KELEMAHAN MANUSIA

Mengharapkan manusia selalu benar dalam setiap langkahnya tentu tidak dilarang, tetapi kalau kemudian  mengharuskan seluruh aktifitasnya  selalu benar, memang terkadang tidak  dapat direalisasikan. Kalaupun maksudnya  menjalani kebajikan, tetapi karena kelemahan yang ada pada diri manusia, terkadang justru malah sebaliknya.  Untuk itulah sebagai manusia kita harus memahami kondisi kemanusiaan kita sendiri, sehingga pada saatnya kita akan tetap menghargai  kemanusiaan siapapun.

Manusia inginnya melaksanakan smeua hal dengan sempurna dan  tuntas, namun terkadng kita mendapati kondisi yang sebalinnya, yakni pekerjaan yang akan kita jalani sampai tuntas ternyata terhalang oleh kondisi kita yang sakit atau  adanya keperluan lain yang lebih urgen, sehingga apa yang kita inginan tersebut ternyata tidak mampu kita jalankan. Manusia memang hanya mampu merencanakan, tetapi kenyataannya semuanya terpulang kepada kekuasaan Tuhan.  Kalaupun manusia menginginkannya sedemikian besar, tetapi jika Tuhan tidak berkenan, maka  pasti kita tidak akan mampu menjalaninya.

Hal terpenting bagi kita ialah  jika kita mampu memehami  semua hal  dari sisi konteks yang melatar belakanginya.  Sebab boleh jadi ada orang yang berniat memberikan sesuatu kepada seseorang tertentu, tetapi dalam pelaksanaannya ternyat keliru kepada pihak lain, maka jika kita mampu membaca kontekn=snya  ityulah yang seharusnya kita percaya, bukan harfiyah yang dilakukan, karena boleh jadi ada kesalahan dalam tindakan atau pengucapan dan lainnya.

Contoh kongkritnya ialah pada saat kiyai kharismatik mbah Maimun Zubair kedatangan salah satu capren joko Widodo, yang kemudian beliau mendoakan dengan sangat jelas tujuannya, yakni semoga  orang yang disebelah saya  dijadikan sebagai presiden untuk kedua kalinya dengan kelebihan suara yang banyak, tetapi kemudian beliau keliru menyebut nama Prabowo, alias capres lainnya. Konteksnya pastilah bukan Prabowo, karena  yang sata itu dating dan berada di samping beliau adalah pak Jokowi dan  untuk menjadi presiden yang kedua kalinya.

Sesungguhnya peristiwa tersebut tidak perlu mencuat dan dibesar besarkan karena konteksnya sangat jelas meskipun salah sebut nama. Tetapi karena ini musim politik, kemudian hal tersbeut digoreng sedmeikian rupa sehingga menjadi hangat dan viral. Muncullah  kata kata yang tidak semestinya, semacam broker doa, atau kata lainnya yang semakin membuat bangsa ini tidak rukun.  Bagi santri yang paham terhadap kontekls tentu tidak menjadi persoalan, karena sabqul lisan itu merupakan hal biasa bagi setiap manusia, apalagi kemudian mbah Maimun juga sudha meralatnya.

Terkadang kita juga salah menyebut nama anak kita sendiri saat kita akan menyuruh mereka untuk belajar atau sekedar  istirahat dan lainnya, dan itu tentu tidak menjadi berita hebioh, karena  tentunya smeua pihak memahami kondisi etrsebut. Kita memang merindukan semua manusia mampu memahami  apapun yang tampak salah yang tidak disengaja  sehingga mampu memaafkan kesalahan pihak lain tersebut.  Kalau hal tersbeut dapat terkondisikan, sudah barang pasti kesejukan akan tercipta dan kita akan mampu hidup dengan nyaman.

Manusia dnegan segala kelebihan yang diberikan oleh Tuhan, tentu juga sekaligus membawa kelemahan, yang terkadang tanpa diduga akahn mencuat dan mengakibatkan kerugian baginya.  Untuk itu kehati hatinya memang menjadi sebuah hal yang nioscaya, terutama bagi mereka yang mampu melakukannya.  Namun jika karena alamiah, seperti factor usia, lalu manusia banyakmlupa atau salah dalam mengucapkan sesuatu, maka itu seharusnya  kitlah yang harus mampu memaafkannya dan bukan sebaliknya malah mempersoalkannya.

