SERTIFIKASI PEMBIMBING HAJI

Tugas yang terkait dengan pemberian layanan kepada banyak orang memang sudah semstinya ada jaminan yang membuat pemakai jasa  mendapatkan keyakinan bahwa apa yang dijalaninya akan memberikan manfaat yang besar. Namun demikian selama ini  masih banyak penyedia jasa yang masih mengerjakan tugasnya secara amatiran sehingga banyak diantara yang memakai jasa tersebut hartus complain dan dirugikan.  Salah satu penyedia  jasa tersebut ialah pembimbing manasik haji.

Bagi masyarakat muslim yang memang belum pernah mendapatkan pengetahuan manasik tentu akan sangat sulit untuk mampu menjalankan rukun dan kewajiban haji serta sunnah sunnahnya, karena itu kemudian banyak penyedia jasa untuk pembimbingan tersbeut. Hanya saja terkadang besarnya minat tidak sebanding dengan kemampuan  diri untuk menguasai manasik etrsebut.  Akhirnya  ketika ada kasus yang sulit diselesaikan dan belum pernah terjadi, lalu  tidak mendapatkan jawaban dan penyelesaian yang diharapkan.

Nah salah satu yang menandai kemampuan pembimbing manasik haji ialah setifikat.  Memang sertifikat tersebut hanya secara formak bahwa yang bersanghkutan dianggap telah memenuhi syarat menjadi pembimbing manasik haji, akan tetapi kemampuan riilnya masih harus diuji, namun setidaknya bagi mereka yang sudah pernah mengikuti pembimbingan haji  sehingga mendapatkan sertifikat, tentunya  sudah  memiliki tingkat kemahiran dan penguasaan manasik haki yang lebih baik ketimbang yang belum bersertifikat.

Hingga saat ini kementerian agama, dalam hal ini direktorat jenderal penyelenggaran haji dan umrah memang belum mewajibkan setiap pembimbing haji untuk memp[unyai sertifikat, namun himbauan  untuk itu sudah dilakukan.  Mungkin mengingat jumlah pembimbing yang bersertifikat etrsebut belum mencukupi untuk seluruh pembimbing  haji, maka sambil terus melakukan pensertifikatan tersbeut, kementerian agama pada saatnya pasti akan memberlakukan syarat etrsebut, karena  dalam upaya eningkatkan  pelayanan jamaah haji, tentu diperlukan standart bagi para pembimbing haji tersebut.

Sosialisasi sudha dilakukan secara massif oleh organisasi measyarakat bersama dengan elemen masyarakat lainnya, sehingga kalau pada saatnya nanti diberlakukan persyaratan pembimbing haitersbeut masyarakat juga sudah tidak kaget lagi.  Saat ini masyarakat sudah banyak yang menyadari hal tersebut dan kemudian mereka mengikuti pelatihan dan pensertifikatan pembimbing haji melalu berbagai lembaga yang menyelenggarakan.

UIN Walisongo, dalam hal ini fakultas Dakwah dan komunikasi yang mempunyai program studi haji dan umrah telah ditunjuk oleh kementerian agama  cq direktorat jenderal penyelenggaraan haji dan umrah untuk menyelenggarakan pensertifikatan pembimbing haji.  Tentu ini merupakan  penghargaan bagi UIN walisongo dan sudah berjalan beberapa kali dengan bekerjasama dengan lembaga yang menghubungkan dengan masyarakat yang berminat  dalam hal seertifikat pembimbing haji tersebut.

Hanya saja memang penyelenggaraan sertifikasi bagi para calon pembimbing haji tersbeut masih dilakukan  secara konvensional dan belum dikelola secara professional, utamanya terkait dengan memejemennya.  Artinya dalam penyelenggaraan tersebut pihak ormas yang bekerjasama dengan UIN  akan membiayai keseluruhan kebutuhan  dalam penyelenggaraan sertifikasi, namun pengelolaan keuangan masih berada di organisasi etrsebut, sehingga inilah yang saya sebut masih belum professional.

Seharusnya jika menejemen dikelola secara professional, maka siapapun yang akan mengikuti pelatihan dan sertifikasi pembimbing haji tersbeut harus mendaftar secara langsung kepada  UIN Walisongo dengan syarat syarat tertentu, termasuk biaya yang dibutuhkan, dan selanjutnya UIN lah yang akan mengelola keuangan etrsebut. Dengamn begitu siapapun yang akan mengikuti sertifikasi pembimbing haji memang harus melalui jalur tersebut.

