BELAJAR KEDISIPLINAN KEPADA NEGERA TETANGGA

Mungkin smeua orang sudah mendengar tentang kedisiplinan Negara tetangga kita Singapura yang dmeikian bagus, sehingga orang dengan sendirinya akan emnjadi ikut berdisiplin saat berada di sana.  Semua itu disebabkan oleh adanya peraturan yang sangat ketat dan akan emmberikan sanksi hukuman kep[ada siapapun yang melanggarnya.  Satu lagi bahwa semua  orang yang bertugas  memberikan  penjelasan mengenai Singapura kepada para wisatawan manca Negara, selalu akan menyampaikan tentang aturan tersbeut, sehingga mereka akan berpikir dua kali sebelum melakukan hal yang bertentangan dengan regulasi tersebut.

Memang ada kalanya jika  terhadap orang asing yang dibimbingnya seorang tour leader tidak langsung memberikan sanksi atau melaporkan hal tersebut kepada petugas, melainkan justru  akan memberitahukan untuk segera tidak terus dalam pelanggaran kerena  pasti akan ketahuan oleh petugas, karena banyak petugas yang tidak berseragam yang selalu memantau kondisi lingkungan.  Sebagai satu contoh seseorang tidak diperkenankan untuk makan di dalam bus umum misalnya, maka jika ada orang yang makan di dalam kendraan umum, maka dia harus turun dan setelah selesai makan barulah naik kembali.

Kalau soal membuang sampah di sembarang tempat sesungguhnya sudah menjadi pengertian umum, sehingga semua orang dapat dipastikan akan mengetahuinya, termasuk tidak diperbolehkannya makan permen karet. Jika  untuk merokok tentu ada tempat tempat yang diperbolehkan dan ada p[ula yang dilarang, terutama jika berada dalam ruangan tertentu.  Pada umumnya ruang ruang terbuka itu diperbolehkan untuk merokok asalkan tidka mengganggu  banyak orang.

Jika mengendari kendaraan juga harus pandai pandai bersabar, karena sebagaimana di beberapa Negara yang sudah menerapkan kesadaran berdisip[lin,  di sana  kendaraan yang lebih besar harus memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada kendaraan yang kecil, apalagi kepada pejalan kaki.  Pemandangan seperti itu sudah sangat lazim kita lihat di sana, tidak sebagaimana yang kita saksikan di  tempat kita yang bahkan saling menyerobot itu sudah menjadi pemandangan keseharian.

Kalaupun di sana  ada pencuri ataupun pencopet, namun pada umumnya mereka tidak akan secara terabng terangan dan pasti akan melakukannya pada saat yang memang benar benar dianggap aman, sebab kalau ketangkap, maka dapat dipastikan akan mengalami nasib yang sangat buruk, bahkan mungkin lebih buruk ketimbanga maling yang ketangkap di pasar yang dihajar ramai ramai oleh massa.  Karena itu kejadian pencurian relative  sangat jarang dan bahkan mungkin tidak pernah ketahuan.

Lingkungan pasar tradisional yang biasanya sangat kumuh dan kotor serta  berbau tidak sedap, ternyata  mampu dikondisikan sedemikian rupa sehingga tidak terlalu kumuh dan menjijikkan bagi siapapun yang dating ke sana. Itu disebabkan pasar tradisional yang sebagaimana kita kenal di lingkungan kita tidak didapati dan smeua kebutuhan  pokok yang biasa dijajakan di pasar tradisional dapat diperoleh di super market dan took yang sangat bersih dan menyenangkan untuk dikunjungi.

Lalu pertanyaannya ialah mampukah kita mengubah  kondisi  kita menjadi sebegaimana mereka yang sangat tertib, bersih,  dan nyaman untuk dikunjungi.  Kita memang tidak sedang memuja muji kondisi Negara tentangga kita, melainkan  sekedar untuk menyadarkan kita sendiri  agar kita mau melakukan yang terbaik yang sesungguhnya merupakan ajaran agama kita yang sudah terlalu lama kita tinggalkan.

Bagaimana tidak, ajaran tentang kebersihan  sudah kuirang apa lagi, dalilnya juga sudah sangat jelas dan praktiknya saja  umat muslim masih kedederan.  Kedisiplinan juga kurang apanya tentang ajakan dan  tatanan yang disampaikanoleh ajaran agama kita, namun  kita sendirilah yang masih belum mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.  Pendeknya apapun yang baik yang kita saksikan di beberapa Negara lain, sesungguhnya  kalau kita mau mengikuti ajaran syaraiat kita, pasti  akan terwujud dalam lingkungan kita.

