MASIH TENTANG PEMBERANTASAN KORUPSI

Rasanya kita ini menjadi semakin sulit untuk memberantas korupsi di negeri ini, meskipun  usaha untuk itu sudah dilakukan dengan sungguh sungguh. Mungkin factor manusianya juga sudah begitu pintar untuk mengungkapkan bahwa korupsi itu dosa dan merugikan banyak pihak, termasuk akan menyengsarakan masyarakat, namun kenyataannya  korupsi masih saja dilakukan oleh banyak pihak, dan celakanya yang melakukan itu justru mereka yang secara kasat mata sudah berkecukupan harta.

Lalu kita mau bilang apa lagi jika keadaannya demikian?  Makanya kita harus mengalihkan perhatian kita untuk memberantas korupsi tersebut dalam jangka yang panjang, bukan instan dan  diharapkan akan mampu untuk menuntaskan persoalan ini.  Meskipun sesungguhnya  ada jalan untuk itu, namun sangat sulit karena  harus ada perubahan undang undang tentang sanksi hukuman bagi para korup[tor menjadi lebih berat dan hukuman yang sangat ditakuti oleh para koruptor yakni hukuman pemiskinan.

Kita tahu bahwa untuk mengubah undang undang tersebut diperlukan  visi yang sama diantara seluruh pihak yang mempunyai kewenangan untuk itu.  Nah, saat ini kalau kita berharap banyak kepada para wakil rakyat untuk mengubah undang undang tersebut, khususnya dalam upaya memberikan hukuman yang lebih berat dan menakutkan, pastinya tidak mudah dan bahkan dapat dikatakan sebagai hal yang mustakhil dilakukan.  Kita juga tidak tahu sebabnya, namuan secara umum, justru para koruptort tersebut berasal dari para wakil rakyat, disamping para  eksekutif pemerintahan.

Demikian juga untuk mendapatkan hasil yang cepat dalam mengatasi persoalan korupsi tersebut harus diciptakan sebuah system yang  memungkinkan semua orang menjadi takut untuk melakukan penyimpangan dan system tersebut dijalankan secara konsisten oleh para aparat penegak hokum. Berkali kali saya selalu mencontohkan  betapa ketertiban dan kebersihan di Singapura, sebuah Negara di tetangga kita dapat  berjalan dengan bagus, karena ada sebuah system yang dijalankan dengan konsisten, sehingga siapapun yang melanggar pasti akan mendapatkan hukuman yang berat.

Jika di negeri kita diciptakan sebuah system yang memungkinkan  dapat mengenali dan mencatat semua perbuatan menyimpang, lalu diberikan hukuman berat, sudah barang tentu smeua orang akan berpikir berulang kali sebelum melakukan praktek menyimpang tersebut. Namun sekali lagi untuk mengarah ke sana juga masih sulit, karena  kalaupun perangkat hokum dan sistemnya ada, tetapi kalau para aparat penegak hukumnya tidak konsisten dalam menjalankannya, pasti tetap saja sama denagn sebelumnya.

Nah, saat ini kita sedang berada di persimpangan jalan antara melakukan pembersihan praktek korupsi dengan  kondisi lingkungan masyarakt kita yang memanag dapat dikatakan sebagai brengsek.  Pada gilirannya, KPK sebagai lembgaga anti korupsi yang diberikan kewenangan untuk memberantas korupsi termasuk memproses secara hokum hanya dapat menjalankannya sebagian saja, dan pastyilah banyak orang yang kemudian mempertanyakannya,  terkait adanya p[ihak yang masih belum diproses yang pada akhirnya mereka justru malah berusaha untuk menghambnat kinerja KPK.

Kenyataan etrsebut kemudian memunculkan kesadaran kepada kita bahwa diperlukan usaha nyata yang berkesinambungan dan terus menerus agar menghasilkan sebuah kondisi masyarakat yang bagus dan mempunyai integritas tinggi serta peka terhadap kehidupan masyarakat secara luas.  Kesadaran tersebut akhirnya  memebrikan ruang untuk memunculkan cita cita yang mulia meskipun harus  dalam durasi waktu yang cukup lama, yakni melalui pendidikan.

