SEKALI LAGI TENTANG TOLERANSI

Saat ini kita sudah berada di bulan terakhir, yakni desember, dan seperti biasanya  mendekati akhir tahun selalu saja akan muncul banyak persoalan, khususnya yang terkait dengan  bagaimana kita  bertoleransi dengan pemeluk keyakinan lainnya.  Sejak dulu ada tokoh yang menjadi anutan sebagian umat sehingga masing masing orang kemudian saling mengklaim itulah kebenaran.  Khusua terkait dengan perayaan natal bagi umat kristiani misalnya, umat muslim sebagiannya ada yang ikut mengucapkan selamat natal kepada mereka, tetapi sebagiannya ada yang menganggapnya sebagai  keharaman.

Ada tokoh besar di negeri ini yakni Hamka yang memang mengatakan bahwa umat muslim diharamkan ikuit mengucapkan selamat natal kepada kawannya yang  nasrani. Sementara bagi tokoh lainnya seperti Gus Dur, bahkan Din Syamsudin dan Sayafii Maarif sendiri juga tidak mempermasalahkan ucapan selamat natal etrsebut, karena itu bagian dari budaya  dan saling menghargai diantara warga bangsa.  Yang disepakati oleh seluruh  umat tentang  ketidak bolehannya ialah jika kita ikut dalam kegiatan peribadatan mereka.

Jika ada umat muslim mengikuti misi di gereja  dan mengikuti proses peribadatan mereka itulah yang dilarang, sedangkan kalau hanya sekdar mengucapkan selamat kepada mereka  itu tidak menjadi persoalan.  Namun  kita selaku umat tentu tidak boleh saling menuduh yang tidak tidak.  Cukuplah bagi mereka yang tidak mau mengucapkan selamat natal, ya dipersilahkan saja untuk tidak mengucapkannya, sedangkan bagi mereka yang mempunyai kawan yang sedang merayakan natal dan ingin mengucpkan selamat kepada mereka juga dipersilahkan saja tanpa harus saling menyalahkan atau mengkafirkan.

Dalam agama Islam sangat jelas bahwa  Allah swt sendiri telah berfirman bahwa lakum dinukum waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku.  Ini sudah jelas  dan kalau bukan bagian dari agama, maka kita tidak perlu risau dengan keharamannya.  Kalaupun kemudian ada yang menghubungkan antara peringatan natal dengan  ajaran agama, maka itu hanyalah pendapat yang boleh saja benar dan boleh saja salah, karena  peringatan natal itu hanya sekedar memperingati kelahiran  Yesus.

Walaupun kemudian ada yang beranggapa bahwa kelahiran Yesus itu bukan pada saat natal tersebut, itu bukan menjadi urusan kita, karena kita hanya  memberikan ucapan selamat kepada kaan kita yang sedang merayakannya, bukan mempersoalkan apakah benatr Yesus lahir pada saat itu atau bukan.  Urusan keyakinan mereka yng demikian  bukan menadio urusan kita dan kita tidak akan masuk kepada urusan keyakina mereka, melainkan kita hanya ingin mununjukkan perkawanan saja.

Toleransi tersebut juga bukan hanya antara  pemeluk ajaran agama dan keyakinan saja melainkan juga terhadap sesame pemeluk agama yang sama.  Jika ada perbedaan pendapat dan pandangan atau penafsiran terhadap sesuatu, sebaiknya kita juga mengembangkan rasa toleran kepada yang tidak sepaham tersbeut. Persoalan kita yakin dengan pandangan kita sendiri itu harus, namun bukan bebrati kita boleh menghina pandangan yang be4bdea dengan kita tersebut, karena semua keputusan akhir  hanya ada pada Tuhan.  Kita hanya berusaha untuk memahami sebuah teks dan kemudian menyampaikannya kepada pihak lain dengan cara yang sebaik baiknya, bukan dnegan memaksakannya.

Tentu hal tersebut  harus tetap dibatasi pada  hal hal yang menjadi wilayah perbedaan  diantara umat.  Sedangkan bagi wilayah yang sudah disepakati tentu tidak boleh ada yang berbeda, seeprti tentang nabi akhiruzaaman, yakni nabi Muhammad saw, tentang kitab suci yakni alQuran dan lainnya.  Jadi jika ada umat muslim yang mempunyai pendangan bahwa nabi Muhammad saw itu bukan nabi terakhir dan  kemudian dia sendiri malah mengaku sebagai Nabi, maka inilah yang tidak dapat ditoleransi.

