MERENUNG DI AKHIR TAHUN

Biasanya moment tertentu akan sangat berkesan jika dijadikan sebagai tonggak dalam mengevaluasi diri atau bermuhasabah, contohnya uialan moment tahun baru, karena ada batasan yang sangat jelas, yakni pergantian tahun. Biasanya orang kemudian akan membatasi waktunya dengan pergangtian tahun, sehingga ada keinginan untuk melakukan perubahan atau peningkatan yang dimulai sejak pergantian tahun baru tersebut, sekaligus juga ada keinginan lainnya, yakni ingin meninggalkan segala perbuatan tidak baik yang pernah dilakukan  pada tahun yang lalu.

Lalu apakah yang mesti dilakukan pada saat orang mengevaluasi diri tersebut?  Jika kita mengacu kepada sebuah riwayat yang menyartakan bahwa tanda  keberuntungan orang ialah jika dia selalu ingat kepada kejelekannya dan melupakan kebaikannya, dan sebaliknya tanda orang yang merugi ialah jika dia selalu mengingat kebaikannya dan melupakan kejelekannya, maka kita  secara  senagaja harus mau dan mampu untuk melihat seluruh perbuatan kita, terlebih yang jelek dan merugikan.

Kenapa begitu, sebab dengan melihat dan mengingat kejelekan dan keburukan kita tersebut kita akan dapat mengukur bahwa selama tahun yang lalu, ternyata kita banyak berbuat yang merugikan, baik bagi diri sendiri, maupun bagi pihak lain, padahal menurt nabi Muhammad saw  sebaik baik orang ialah  mereka yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain.  Lalu bagaimana nanti jika  ditanya oleh  malaikat atau mungkin nanti akan dipertanyakan oleh Nbai sendiri tentang pertanggung jawaban sebagai umat beliau?

Karena itu dalam memulai tahun baru sebentar lagi itu harus ada komitmen yang kuat untuk memperbaikinya dan bahkan harus  mampu untuk menjalankan seluruh yang menjadi kewajiban serta meninggalkan semua yang dilarang.  Bahkan akan jauh lebih bagus jika  berusaha untuk menjalankan kebajikan, meskipun bukan merupakan kewajiban, melainkan hanya anjuran saja.  Jika komitmen diri sudah kuiat dan ada ghiorah besar serta keinginan dan niat yang kuat untuk memperbaiki diri, maka semuanya tentu akan lebih mudah untuk dijalankan.

Namun sudah barang tentu akan banyak rintangan dan gangguan yang sewaktu waktu akan mampu menggagalkan  keinginan baik etrsebut, namun kalau kita sudah mengetahui terlebih dahulu, tentu kita akan  mempersiapkan diri dengan lebih mantap.  Kalau kita sadar bahwa  kita mempunyai musuh abadi yang terus akan beraksi untuk memerangi dan tidak rela jika kita berada dalam tataran kebenaran, yakni setan, maka  seharuysnya kita akan mampu mengatasi apapun cara yang digunakan oleh setan tersebut dalam upaya untuk menggelincirkan kita dari jalan yang benar.

Semua orang, meskipun seorang kiyai atau ulama sekalipun, pasti mempunyai kelemahan dan pernah melakukan perbuatan kurang baik, bahkan maksiat, meskipun tanpa disadarinya.  Kita sangat memahami bahwa setan dan iblis selalu akan mencari celah  kepada siapapun untuk menggoda agar tidak berada dalam jalan yang benar, termasuk  misalnya hanya sekedar pikiran jorok atau  menghibah kepada pihak lain yang tanpa disadari telah membuat dosa.  Meskipun juga ada sebagian diantara mereka yang terjebur dalam  perbuatan dosa yang sama sekali tidak pantas dilakukannya.

Biasanya orang akan sulit untuk mengingat perbuatannya yang jelek dan merugikan pihak lain, karena itulah yang diinginkan oleh musuh manusia, sebaliknya manusia akan sangat  mudah mengingat kebaikan yang pernah dijalankannya. Jika manusia banyak mengingat kebaikan demi kebaikan yang pernah dilakukannya, maka biasnya  kemudian dia akan merasakan kepuasan dan merasa bahwa dirinya adalah orang terbaik dan pasti akan mendapatkan banayk keuntungan di akhirat.  Akibatnya dia akan berkuirang semangatnya untuk melakukan kabaikan dan meminta ampun atas dosa yang diperbuatnya.

