan semakin terasakan kekokohannya jika tidak hanya dilihat secara lhir semata, melainkan juga jiwa dan keyakinan mereka.  Dapat kita lihat dan bayangkan betapa kuatnya  pada sahabat Nabi saat itu yang menyatu dengan ikatan iman yang kuat, sehingga mampu menghalau musuh yang begitu dhasyatnya.  Bahkan digambartkan  satu orang dapat mengalahkan  beberap orang, karena keyakinan yang kokoh dan perstuan yang luar biasa kuatnya.

Bangsa kita pada zaman p[enjajahan juga  dapat kita jadikan sebagai tamsil, yakni pada saat bangsa belum bersatu dan masih sendiri sendiri dalam melawan penjajah, maka dengan mudahnya para penjajah  memenangkan setiap pertempuran, namun ketika semua  anak bangsa  satu tujuan dan  berjuang bersama dalam mengusir penjajah, meskipun dengan peralatan perang seadanya, akhirnya mampu mengusir penjajah yang dilengkapi dnegan peralatan yang  cukup bagus.

Ityulah mengapa  pada saat itu panjajah mengnakan politik pecah belah, yakni devide et empera yang terkenal itu, sehingga masing masing kelompok masyarakat tidak mau lagi bergabung dnegn lainnya sehingga  akan mudah bagi penjajah untuk mengalahkan dan melumpuhkan kelompok masyarakat etrsebut. Sesungguhnya  teori tersbeut sudah diketahui oleh masyarakat bahkan hingga saat ini  semua orang juga memehaminya, namun kemudian kalau  digerus oleh kepentingan  jangka pendek tertentu, akhirnya mereka lupa dengan teori tersebut.

Rupanya kita sangat mudah untuk diadu domba  oleh pihak lain sehingga kita sibuk mengurusi perbedana diantara kita sendiri, tanpa menyadari bahwa itu hanya sebuah  taktik dari pihak lain untuk melemahkan kita. Mengapa kita dapat lupa tentang hal etrsebut?  Entahlah jawabannya, karena pada kenyataannya kita sangat mudah untuk diadu domba dengan pihak lain yang sesungguhnya masih saudfara kita sendiri.  Seharusnya sebagai hamba Tuhan yang selalu ingin kemaslahatan, kita harus lebih memikirkan hal hal besar dan bukan hal kecil yang hanya akan merugikan kita sendiri.

Coba kita perhatikan tingkah laku sebagaian diantara kita yang suka dengan membuli kawan sendiri hanya untuk kepeentingan sesaat, bahkan terkadang harus mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Kita yakin jika mereka kemudian mau sedikit meluangkan waktu untuk merenung tentang apa yang sudah mwereka lakukan, pastinya mereka akan menyesal dan menertawakan diri mereka sendiri, betapa bodohnya mereka  begitu mudah diperalat oleh nafsu dan pihak tertentu sehingga melupkan tuigas mereka sebagai khalifah Tuhan di bumi.

Bahkan dalam kehidupan yang lebih sempit saja semacam dalam sebuah lembaga, kita juga dapat menyaksikan betapa ada saja pihak pihak yang tidak mampu berpikir lebih jernih untuk menyatukan langkah dan merencanakan pengembangan dan peningkatan kualitas.  Kita masih saja berkutat dalam persoalan yang sangat  remeh dan sama sekali tidak berkitan dengan persoalan yang substansial. Maka benar apa yang selama ini diinformasikan oleh Allah swt bahwa musuh abadi kita ialah iblis dan setan yang memang selalu menggoda kita dari berbagai arah sehingga kita  akan habis sendiri.

Setan pasti akan memasukkan godaan tersebut lewat nafsu yang sudah ada di dalam diri kita masing masing. Nafsu yang memang secara lahir tidak kelihatan etrsebut akan menjadi sesuatu yang maha dahsyat jika kita tidak mampu mengendalikannya.  Betapa tidak nafsu tersebut akan dengan mudah menjadikan seseorang  menjadi pihak yang paling rendah diantara yang lain. Nafsu juga akan mampu menarik seseong menjalani kehidupan yang tidak pernah dibayangkannya selam hidupnya.

Pantaslah kalau dahulu nabi Muhammad saw pernah menyataklan  setelah pulang dari peperqngan bard yang begitu dahsyatnya, yakni dengan kata beliau yang mengagetkan banyak sahabat, “kita baru saja pulang dari peperangan kecil dan menuju peperangan yang besar”.  Tentu para sahabat kaget karena perang yang baru saja dijalaninya tersbeut merupakan peperangan maha dahsyat, tetapi dikatakan sebagai perang kecil dan  akan menghadpi perang yang lebih besar.  Kebuingunan para sahabat etrsebut akhirnya terjaab oleh pernyatan Nabi sendiri, yakni perang besar itu ialah perang melawan nafsu.

Kita tentu sangat merindukan kondisi dimana seluruh umat menyatu dalam tujuan yang sama. Kal;aupun ada perbedaan diantara mereka, maka itu dapat diselesaikan dengan mudah tanpa harus mengorbankan  apapun.  Saling memahami itulah kunci berikutnya yang harus terus dipupuk  dan dimiliki oleh setiap umat.   Cara yang paling ampuh ialah dengan selalu mengingat tujuan besar bersama yang harus diraih.  Dengan selalu mengingat tujuan besdar yang diemban, pastilah kalau ada riak riak kecil akan diabaikan dan tidak perlu dibesar besarkan.

Para pendahulu kita juga sesungguhnya sudha membuat sebuah  slogan yang mampu menyatukan umat, yakni dengan pernyatan bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh.  Hanya saja  saat ini  slogan tersebut banyak dilupakan oleh masyarakat kita sehingga banyak diantara umat kita justru lebih mengembangkan perceraian dalam banyak aspek. Bahkan terkadang malah mencari carai kesalahan dan kelemahan [ihak lain agar  dapat menjadikan dirinya sebagai yang terlihat kebaikannya.

Rupanya mereka lupa bahwa dengan  begitu bukannya  akan terlihat kebaikannya, melainkan justru akan kelihatan kejelekannya dan kelemahannya sendiri. Umta menjadi sangat rapuh dan mudah untuk diadu domba serta sulit untuk diajak untuk bersatu  demi cita cita besar yang diemban bersama.  Jika sudha begitu tentu akan sulit bagi siapapun untuk mengembalikan kondisi normalnya dan  untuk itu harus ada upaya yang supra  atau ekstra yang  harus dikerahkan sehingga umat mampu menyadari tujuan utamanya tersebut.

Kembali kepada masalah aal yakni  kekuatan itu berada di kebersamaan, maka  mari kita selalu ingatkan diri kita sendiri masing masing bahwa dengan merangkai kebersaman, pasti kita akan menjadi lebih baik dan lebih kuat, namun sebaliknya jika kita masih berkutat dengan perbedaan yang ada diantara kita, pastiknya lama lama kita akan melemah dan akhirnya sama sekali rapuh tidak berdaya. Mari kita berpikir logis dan  sehat untuk meraih kejayaan bersama.  Semoga  Tuhan akan selalu memberikan pemahaman dan kesadaran bagi kita untuk tujuan tersebut . amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.