Namun demikian cara penanganannya harus dnegan cara yang baik dan yang memungkinkan dia  sendiri bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar, bukan dengan cara menyudutkan dan memperlakukannya sedemikian rupa sehingga malah akan semakin menadi jadi.  Dengan dmeikian  ketika kawan kita sedang merayakan  hari nyepi  atau hari natal atau hari keagamaan lainnya yang sudah diberikan kepastiannya oleh Negara,  maka tidak ada salahnya kita mengucapkan selamat kepada mereka. Namun bagi yang tidak ada kepentingan apa pun dan tidak emmpunyai kewan yang sedang merayakan hari besartersebut, maka  sebaiknya tidak usah mengucapkannya.

Bahkan bagi seorang pejabat yang menjadi  milik bersama seluruh bangsa Indonesia,  sudah seharusnya mengucpkan selamat tersebut untuk memberikan penghargaan kepada mereka.  Tentu kita  mempunyai ukuran kelayakan sendiri  tentang  hal tersebut.  Sebagai contohnya jika kita memang tidak ada kepentingan terhadap sesuatu sebaiknya kita tidak lakukan, bahkan kalaupun kita dikasih misalnya, seperti saat kita dikasih topi sinterklas atau laiannya yang kita sama sekali tidak ada kepentingan untuk itu, maka sebaiknya tidak kita lakukan.

Demikian juga jika kita  berpendapat bahwa umat kita  mempunyai keyakinan yang berbeda dengan kita, dan jika kita menjalani sesuatu yang meskipun kita yakin bukan haram, tetapi mereka menganggap haram, maka jika kita mampu menjelaskannya sebelum kita jalankan dan kita yakin bahwa mereka akan dapat memahaminya, maka bolehlah kita jalankan, tetapi jika kita tidak mampu menjelaskannya maka sebaiknya juga jangan dilakukan, karena pasti akan menimbulkan fitnah dan pergunjingan yang tidak kondusif.

Toleran itu juga bermakna kita menghargai dan mau memahami pikiran dan pandangan pihak lain, meskipun tidak sejalan dengan pemahaman kita. Banyak orang yang ketika memandang posisinya lebih unggul disbanding dnegan pihak lain dan kemudian keduanya berbeda pandangan tentang sesuatu, lalu tidak dapat menrimanya dan memaksakan kehendak serta mengalahkan akal sehat.  Nah, sikap itulah yang harus kita jauhi karena itu sama saja dengqan tidak toleran.

Ketika ada sekumpulan orang sedang menjalankan ibadah menurut agamanya dan kita sedang beraktifitas yang  sanagt ramai sehingga dapat menggangu kekhusyukan mereka  untuk beribadat, maka sebagai bentuk toleransi, kita harus mampu untuk menghen tikan atau melakukannya dengan tidak sampai mengganggu mereka.  Itulah toleran yang benar, sedangkan kalau  toleran dengan keikut sertaan kita dalam mereka menjalani ibadahnya, maka itu bukan lagi toleran, melainkan sudah keblabasan dan  tidak dapat dibenarkan dengan alasan toleran.

Akhirnya kita berharap bahwa seluruh umat mampu memahaminya dan mampu mebedakan antara sikap toleran dengan sikaptidak mempunyai pendirian, sebab toleran itu tidak harus mengorbankan harga diri dan meninggalkan keyakinan yang sudah kita pegang, melainkan toleran itu hanya dilakukan dalam kancah kebudayaan dan kehidupan yang terkait dengqan kehidupan duniawi semata.  Karena itu kalau dengan alsan tolerensi kemudian kita diharuskan untuk ikut masuk dalam sebuah kegiatan peribadatan agama lain, maka kita hatus berani untuk menolaknya.

Semoga  umat semakin cerdas dalam menyikpai setiap kejadian dan  mereka tetap kuat imannya sehingga tidak akan terkoyak atau terkontaminasi oleh alaan alsan yang sengaja ditiupkan untuk emmudarkan ragsa keberagamaan mereka dan akhirnya nanti mereka sama sekali tidak mempunyai pegangan.  Kita selaku orang orang yang mempunyai  pendidikan dan pengalaman tentu berkewajiban untuk memberikan pencerahan kepada umat agar mereka  dapat terselamatkan oleh arus globalisasi yang mengancam keutuhan iman kita,amin.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.