MONGGO ISTIRAHAT MENGHUJAT

Rasanya saat ini kita hiduip dalam lingkungan dekat neraka. Bagaimana tidak kalau setiap saat selalu saja disuguhi oleh berbagai pernyataan yang bernada  menghujat, mencaci, dan ujaran kebencian.  Saya tidak tahu apakah ini pertanda bahwa masyarakat kita belum dewasa dalam menghadapi pemilu dan pilpres? Ataukah saking banyaknya orang orang brengsek yang berada di sekitar kita.   Namun terkadang saya sendiri menjadi bingung karena kenyataannya banyak diantara mereka yang berpendidikan tinggi dan menjadi tokoh di masyarakat, tetapi kenapa mereka mampu berbuat hal yang sangat bertentangan dengan nurani dan tampilan mereka sendiri.

Bahkan secara terang terangan dan menuding  dan tunjuk nama sudha menjadi hal biasa dan  sama sekali tidak ada akhlak di dalam memberikan penilaian kepada  pihak lain.  Bahkan kalau boleh malah ditambah dengan fitnahan yang keji.  Padahal yang difitnah dan dihujat adalah calon pemimpin Negara Indonesia.  Kita tahu bahwa  diantara lebih dari dua ratus lima puluh juta penduduk kita, saat ini hanya muncul dua nama saja.  Itu berarti merekkalah yang sesungguhnya putra terbaik yang dimiliki oleh bangsa ini.  Namun kenapa masih ada  sebagian diantara kita yang masih menghujat.

Apakah ada hokum atau etika yang membenarkan bahwa jika pada saat pemilihan presiden  atau pejabat, lalu diperbolehkan untuk menghujat mereka sehingga mereka benar benar hancur reputasinya.  Setelah itu jika mereka kemudian menjadi pemimpin  kita, lalu kita juga boleh mengkritiknya sedemikian rupa  seolah memang tidak ada lagi hokum yang berjalan di negeri ini.  Mungkin ada anggapan dmeikian karena  saat ini presiden yang masih berkuasa saja   terkadang diperlakukan tidak senonoh oleh pijhak pihak tertentu dan bahkan dihujat difitnah sedemikian rupa keji.

Aapakah ini kepribadian yang cocok dengan bangsa Indonesia yang dulu dikenal sebagai ramah, sopan, dan juga  andap asor. Terkadang kita menangis saat menyaksikan demonstrasi menghujat pemimpin kita sendiri, baik itu bupati, gubernur, bahkan juga presiden.  Padahal kalau mereka salah atau melakukan hal hal yang tidak benar, seharusnya dilaporkan kepada aparat yang berwajib untuk memprosesnya, sehingga tidak lagi diperlukan rame rame dan menghabiskan energy serta mungkin juga membuat khawatir masyarakat luas.

Kalau demikian keadaannya, maka  apa yang kita saksikan saat ini dimana para calon presiden dihujat dan dimaki bahkan dijatuhkan sedemikian rupa tanpa ada perlindungan hokum dari aparat kita, adalah hal yang niscaya.  Tetapi  secara substansial kita tidakl akan dapat menerimanya, karena  seharusnya ada perlindungan kepada semua anak bangsa, terlebih mereka yang  suah ditetapkan sebagai calon presiden dan wakilnya.  Itu semata mata karena mereka sudah terpilih dan terseleksi oleh system yang ada sehingga merekalah yang dianggap terbaik diantara warga bangsa lainnya.

Tentu secara riil  kita tetap berpendapat bahwa masih banyak warga bangsa yang lebih baik ketimbang para calon tersebut, namun secara formal kita juga harus mengakui bahwa merekalah yang sudah terpilih menjadi calon sehingga harus diberikan perlindungan dari kemungkinan dihujat, difirtnah dan diperlakukan semena mena.  Janganlkan para calon presiden dan wakilnya, rakyat biasa saja seharusnya juga mendapatkan eprlindungan dari semua  yang menyakitkan tersebut.

Secara  agama, apalagi kita dilarang untuk menghujat, mencaci dan memfitnah kepada pihak lain, meskipun pihak lain tersebut bertindak menjengkelkan sekalipun.  Kita harus meniru  perilaku nabi kita Muhammad saw yang tidak pernah menghujat, mencaci atau memfitmnah siapapun, bahkan ketika beliau disakiti  dicaci maki dan lainnya beliau tetap saja diam tanpa membalsas sedikitpun.  Beliau selalu mengedepankan pemberian maaf, karena  merka yang menghujat, mencaci dan memfitnah tersebut disebabkan belum tahu yang sebenarnya.

