PELUNCURAN SPAN UM PTKIN

Sebagaimana kita tahu bahwa sejak beberapa  tahun yang lalu SPMB di kalangan PTKIN berubah nama menjadi seleksi prestasi akademik nasional perguruana tinggi keagamaan islam negeri disingkat SPAN PTKIN untuk jalur prestasi sedangkan untuk jalur tulisnya bernama ujian masuk perguruan tinggi keagamaan islama negeri atau UM PTKIN.  Keputusan mengubah nama tersebut dilaksanakan saat rapat di Mataram NTB.  Jadilah hingga saat ini jalur itulah yang dilaksanakan oleh kepanitiaan nasional disamping jalur mandiri oleh setiap PTKIN. Namun bagi UIN masih ada jalur lainnya yang mengikuti kepanitiaan yang ada di PTN yakni SNMPTN dan SBMPTN.

Memang masih banyak kekurangan yang dija;ankan selama ini, namun itulah  hasil maksimal yang  dapat dihadirkan oleh panitia, selebihnya tentu tergantung dari keinginan dan political will dari kementerian agama, karena  menyangkut pembiayaan yang masih terlihat timpang jika dibandingkan dengan  di kementerian ristekdikti. Kita juga sudah menyesuaikan dengan apa yang sudah dijalankan oleh kepanitiaan SNMPTN  dan SBM PTN, yakni dengan menggelar ujian gtulis yang berbasis computer, walaupun volumenya masih sedikit.

Nah, pada  tahun ini kementerian ristekdikti sudah akan menggunakan  lembaga tes masuk perguruan tinggi atau disingkat dengan LTMPT yang memang sudah dibentuk secara fesmi dan  siapapun yang akan masuk perguruan tinggi melalui jalur tes, maka diharuskan mengikuti tes di lembaga tersebut. Kemudian hasil dari tes tersebut pemilik nilai ujian akan mendaftar di perguruan tinggi negeri.  Degan demikian calon mahasiswa akan dapat mengukur sendiri kira kira akan menuju kemana dengan nilai yang dimilikinya tersebut. Dengan begitu juga akan semakin memudahkan perguruan tinggi untuk  menyikapinya.

Lalu di kementerian agama bagaimana?, tentu kalau di tahun ini pastinya belum mampu untuk mengikuti jejak tersebut, dan  harus dipersiapkan terlebih dahulu perangkatnya, baik mengenai peralatan dan SDM nya sehingga diperkirakan baru tahun depan akan disesuaikan. Dengan dmeikian tahun ini di samping menjalankan  kegiatan UM PTKIN, juga harus dibentuk semacam kepanitiaan untuk mempersiapkan pembentukan  lembaga semacam LTMPT tersebut, apapun namanya, sebab itulah yang  saat ini sedang dituntut dan  sedang hangat di kalangan masyarakat.

Kembali kepada  SPN an UM PTKIN sebagaimana  biasanya akan diawali dengan peluncurannya secara resmi oleh menteri dan sudah dilaksanakan pada hari Rabu kemarin di hotel Borobudur Jakarta dengan mengundang seluruh perguruan tinggi keagamaan Islam negeri serta berbagai elemen yang terkait, termasuk perwakilan madrasah dan lainnya.  Memang ada harapan bahwa  seyogyanya  lulusan madrasah Aliyah orientasinya akan masuk di PTKIN yang sejalur meskipun tidak menutup kemungkinan sebagian mereka akan memilih ke perguruan tinggi umum.

Untuk itu harus ada sosialisasi secara massif kepada para lulusan MA baik negeri maupun swasta karena  di PTKIN juga sudah ada program studi yang dahulu belum dibuka, sehingga  harapannya akan  terjadi kesinambungan, terkait dnegan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh para calon mahasiswa.  Kita memang perihatain dengan kondisi secara umum mengenai mahasiswa kita, karena ternyata kebanyakan diantara mereka adalah para lulusan SMA dan sekolah kejuruan umum sehingga secara umum pula pengetahuan keagamaan mereka sangat minim.

Kita memang mengakui bahwa sebagian kecil diantara para lulsuan SMA juga ada yang sambal nyantri sehingga pengetahuan keagamaan mereka cukup baik, namun secara umum kebanyakan mereka masih terlalu dangkal pemahamannya terhadap kagamaan.  Kita tidak terkejut jika beberapa waktu yang lalu ada yang melakukan penelitian khusus mengenai mahasiwiwa di program studi pendidikan agama Islam, ternyata para mahasiswanya kebanyakan dari lulusan SMA dan  kenyataannya menurut penelitian tersbeut ternyata 40 persennya  setuju dengan paham  khilafah.  Tentu ini snagat memperihatinkan kita semua dan harus segera melakukan tindakan pengamanan melalui pemberian wawasan keagamaan yang komprehensip kepada mereka.

