WASIAT JUMAT

Mungkin diantara umat muslim ada yang sama sekali tidak mempedulikan atau tidak merasa bahwa sesungguhnya setiap jumat kita selalu diingatkan oleh khatib untuk selalu meningkatkan kualitas ketaqwaan kita. Buktinya bahwa kita  semakin banyak mendengarkan wasiat etrsebut, tetapi bukannya semakin emmbaik kelakuan kita, melainkan justru malah bertambah keburtukan yang kita perbuat. Lalu apakah wasiat etrsebut kurang mengena atau kurang cara yang digunakan sehingga perhatian umat tidak focus atau sebab lainnya.

Bahkan barangkali kita juga harus menguji sejauh mana para khatib juga sudah memahami apa yang mereka  sampaikan kepada umat, karena dalam kenyatannya kita sering menyaksikan  para khotib yang hebat dalam penyampaian wasiatnya, namun dalam kehidupan nyata di masyarakat justru sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai teladan.  Sebagai contohnya ialah jika berada di atas panggung ebgitu berapi api menyampaikan tentang kebaikan bersedekah dan berderma untuk kebaikan umat. Namun setelah smpai di rumah malahan selalu saja menghindar saat ada tamu ingin mengambil dan meminta sedekah atau jariyah.

Itulah ironisnya kehiduapn di dunia ini, yakni tidak selaras antara apa yang disampaikan dengan apa yang dijalani.  Padahal Allahs endiri sudah pernah menyampaikan ancamanNyayakni dosa besar  bagi siapapun yang menyampaikann dengan lisannya  persoalan yang baik tetapi dalam perakteknya tidak dijalankannya sendiri.  Beda antara apa ayang omongkan dengan apa yang dijalaninya.  Pamntaslah kalau kemudian apa yang disampaiakn meskipun dengan suara lantang, tetapi dianggap sebagai angina lalu oleh umat dan sama sekali tidak mampu merasuk ek dalam relung jiwa mereka.

Seharusnya kalau ada wasiat yang terus menerus akan berdampak dan masuk ke dalam jiwa, sebab kebiasaan itu akan mendorng terciptanya sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan, namun kenyataan dalam wasiat jumat yang selalu dikumandangkan agar umat selalu meningkatkan ketaqwaannya, ternyata  malah sama sekali tidak membekas, bahkan mungkin  didengar saja tidak apalagi dapat mengena dan menempel dalam sanubarinya.

Taqwa itu sendiri biasa diterjemahkan menjadi mengikuti dan menjalankan smeua  yang diperintahkan oleh Allah swt dan meninggalkan smeua yang menjadi larangan Nya, tetapi apa yang dapat diharapkan dengan wasiat tersebut, kalau ternyata  sama sekali tidak ada dampak positif yang dapat diharapkan.  Semuanya menjadi muspro seolah tidak ada manfaatnya sama sekali, bahkan malah banyak diantara mereka yang medengarkan khutbah tersebut kemudian malah menjalankan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh khatib.

Wasiat tentang taqwa itulah yang sudah pasti disamp[aikan, sedangkan untuk yang lainnya seperti mengajak umat untuk bersedekah atau untuk menjalankan kesunnahan lainnya  hanya kadang kadang saja. Bahkan malah seringkali khatib menyampaiakn  hal yang terkait dengan hubungan antar sesame muslim yang harus ditingkatkan sehingga akan semakin menjadi erat dan menumbuhkan saling menyayangi.  Namun juga tidak jarang khatib  menekankan perlunya  usaha  yang dilakukan oleh umat muslim dalam bidang ekonomi sehingga  mereka akan mampu bangkit dari keterpurukan dan mampu untuk menyantuni  mereka yang termasuk fuqara dan masakin.

Barangkali kita perlu mencermati kenapa dalam menjalankan ibadah shalat jumat diperlukan adanya khutbah, apakah hanya sebagai pelengkap saja  tanpa ada tujuan yang penting, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian diantara umat muslim sendiri.  Dengan pemahaman yang dmeikian maka mereka  tetap membaca khutbah meskipun para jamaah jumat sama sekali tidak memahami khutbah yang disampaikan, karena yang terpenting ialah khutbah tersebut sudah dibacakan sehingga sudah emmeh=nuhi rukun dan syarat jumat.