Memang dengan kondisi yang seeperti saat ini ada potensi bahwa  mereka yang ikut sweertifikasi   pembimbing haji di UIN membayar yang lebih besar ketimbang  biaya yang dibtuhkan  untuk penyelenggaraan etrsebut, karena tentu sudah dikirangi oelh para piohak yang menghubungkan dengan pihak UIN.  Inilah yang kemungkinan ke depan harus dilakukan evaluasi, jangan sampai  UIN menanggung akibatnya yang diklaim sebagai mendapatkan uang banyak, tetapi kenyataannya  hanya pas untuk penyelenggaraan sertifikasi semata.

Insya Allah kalau nanti sudah dikelola ole UIn secara professional, kita akan menjalankannya secara transparan dan ada laporan kongkritnya sehingga  diharapkan akan semakin emmberikan kepercayaan kepada masyarakat dan memuaskan smeua pihak.  Sampai saat ini UIN telah menjalankan menjemen yang bagus  sehingga masuk dalam kategori zona integritas terbaik diantara seluruh satker di kementerian agama.

Sesungguhnya secara moral kita juga akan menanggung akibat dari hasil sertifikasi pembimbing haji tersebut, karena kita psti tahu bahwa mereka yang berhak mendapatkan sertifikat tentu mereka yang sudah lolos  saat mengikuti pelatihan dan dianggap sudah mumpuni dalam hal pemberian pembimbingan kepada jamaah. Keyakiona tersbeut tentu dilalui secara cermat melalui uji kompetensi dalam hal pembimbingan dan penguasaan manasik haji, bahkan kemungkian ke depan harus pula disertakan menganai kemampuan bahasa bagi mereka.

Kita tentu juga harus bersiap untuk menyelenggarakan pembimbingan haji tersebut secara baik dan terus ditingkatkan, karena semakin hari peserta sertifikasi pembimbing haji tersbeut semakin  beragam.  Artinya kalau peserta yang mengikuti tahap awal awal, sangat mungkin mereka itu sudah terbiasa menjalankan pembimbingan, dan keikut sertaan mereka hanya ingin mendapatkan sertifikat secara formal saja, namun bagi peserta yang  semakin akhir, tentu  akan diikuti oleh mereka yang sama sekli baru dalam belantara pembimbingan haji atau mungkin mereka hanya baru mempelajari manasik haji secara teori semata.

Padahal kita sangat paham bahwa untuk pembimbing haji memang harus sudah mempunyai pengalaman lapangan sehingga akan mampu membimbinga dnegan mantap dan meyakinkan. Utamanya terkait dengan p[ersoalan  peribadatan dan beberapa hal terkait dnegan ihram dan hal hal yang tidak boleh dilakukan  pada saat mereka sedang berihram.  Kenyatannya kiota masih menyaksikan banyak orang atau jamaah haji yang melakukan pelanggaran saat mereka sedang ihram dan belum tahallul, sehingga itu merupakan tugas berat bagi para pembimbing.

Demikian juga jangan sampai para pembimbing haji justru malah memanfaatkan para jamaah untuk menguntungkan diri sendiri, seperti menggalang pembayaran dam atau denda, lalu tidak dijalankan dengan amanah, atau dengan menggalang jamaah untuk diberikan amanah menghajikan atau membadalkan dan lainnya yang ternyata sampai saat ini masih marak dilakukan oleh mereka yang sesungguhnya mengerti persoalan tersebut, namun hanya untuk kepentingan dan keuntungan sendiri saja.

Karena itu dihimbau juga kepadfa para penyel;enggara haji dan umrah, khususnya KBIH agar memberikan pembimbing yang sudah berpengalaman dan jug ape,bombing yang kurang berpengalaman yang mengikuti dan membanti beberapa hal terkait dengan manasik haji kepada pembimbing yang sudah berpengalaman, Artinya jika untuk urusan lapangan dan  pengetahuan medan, tentu mereka yang sudah berpengalaman akan lebih cekatan dan meyakinkan, sedanghkan bagi mereka yang hanya baru sekali atau dua kali menjalankan haji, tentu juga boleh membimbing Cuma  harus didampingi oleh yang sudah berpengalaman.

Terkadang para pembimbing  yang belum berpengalaman kalau ada eprsoalan yang menyangkut jamaah haji,. Lalu tidak mampu menyelasikan, apalagi kalau kemudian pembimbing tersebut sama sekali tidak mampu berkomunikasi dengan orang setempat, pastilah  persoalan tidak akan selesai.  Untuk itu sekali lagi ahrus diupayakan adanya pembimbing yang  berpengalaman sehingga  diharapkan akan mampu mengatasi setiap persoalan yang muncul. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.