Sebaliknya jika orang banyak mengingat kepada keburukannya dan lupa atas kebaikan kebaikannya, maka  dia akan merasa bahwa dirinya masih terlalu buruk dan masih harus memperbanyak kebaikan agar  dapat menjadi hamba yang disayang oleh Allah swt.  Karena merasa bahwa dirinya masih terlalu kecil amaliahnya dan terlalu basar maksiat dan dosanya, maka  dalam dirinya kemudian muncul keinginan untuk lebih banyak berbuat kebaikan agar mampu menjadi manusia yang  baik dan nantinya akan selamat saat memasuki gerbang akhirat.

Nah, saat ini kita semua sudah berada di ujung tahun 2018 dan sebentar lagi akan memasuki tahun 2019.  Sudah barang tentu sangat banyak harapan pada tahun depan tersebut, karena siapapun yang  normal tentu akan berharap pada tahun baru akan  mampu meraih sesuatu yang lebib baik ketimbang tahun sebelumnya.  Lalu apakah harapan terbesar kita pada tahun depan tersebut? Setiap orang  pastinya mempunyai keinginan yang berbeda beda, tergantung kepada  pikiran dan lingkungan masing masing.

Bagi mereka yang  setiap saatnya berada dalam lingkungan masyarakat yang sangat swesderhana, maka keinginanya juga mungkin tidak terlalu tinggi, melainkan akan  berada di level sesbagaimana kebiasaannya hidup, namun bagi mereka yang setiap saatnya selalu berada dalam lingkungan masyarakat elit dan sangat banyak pengaruh dari luar yang sudah masuk dalam lingkungan tersebut, tentu akan mempunyai keinginan yang jauh lebih besar dan berat, namun sebagai sebuah keinginan tentu semua itu sah sah saja asalkan kemudian tidak memaksakan diri untuk meraihnya.

Maing masing orang sudah barang tentu akan mengatahui ukuran masing masing. Artinya ada yang  kemampuannya terbatas dan aada pula yang  secara kasat mata memang memungkinkan untuk meraih keinginanya tersebut.  Jadi bagi yang ada keterbtasan dalam benayk hal, tentu juga harus menyadari diri agar tidak terlalu memaksakan kehendaknya, karena jika itu dilakukan, justru malah akan mendapatkan kesulitan dan bukan  kemudahan.  Hanya saja bukan berarti meraih keingian itu tidak boleh, sama sekli bukan begitu, melainkan semua orang harus tahu diri tentang kemampuannya.

Cita cita memang boleh setinggi langit, namun untuk menggapainya tentu harus diperhatikan juga mengenai kemungkinan yang dapat dijalankan. Jika secara rasio tidak memungkinkan,  maka  cukuplah kalau mendapatkan sebagian keinginan tersebut saja, dan selebihnya akan diupayakan pada lain waktu.

Hal yang lebih penting untuk diperhatikan ialah tentang kemampuan kita untuk mendeteksi kejelekan diri kita, apakah kita sudah  merasa berbuat sesuatu yang baik ataukah kita belum merasakannya. Kalau kta mampu untuk mendetaksi keburukan demi keburukan yang pernah kita lakukan, tentu akan semakin baik bagi kita dalam bermuhasabah diri di akhir tahun ini, karena dengan begitu kita akan merasa belum ada apa apanya, dan kita perlu merencanakan sebuah terobosan baru untuk memperbaiki diri, khususnya di tahun baru mendatang, yakni dengan melakukan banyak hal yang memberikan manfaat bagi sesame.

Karena itu hati kita harus ditata sedemikian rupa sehingga akan mampu untuk menetapkan sebuah cita cita baik dan kemudian juga mampu merealisasikannya.  Asalkan ada niat baik, pasti Allah akan memberikan jalan terbaik bagi kita untuk membuktikannya.  Sesungguhnya semua pengetahuan menganai baik dan buruk sejauh ini sudah kita ketahui, meskipun belum secara detail, namun secara umum hal yang baik pasti akan mudah dikenali dan demikian juga hal yang buruk.  Untuk itu tinggal mengendalikan diri melalui  penataan hati dan pikiran saja.  Semoga kita mampu untuk memeprbaiki diri menajdi lebih baik di tahun mendatang, amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.