MARI CIPTAKAN PILPRES YANG MENYENANGKAN DAN JAUH DARI FITNAH

Sampai detik ini, ternyata masih banyak orang yang suka menyerang atau memojokkan atau bahkan memfitnah pihak lain  dengan harapan masyarakat akan emmeprcayainya dan membuat masyarakat menjauhinya dan tidak memilihnya pada saat pilpres tersebut.  Mereka sama sekali tidak meikirkan bagaimana akibat dari fitnah etrsebut karea pada saatnya nanti, yakni saat usai pilpres kita semua adalah satu bangsa dan bersaudara.  Padahal kita tahu baha akibat kata kata yang menyakitkan tersebut terkadang efekmnya jauh lebih lama dirasakan ketimbang terkena pisau misalnya.

Lantas bagaimana kita akan membangunnya kembali setelah kita membuat luka yang sangat dalam?  Kalu yang melakukan  fitnah tersebut orang biasa atau orang kecil yang tidak emmpunyai status apapun, mungkin tidak terlalu digubrris oleh pihak lain, namun jika hal etrsebut diungkapkan oleh orang yang sedang mempunyai jabatan tertentu dan menjadi timsukses salah satu pasangan  pastinya akan  menjadikan efek tidak bagus, bahkan mungkin juga bagi pasangan yang didukungnya.

Ada banyak catatn dari pihak pihak yang  dapat dikategorikan sebagai pernyataa hoax dan juga  permusuhan, namun  setelah beberapa waktu berjalan dan setelah masing masing capres menyampaikan bahwa tidak perlu ada fitnah dan hoax yang harus disebarkan,  pada y=umumnya sudah cukup  mereda, akan tetapi masih ada saja pihak yang teap melakukannya.  Entha apa maunya karena kita juga tidak mengerti tujuannya. Mungkin ada rasa dendam kepada seseorang ataukah memang sengaja untuk tetap memberiakn kesan negative kepada lawan p[olitiknya atau dengan alaasan lainnya.

Kita tahu bahwa  untuk pilpres nanti hanya da dua calon pasangan, dan keduanya tentu merupakan sosok yang baik dan mumpuni, dan karena itu merek sama sekali tidak ingin memecah belah bangsanya sendiri, karena itu mwereka melarang timsesnya untuk menyerang pihak lainnya.  Mereka menginginkan pilpres berjalan dnegan baik, damai dan rakyat antusias untuk memilih, bukan takut dan  apatis.  Karena itu keduanya pstinya menginginkan timsesnya akan menyampaiakn program ke depannya dan  tidak menujukkan kejelekan lawan politiknya.

Cukuplah menunjukkan prestasi yang sudah dijalankan  dan masyartakatlah yang nantinya akan menentukan pilihannya. Namun timsesnya ternyata tidak mematuhi apa yang disampaikan oleh capresnya , malahan menentukan sikapnya sendiri yang tidak sejalan dengan apa yang disampaikan oleh pengantennya.  Itulah kenyataannya sehingga sampai sata ini kita masih menyaksikan adanya penyebaran hoax, bahkan fitnah yang selalu menghiasi media social kita.  Lalu apa yang kita harapkan dengan pesta demokrtasi ini? Apakah kita akan mengadu rakyat kita sendiri atau kita ingin memecah belah warga kita sendiri?

Tentu kita smeua sepakat bahwa kita harus tetap menjaga kerukunan seluruh wraga bangsa sampai kapan pun.  Untuk itu kita harus memerangi bersmaa   beredarnya hoax dan fitnah tersebut, bahkan times harus berani memberikan sanksi kepada anggotanya yang melakukan penyebaran hoax dan fitnah tersebut, jika kita memang menginginkan pilpres yang bermartabat.  Biarlah masyarakat nanti yang akan memilih calon pasangan dari hati nurani merkaa, bukan dari pengaruh hoax dan fitnah atau  informasi miring lainnya.

Kita yakin bahwa masing masing pasangan capres sudah mengantongi informssi tentang pemilih di Negara kita, karena itu sudah sewajarnya mereka tidak lagi membuat hal hal yang justru dapat meruntuhkan kepercayaan umat kepada merka.  Sehartusnya mereka justru menujukkan simpatinya kepada maysrakat dan menciptkan kondisi yang kondusif serta mengajak kepada masyarakat untuk tetap optimis menjemput masa depan.