Sekali lagi saying memang Karena ajaran  agama yang begitu hebatnya, tetapi disia siakan sendiri oleh umatnya dan malah kemudian dipraktekkan oleh  orang lain.  Seharusnya kita menjadi malu saat kita menyaksikan betapa indahnya hidup terttib dan  asri, namun lagi lagi kita memang mungkin termasuk tipe ndablek sehingga meskipun terkadang muncul keinginan untuk mengubah menjadi lebih baik, namun kemduian akan cepat sirna  saat melihat kawan kita yang masih belum mampu tertiba dan hidup bersih.

Bagi yang mau mempraktekkan ajaran islam etrsebut, meskipun mereka buikan muslim mereka akan mendapatkan banyak keuntungan, termasuk kemajuan yang cepat. Lalu kita sendiri yang mempunyai regulasi etrsbeut, tetapi sama sekali tidak mau mempraktekkannya, maka  kita tidak  akan mencapai kemajuan atau sangat sulit untuk maju. Lalu kenyataan  yang saat ini kita dapatkan ialah bagaimana umat muslim sulit maju dalam kehidupan mereka, karena tidak mau mempraktekkan ajaran syariat agama yang seharusnya dipertahankan dengan sangat ketat.

Tentu kita kemudian dapat membenarkan bahwa  kebanyakan umat muslim karena tidak mau menjalankan ajaran agamanya, lalu diberikan kesulitan oleh Tuhan dalam hidup mereka.  Maksudanya tidak mengamalkan ajaran agamanya, bukan semata hanya kewah=jiban individual sepeti shalat, puasa dan sejenisnya, melainkan kewajiban lainnya yang oleh sebagian besar umat muslim tidak dianggap sebagai ajaran agama yang penting. Kita harus sadar bahwa ajaran agama itu bukan hanya shalat, zakat, haji dan puasa,saja, melainka juga ajaran bagaimana hidup berasyarakat, bagaimana mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan lainnya.

Mungkin salah satu kesalahan terbesar masyarakat muslim ialah keliru dalam mengartikan ajaran agama, yang mereka anggap hanya sebatas tentang ibadah mahdlah belaka, padahal yang terbanyak justru yang berkitan dengan kehidupan masyarakat dan transaksi  antar manusia itu sendiri.  Dalam kaitannya dengan ibadah mahdlah, kita hanya akan berhadapan dnegan Allah swt, sedangkan kalau ibdaha lainnya kita  akan langsung berhadapan dengan sesame makhluk Tuhan dengan berbagai tipe dan kondisinya.

Kembali kepada persoalan kedisiplinan sebagaimana pokok bahasan ini, kita tentu dapat membedakan  kehidupan mereka yang selalu disiplin dengan mereka yang sama sekali tidak menjalankan kedisiplinan.  Mereka yang memagang teguh kedisiplinan tentu akan tampak lebih baik dan maju dalam kehidupan mereka, karena mereka tentu akan selalu berada dalam kondisi yang tertib dan cepat menyesuaikan diri dengan kemajuan, sedangkan bagi mereka yng tidak berdisiplin, pada umumnya justru  cendrung ingin hidup bebas tanpa aturan.  Akibatnya patsi kta dapat menerka, mereka acak acakan dan sulit untuk maju dan mendapatkan  kesuksesan.

Mari kita meniru kedisiplinan yang sudah ditunjukan oleh masyarakat tetangga kita, dan mereka mengalami kemajuan yang sangat pesat, sekaligus mari kita melihat kehidupan yang terlalu tidak terikat oleh aaturan kedisiplinan yang ternyata  kehidupan mereka semakin amburadul dan  semakin terpuruk. Lantas pertanyaannya ialah apakah kita mau menjadi umat dan bangsa yang maju dan sejahtera ataukah sebalinya menajdi masyarakat yang semakin terpuruk? Jawabannya terpulang kepada kita masing masing. Tetapi yang jelas  jika kita mau menggunakan akal sejhat kita pasti jawabannya ialah kita ingin menjadi lebih tertiba dan lebih baik serta lebih sejahtera.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.