Mari kita membiasakan diri untuk memberikan maaf kepada sesame, bukan malah dendam dan  melampiaskannya  melalui berbagai cara, seperti ujaran kebencian, hujatan, cacian, dan lainnya.  Kita harus tetap ingat kepada akhirat dimana seluruh perbuatan kita nantinya pasti akan diberikan imbalannya.  Jangan sampai kita nanti justru akan tidak selamat di akhirat karena terlalu banyak dosa yang sudah kita perbuat, terutama saat menjeklang pilpres, yakni dengan menghujat, mencaci dan juga memfitnah orang lain.

Kita harus yakin bahwa hujatan, cacian dan fitnah itu tidak akan pernah memuaskan diri, bahkan yang ada akan terus  timbul hasrat untuk meluapkan emosi.  Ingatlah jika itu yang terjadi, maka sesungguhnya  itulah dorongan setan yang sengaja ingin menjungkalkan kita.  Mungkin pada saat keinginannya untuk menjatuhkan pihak lain terkabul, dia akan sedikit merasakan kepuasan, tetapi itu bukan  sesungguhnya, karena dalam waktu singkat pasti akan timbul gejolak dalam dirinya bahwa dia seharusnya  akan memperlakukan yang lebih dari sekedar menjatuhkan, melainkan juga menjerembabkan sehingga tidak akan pernah dapat bangkit.

Kita harus yakin bahwa para calon presiden yang adngga mereka pastinya tidak menginginkan adanya gejolak di masyarakat. Mereka juga pasti tidak ingin ada fitnahan diantara masyarakat, tidak ada hujatan  dan cacian.  Mereka menginginkan ketenangan dan kedamaian, meskipun mereka pastinya menginginkan kemenangan dalam kontestasi pilpres mendatang.  Namun yang pasti mereka menginginkan kemenangan yang didapat secara fair dan terhormat, tanpa harus melukai siapapun. Bahkan mereka menginginkan  yang kalah nanti dapat membantu yang menang dalam mengurus dan mengelola Negara.

Kalua demikian keadaannya, tentu apa yang dilakukan oleh orang orang di sekitar mereka yang justru melakukan pembullyan kep[ada pihak lain, tentu sama sekali tidak sejalan dengan keingian mereka.  Kita ingin para capres dan cawapres akan tegas untuk memberikan sanksi kepada siapapun termasuk timsesnya yang melakukan pelanggaran terhadap aturan main, bukan membiarkannya.  Sebab kalau mereka membiarkan, maka masyarakat akan mengesankan bahwa itu memang didesain oleh mereka atau setidaknya mereka menyetujui cara cara burtuk seperti itu.

Sungguh masyarakt pastinya akan sangat respek kepada para calon jika mereka dengan tegas memberikan sanksi kepada siapapun  termasuk timsesnya yang melanggar, karena itu berarti mereka konsisten delam menegakkan hokum dan akan memberikan harapan yang optimis kepada masyarakat tentang penegakan hokum di masa mendatang.  Kita tunggi reaksi mereka setelah menyaksikan banyaknya  lontaran hujatan dan cacian serta fitnahan ynag dilakukan oleh timses mereka.  Semoga para capres  akan segera  melakukan tindakan terpuji dan  melegakan masyarakat tersebut, yakni dengan tegas menindak  timsesnya yang melanggar hokum.

Sesungguhnya saya sendiri memaklumi   kepada para capres dan cawapres, karena kesibukan mereka dalam menjalani kegiatan, sehingga tidak sempat untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja timsesnya. Namun seharusnya ada pihak lain di dalam timses yang menyadarin hal tersebut dan kemudian melaporkan kepada capresnya untuk melakukan  tindakan yang justru akan menguntungkannya, yakni memberikan sanksi kepada yang terbukti melanggar hokum, sekecil apapun.

Secara lebih umum saya mengajak kepada semua  anak bangsa ini, baik yang menjadi tyimses ataupun yang hanya sebagai simpatisan dan masyarakat umum untuk segera menghentikan praktek menghujat, mencaci dan juga finah, karena itu smeua sama sekali bertentangan dengan kepribadian bangsa kita dan tentu itu merupakan sebuah dosa yang nanti pasti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah swt di akhirat.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.