Tuduhan  yang terkait dengan pribadi masing masing calon harus dihindarkan oleh semua akyat Indonesia, karena itu bukan kepribadian orang Indonesia. Mnuduh  sebagai PKI atau  bukan muslim atau muallaf atau antek asing dan lainnya sudah seharusnya diakhiri, karena itu hanya akan emmbawa luka yang mendalam dan menyisakan  kegetioran bagi pihak pihak tertentu.  Kedua calon presiden kita tersebut tentu sudah melalui uji kelayakan oleh masing masing partai politik sehingga kita anggap sebagai putra terbnaik negeri ini.

Soal kemudian siapa yang pantas menjadi presiden, menurut logika kita  keduanya adalah layak untuk menjadi presiden, tergantung pilihan rakyat.  Jika ada diantara mereka yang tiodak layak, tentu saat ini juga mereka akan digagal;kan menjadi calaon, karena untuk emnjadi calon presiden harus memenuhi syarat syarat tertentu.  Karena itu kita tidak perlu berdebat tentang sesuatu yang tidak adagunanya, seprti pantskah  salah satu calon menadi presdien atau  layakkah merk jadi presiden.  Jawabannya sekali lagi merka itu layak untuk menjadi presiden.

Namun yang harus disadarti ialah kalau pilihan rakyatlah yang nanti akan mengantarkan salah satu diantara pasangan etrsebut yang akan menghni istana.  Akan tetapi bukan berarti yang tidak dipilih oleh rakyat kemudian mereka tidak pantas untuk menjadi presiden, melainkan hanya belum ditakdirkan oleh Allah swt untuk menjadi presiden.  Dengan sikap yang demikian kita yakin pilpres nanti akan berjalan dengan damai dan  saatb penghitungan suara pun pasti tidak akan menyisakan perdebatan serius karena semua itu yang menentukan adalah rakyat, bukan seseorang dan juga bukan partai politik.

Dengan kodnsii seperti itu ikita masih dapat berharap pasangan yang kalah pun akan tetap mendukung yang dip[ilih oleh rakyat sehingga tidak ada endam atau tidak ada sakit hati dan sejenisnya, karena itu merupakan kompetisi menuju sebuah kepemimpinan yang diharapkan  akan membawa kesejahteraan bagi sleuruh rakyat Indonesia.  Saya kok sangat yakin jika pilpres dapat berjalan dengan damai dan semua pihak mengentikan penyebaran hoax dan fitnah, maka aiapapun yang kalah tidak akan merasakan kegetiran dan bahkan malah akan membantu presiden terpilih untuk mewujudkan visi dan misinya serta programnya.

Kita menginginkan dan merindukan kondisi yang demikian, namun jika  hoax dan fitnah masih marak sepeerti saat ini kita menjadi pesimistis untuk terciptanya pilpres yang  menyenangkan dan menyisakan kebahagiaan bagi seluruh rakyat. Bahkan ungkin akan terjadi sebaliknya, yakni tetap adanya dendam dan permusuhan meskipun secara terselubung seperti kondisi saat ini dan saat yang lalu. Kondisi sebegaimana yang kita harapkan  akan dapat kita raih jika semua pihak menyadarinya dan mau menjadi pihak yang bertanggung jawab atas jalannya pilpres yang menyenangkan tersebut.

Caranya ialah masing masing tokoh yang mendukung masing masing calon harus tegas  dan melarang timsesnya untuk melakukan hal hal sebagaimana tersbeut, dan bahkan berani meberikan sanksi hukuman bagi yang ternyata melanggarnya.  Para tokoh tersebut harus yakin bahwa menyebarkan hoax dan memfitnah pihak lain bukannya akan menguntungkan, melaiinkan justru akan merugikan sendiri karena sebagian besar rakyat sudah pintar dan mereka pasti tidak akan memilih calon yang dihuni oleh orang orang yang suka menyebarkan hoax dan fitnah.

Semoga saja mereka menyadari hal etrsebut dan segera mencabut penyebarabn hoax dan fitnah serta sesegera mungkin menciptakan  hal hal yang simpatik kepada masyarakat dan meberikan harapan baik ke depan.  Masyarakat saat ini hanya menginginkan adanya perubahan kea rah yang lebih bagus, bukan hanya dengan menjelek jelekkan pihak lain atau mnghubung hubungkan sesuatu yang sesunggun=hnya tidak terhubung, semoga.

 

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.