Namun jika dicerna lebih jauh sesungguhnya ada maksud yang lebih besar dari sekedar memenuhi rukun dan syarat jumat, karena  khutbah tersbeut dimaksudkan agar umat diingatkan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh mereka sehingga disamping untuk memenuhi syarat dan rukun jumat.  Dengan pengertian dan pemahaman yang dmeikioan, maak khutbah sebaiknya dilaksanakan dengan engnakan bahwa local yang dapat dipahami oleh jamaah.  Pemahaman yang dmeikian tentu jauh lebih makqul dan  memberi manfaat bagi masyarakat ketimbang hanya sekdar orientasi ibadah  saja.

Dengan pemahaman yang seperti itu kita tentu dapat menitipkan pesan penting untuk masyarakat mengenai hal hal yang urgen dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat, serta mungkin juga dapat menitipkan hal hal yang searusnya dihindari oleh mereka karena bahaya yang ada di dalamnya.   Hal yang sudah pasti dalam penyampaian khutbah tersebut ialah bagaimana kita mengingatkan kepada jamaah agar selalu berbuat baik dan meningkatkan kebaikan yang sudah ada.

Walaupun sangat tidak elok tetapi ternyata terjadi juga khutbah yang bermuatan politik tertentu. Jika muatan politik tersebut untuk kebaikan bersama tentu tidak menjadi maslah, namun kalau sudah menyudutkan salah satu pihak,s ehingga menjadi arena kampanye tentu tidak  baik, meskipun mungkin keabsahannya masih harus dilihat terlebihd ahulu apakah ada aspek yang menjadikannya tidak sah ataukah hanya sekdar tidak elok saja.  Khutbah jumat itu sesungguhnya termasuk dalam ranghkaina pelaksanaan shalat jumat, karena itu  seharusnya apa yang disampaikan dalam khutbah juga hal hal baik yang tidak terkait dengan urusan perpolitikan atau hal lain yang tidak pantas menyertai ibadah.

Terkait dengan pemahaman yang hanya memasukkan khutbah dalam persyaratn keabsahan jumat sehingga merka lebih afdlal menggunakan bahwa Arab, walaupun jamaah sama sekali tidak paham, tentu hal tersebut dapat diterima keabsahananya, namun tentu tidak ada  manfaat lain selain ibadah itu sendiri, padahal kalau khutbah etrsebut dapat dipahami oleh jamaah tentu banyak hal yang dapat disampaikan  untuk memperbaiki kondisi umat secara umum.  Memang ada  usaha lainnya yang dilakukan oleh sebagian umat, yakni dnegan melakukan ceramah menjelang khutbah jumat, lalu setelah itu baru mulai masuk dalam prosesi jumat yang khutbahnya hanya berbahasa Arab.

Karena hal tersebut merupakan wilayah  ijtihad, maka sesungguhnya kita hanya dapat menyaksikan saja dan  tentu dengan harapan tidak ada perbedaan yang tajam mengenai hal etrsebut, karena  pada dasarnya semua itu  dilakukan degan  mengambil manfaat momentu jumat yang sudah terkumpul jamaah yang cukup besar tanpa harus bersusah menghadirkan mereka  dalam waktu khusus.  Biarlah apa yang saat ini sudah terjadi tetap  berjalan tanpa harus ada gesekan yang hanya akan menjadikan kegaduhan saja.

Pendeknya kita  dapat menyimpulkan bahwa wasiat yang disampaikan pada saat khutbah jumat itu merupakan pengingat yang seharusnya diperhatikan oleh para jamaah dan sekaligus juga harus ada kesadarn yang kuat untuk mengubah diri  menjadi lebih baik, yakni semakin mampu menjalani semua printah Allah dan sekaligus juga menghindari semua larangan Nya. Jika itu dapat berhasil dan semua umat atau setidaknya mayoritas muslim menjadi lebih bagus kadar keimanan dan ketaqwaannya,  tentu umat akan semakin mendekati kondiai yang ideal.

Jia umat lebih mementingkan peran taqwanya dfan  keimanannya, tentu aka nada dampak yang langsung dapat dirasakan oleh semua, yakni berkat Allah swt yang akan diturunkan langsung dari bumi dan langit, sehingga umat akan  mendapatkan kemudahan dalam segala hal, utamanya yang terkait dengan persoalan kehidupan. Semoga keinginan tesebut akan menjadi kenyataan. Amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.