Pendidikan kita saat ini harus disetting ulang atau setidaknya disesuaikan dengan tujuan menciptakan kondisi yang kondusif dan jauh dari praktek korupsi.  Untuk usaha ini juga bukan pekerjaan yang mudah karena harus menyatukan visi seluruh pendidik yang ada dan memberikan bekal yang cukup kepada mereka.  Artinya  kalau pendidikan anti korupsi etrsebut akan dimassifkan di seluruh sekolah  maka   harus ada upaya untuk memberikan bekal kepada semua pendidikn untuk mampu menjadi  figure yang  menjadikan dirinya sebagai  teladan untuk smeua perbuatan baik.

Semua pendidik harus memulai dengan  penataan dirinya agar terjauhklan dari perbuatan yang dapat mengarah kepada prraktek korupsi dalam segala skalanya. Semua pendidik harus tidak menerima pemberian dari murid atau orang tua murid dalam kaitannya dengan hubungan sekolah.  Jika seorang pendidik atau guru menerima pemberian  sesuatu dari orang tua muriod, dapat dipastikan dia nantinya tidak akan mampu berbuat adil kepada seluruh anak didiknya.  Dia akan teringat dengan orang tua si anak yang memberikan sesuatu tersebut.

Mungkin kepala sekolah  sendiri hartus  menjadikan dirinya sebagai teladan bagi smeua guru dan siswa, yakni harus hidup secara sederhana dan tidak meminta sesuatu kepada siapapun dan harus berani menolak pemberian  dari siapapun yang  dapat diduga ada kaitannya dengan sekolah. Lalu juga  dia harus berani memberikan teguran dan sanksi kepada guru atau pendidik yang diketahui  melakukan hal yang tidak pantas, semecam menerima pemberian dari murid atau orang tuanya.

Bahkan lebih jauh kepala sekolah harus berani menegur dan memberikan sanksi kepada semua guru yang mengadakan les tambahan kepada muridnya sendiri di luar jam pelajaran dan harus membayar.  Karena kalau itu dilakukan maka dang guru pastinya tidak akan meberikan nilai buruk kepada mereka yang mengikluti les tambahan etrsebut, karena mereka sudah membayarnya.  Jika terpaksa mereka mengadakan les tambahan, maka harus  dari  siswa yang bukan dari sekolahnya melainkan dari siswa sekolah lain yang sama sekali tidak ada hubungan guru murid dengannya.

Mungkin hal hal kecil semacam itulah yang hartus ditata terlebih dahulu, karena saat ini kita saksikan betapa banyak guru yang nyambi seperti itu dan bahkan khusus untuk para muridnya sendiri. Tentu kita juga harus  mencegah hal hal lain yang dapat disimpulakn berkaitan dengan gratifikasi dan menjadikan seorang pendidik  tidak mampu berbuat adil dalam  kapasitasnya sebagai guru.  Dalam kaitannya dengan persoalan ini, aspek kejujuran dan ketulusan dalam menjalankan tugas adalah sebuah keniscayaan yang memang harus dimiliki oleh smeua orang, utamanya para pendidik.

Namun semuanya itu sesungguhnya dapat dilakukan, jika ada kemauan dari pemerintah secara berjenjang dan mereka mau peduli dengan pendidikan yang diharapkan akan menghasilkan anak didik yang cerdas dan berintegritas serta  peka terhadap lingkungannya.  Sebuah lembaga anti korupsi seperti KPK hanyalah  sebagai pemberi motifasi kepada pihak sekolah dan berharap banyak hasil dari didikan sekolah, karena dengan  harapan tersebut kiranya KPK juga akan  dapat bernafas lega karena mempunyai masa depan yang lebih baik sebagaimana yang diarapkan oleh seluruh masyarakat.

Jadi jurus ini memang senagaj dibuat untuk mendapatkan mansuai aIndonesia yang  ideal, yakni manusia yang cerdas, berakhlak mulia, dan tetap menjejakkan kakinya di bumi nusantara.  Artinya mereka nantinya  diharapkan akan mampu menjadikan Negara sebagai tempat pengabdian  dalam hidupnya  dan  bercita cita untuk mensejahterakan seluruh rakyat melalui peran peran mereka di manapun mereka mengabdikan diri mereka.  Jika integritas sudah melekat dalam dirinya dan ketulusan juga sudah menjadi kebiasaannya, lalu juga kepekaan terhadap lingkungan juga sudah menjadi wataknya, pastilah dia akan menjadi sosok yang bersih dan jauh dari praktek korupsi.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.