Sehebat hebatnya manusia, pasti dia akan mempunyai kelemahan karena sifat manusia yang memang lemah, karena yang sempurna dan tidak dapat salah ialah Tuhan.  Selama  masih manusia pasti  sekali waktu akan tampak kelamahannya dan itu harus dimaklumi, asalkan bukan secara terus menerus, terkecuali kalau memang sudah  pikun dan tidak mampu lagi berpikir dengan baik.  Ada kalanya orang pikun  selalu saja merepotkan, karena  sesungguhnya  baru saja makan misalnya, tetapi selalu saja belum makan dan lainnya.

Jika  kemudian kita membicarakan kesalahan menyebut nama oleh mbha maimun Zubair beberapa waktu yang lalu dijadian sebagai sesuatu yang luar biasa, tentu kita akan menuai beberapa hal yang memalukan diri kita sendiri.  Hal etrsebut dikarenakan bahwa mbah Mun masih cukup hebat daya ingatnya dan berpkir dengan sangat bagus, sedangkan soal kekeliruannya menyebut nama itu sangat manusiawi. Kita tentu akan sangat rugi kalau kemudian menuduh beliau dengan tuduhan yang bukan bukan karena neliau seorang ulama besar dan sangat dihormati oleh banyak ulama lainnya.

Terlepas dari dukung mendukung capres yang ada  jika kita merenungkan persoalan  keplesetnya lisan mbah Mun tentu kita juga pasti akan akan merasakan kerugian yang cuku besar karena waktu kita yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih baik, ternyata akan habis untukl gal hal yang tidak berate sama sekali, apalagi kalau kemudian diikuti dengan kata kata nyinyir yang justru akan menyebabkan penyepelean kepada ulama, pastinya akan mempunyai efek negative yang terasakan.

Namun jika kita sepakat  tentang kelemahan yang ada pada diri setioap manusia, maka yang harus kita lakukan ialah saling koreksio diri masing masing dan kemudian mengambil sesuatu yang terbaik dan memberikan manfaat bagi banyak orang. Kasus di Sarang tersebut sesungguhnya tidak mempunyai efek apapun, terkecuali hanya  bagi pihak yang membesar besarkan saja.  Sabqullisan itu hal yang lumrah dan dapat terjadi kepada siapapun.  Hanya saja persoalannya ialah kalau kasus tersebut sudah jelas maksudnya karena akan siyaqul kalam yang menyertainya sehingga siapaun pasti akan memahami.

Ketika kita berbicara mengenai kelemahan manusia pastilah banyak sisi yang bisa kita ambil dan sebagai contohnya. Jika kita menginginkan pergi beribadah umrah misalnya, lalu pada saat keberangkatan, ternyata  tiba tiba sakit menyerang, pastilah keinginan etrsebut akan digagalkan, meskipun untuk waktu yang akan dating dapat diusahakan kembali.  Ada kalanya  manusia tyidak mampu melakukan sesuatu disebabkan adanya  penghalang yang dating dari luar dirinya, tetapi ada kalanya juga  penghal;ang tersebut datangnya dari dalam dirinya. Akan tetapi sesungguhnya smeua itu atas kehendak Allah swt.

Nahkan terkadang secara nalar manusia ada orang yang diperkirakan akan mampu melakukan sesuatu yang biasa biasa saja, tetapi karena Tuhan tidak berkenan, lalu orang tersebut juga tidak pernah mampu menjalaninya. Sebagai contohnya ialah ketika ada orang akan pergi ke rumah anaknya padahal hanya dekat saja dan dia sudah terbiasa menjalaninya. Kondisinya juga sehat sehingga siapapun akan menyangka bahwa dirinya akan mampu melakukannya. Namun siapa sangka kemudian dia  kecelakaan di jalan menuju rumah anaknya dan kemudian mengalamin kelumpuhan, maka  dia tidak pernah dating  ke rumah anaknya.

Itu merupakan penggambaran yang mudah tentang kelemahan yang ada pada diri manusia.  Sebaliknya jika Tuhan berkenan maka smeua akan terjadi, misalnya ada orang miskin  yang sama sekali tidak pernah terbersit dalam pikirannya untuk pergi umrah, namun kerena Tuhan berkenan, kemudian datanglah seseorang kaya yang mengajaknya untuk pergi umrah, hanya  supaya dia bisa memijatnya saat menjalani umrah.  Itulah kenyataan yang tidak mampu kita perkirakan dan semuanya dapat terwujud.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.