Kita juga menjumpai kenyataan bahwa sebagian diantara para mahasiswa di PTKIN masih belum mampu membaca kitab suci dengan baik sesuai dengan kaidah tajwid yang ada, apalagi kalua harus menuliskannya.  Ini sungguh merupakan  tantangan berat bagi para pimpinan PTKIN.  Kiranya system penerimaan calon mahasiwa baru yang sudah berjalan tidak mampu menjaring  dan mengetahui mereka sejauh mana pengetahuan mereka tentang paham keagamaan dan juga bagaimana mereka sudah menguasai  pembacaan kitab suci alquran.

Tentu kita tidak ingin bahwa masih ada mahasiswa kita yang tidak bisa membaca alquran, bahkan nantinya setelah mereka alulus dari perguruan tinggi masih juga tidak mampu mebaca alquran, terlepas  dari juruan apa mereka itu, karena lulusan PTKIN itu seharusnya mampu mebaca alquran dan menguasi paham keagamaan yang cukup baik.  Itulah PR kita semua yang harus dipikirkan secara bijak agar ke depannya kita mampu mendapatkan bibit yang baik untuk dibimbing menjadi sarjana yang berualitas dan mebanggakan kita semua.

Melihat kenyataan tersebut, sudah saatnya dipikirkan  system tes masuk yang memungkinkan kita mampu mengetahui secara pasti kemam;puan mereka, sehigga kita tidak akan kedodoran dalam mendidiknya.  Mungkin secara  lahir kita akan dapat mengatakan bahwa  cara secara langsung wawancara ialah yang paling efektif, namun bagi PTKIN yang bsesar yang menerima  calon mahasiswa ribuan, kiranya akan sangat sulit menjalaninya, meskipun seluruh dosen dikerahkan untuk  itu.  Tetapi dengan cara apapun PTKIN harus mampu memastikan bahwa para mahasiwanya  mampu membaca kitab suci alquran.

Bagi mereka yang sudah kadung masuk sebagai mahasiswa, maka PTKIN harus melakukan upaya upaya untuk memberikan treatment khusus bagi mereka agar dalam  proses meerkw  mengikuti perkuliahan juga sekaligus belajar tentang alquran, terutama dalam hal mebaca dan menulisnya.  Kiranya belum terlalu terlambat bagi kita untuk melakukan hal tersebut, karena para dosen kiranya juga sudah merasakan hal tersbeut dan kemudian  mampu mendeteksi siapa saja yang belum mampu dan siapa yang sudah mampu.

Hal yang harus dipikirkan segera ialah mencari system yang memungkinkan penjaringan calon mahasiwa itu dapat menyentuh aspek pengetahuan mereka pada hal yang berhubungan dengan pemahaman mereka terhadap agama islam. Artinya  pada saat nanti kita sudah memiliki lembaga tes masuk perguruan tinggi harus ada perangkat yang mampu untuk dapat me getahui tingkat pengetahuan calon dalam agama Islam.  Tentu itu lebih mudah karena tes dilaksanakan tidka berbarengan dan  di setiap waktu para calon boleh mendaftar untuk ujian etrsebut, sehingga akan sangat mungkin untuk dijalankan tes wawancara juga.

Kita juga ingin bahwa  untuk sekolah  atau madrasah yang emmang dikhususkan untuk mencetak generasi  hebat, harus diarahkan ke PTKIN dan para pimpinan PTKIN juga  harus respeon terhadap hal tersebut, karena bagaimanapun mereka adalah asset yang sangat berharga bagi PTKIN ke depannya.  Karena itu akan jauh lebih bagus jika kementerian  memfasilitasi hal tersebut dengan mengajak kepada para pimpinan di madrasah untuk bersinergi dengan PTKIN dalam berbagai bentuk yang memungkinkan.

Dengan begitu kita akan lebih leluasa untuk mengembangkan para mahasiwa kita tanpa dibebani oleh kenyataan bahwa mereka masih belum mampu hal hal dasar tentang keagamaan kita sendiri.  Semoga ke depan kita memang akan mampu emnghasilkan ;lulusan yang benar benar ideal dan mampu berkontribusi untuk negeri ini, amin.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.