BENARKLAH RASULULLAH SAW MARAH

Rasanya kita tidak mungkin untuk menyatakan bahwa  rasulullah saw pernah marah karena sifat marah itu biasanya identic dengan emosi dan kemudian hilang sebagian akal, dan tentu itu tidak pautu dialamatkan kepada rasulullah saw  sang nabi dan manusia yang sempurna. Namun  apakah benar raul sebagai manusia biasa sama sekali tidak pernah marah? Padahal; marah itu merupakan sifat wajar yang  nempel di dalam diri manusia.  Lalu rasulullah saw itu jenis manusia tetapi sesungguhnya tidak speerti manusia biasa, beliau adalah Nabi dan utusan Allah swt.

Jika kita mengenang  benay sifat yang dipraktekkan oleh beliau betapa beliau tidak akan tersinggung jika dihujat atau dicaci maki atau disakiti sekalipun, abhakn beliau ,alah emmbalsa dengan kasih saying. Ingatlah kisah seorang permpuan Yahudi yang terus menginda dna mencaci Nabi padahal nabi lah orang yang selama ini peduli kepadanya dan selalu emnyuapinya setiap hari. Demikian juga dnegan seorang yahudi yang kerjanya setiap hari hanya menyakiti Nabi dengan meludahi beliau, tetapi justru beliaulah orang pertama yang mau menenguk saat dia sakit dan bukan  teman temannya  yahudi.

Pernah suatu kesempatan beliau sedang akan makan  sesuatu  di rumahnya sendiri lalu dating seorang memionta belas kasihan karena kelaparan, lalu dnegan tersenyum dan tulus beliau emmberikan makanan yang sedianya akan dimakannya sendiri kepada orang tersebut.  Tentu masih banyakm lagi kisah yang memberikan informasi betapa mulia hati beliau dan kasihnya beliau kepada seama umat manusia meskipun orang tersebut sama sekali tidak emmpeduliakn beliau.

Berangkat dari kenyataan tersebut rasanya kita tidak mungkin menyatakan bahwa nabi marah. Lantas dengan alasan apa beliau sampai harus marah padahal ketika beliau disakliti dicaci maki dan bulli, beliau tetap saja  tersenyum dan berlaku baik.  Jika kita memandangnya dari sudut ini kita tidak mungkin akan mengatakan bahwa nabi Muhammad saw pernah marah, namun jika kita kemduain melihat sejarah yang divatat oleh  para sejarahwan para muhaddisin, ternyata kita dapat memeproleh bebrapa riwayat yang menyatakan abwha Nabi pernah ghadlab abhakn terkadang sangat besar ghadlanb beliau.

Nah, kondisi ini tentu harus kita pahamis ecara cermat sehingga nantinya tidak akan emnimbulkan kesalahnd alam memahaminya.  Konteks Nabi marah itu  bukan karena beliau dirugikan atau karrena dicaci atau karena hal lain, melainkan  kemarahan beliau disebabkan untuk sesuatu tyang hak dan sekaligus untuk emmberikan  warning kepada umat beliau agar tidak tercebur dalam hal yang dilarang dan emmbahayakan bagi diri umatnya tersebut.

Kita catat marah beliau itu porposional dan hanya untuk diperhatikan umatnya, jadi tidaka da lagi emosi yang sampai emnghilangkan sebgaian akal beliau sebagiaman marahnya orang biasa yang terkadang sampai lupa diri dan melakukan apapun yang  termasuks esuatu yang dilarang juga.  Nabi tidak demikian karena marah beliau terkait dengan p[elanggaran etika dan sesuatu yang inginbeliau ajarkan dengan etakan tertentu agar lebih diperhatikan. Salahs atunya ialh tentang adanya sebagaian sahabat yang terlalu lama saat menjadi imam shalat, padahala imam itu harus memahami bahwa yang makmaum kepadanya itu ada orang tua, orang yang sedang sakit, permpuan yang membawa anak kecil dan juga orang yang emmpunyai keperluan.

Saat Nabi mengingatkan kepada imam tersbeut nada beliau memang tinggi dan sepertinya marah, tetapi bukan karena  beliau tidsk suka  kepada sahabatnya tersebut, tetapi justru hanya ingin mengingatkan bahwa kalau menjadi pemimpin itu harus mengetahui kebutuhan dan semua yang dirasakan oleh makmumnya atau rakyatnya.  Rasnaya kalau demikian halnya maka marahnya rasul itu proporsional dan memang harus ada penekanan tertentu agar diingat oleh semua umat beliau.

Contoh lainnya ialah pada saat beliau menekankan betapa  harus menjauhi yang namanya bid’ah karena itu akan emmbahayakan dan merusak sendi sendiri islam, maka nada penyampaian beliau seperti marah dan beliau wanti wanti agar tidak emndekatinya karena semua bentuk bid’ah itu adalah sesat. Nah nada yang beliau sampaikan tersbeut emmang sangat keras dan wajah beliau juga sampai memerah p[ertanda itu serius dan beliau memang berharap abhwa semua umat beliau emnjauhi bid’ah etrsebut.

Jadi marah beliau tidak tertuju kepada individu yang melakukan kesalahan misalnya atau karena beliau benci kepada seseorang, melainkan semua dilakukan untuk memberikan  warning kepada smeua umat agar memperhatikan apa yang ditekankan  tersebut. Jadi kesimpulannya  bahwa Nabi juga pernah marah namun matahnya bukan marah yang dibimbing oleh nafsu dan emosi, sehingga akan emnabrak aturan yang ada, emlainkan justru marah eliau adalah untuk mengingatkan kepada umat agar memperhatikan apa yang disampaikan  oleh beliau.  Jika dmeikian halnya seungguhnya  kalau dikatakan Nabi tidak pernah marah itu juga benar adanya jika definisi marah itu sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang pada umumnya.

Sudah pasti kita sangat yakin bahwa nabi tidak akan pernah dibiarkan untuk melakukan apapun yang dibimbing oleh nafsu dan jauh dari kebajikan. Apa saja yang beliau lakukan pasti  adalah sebuah kebaikan yang jika diikuti pasti akan menajdi kebaikan juga.  Bukankah Allah sendiri telah menyatakan bahwa akhlak nabi itu begitu agung sehingga sangat jauh kalau kemudian  dikatakan bahwa Nabi pernah marah sebagaimana marahnya manusia biasa. Tetapi yang enar  ialah jika pun Nabi pernah marah maka itu  karena sesuatu yang hak danmemang harus ada penekanan tersebut dan itu bukan termasuk marah yang dibimbing oleh nafsu atau emosi.

Riwayat dalam hadis memang ada pernyataan ghadalab yang berarti marah, namun ketika kita cek tentang arah dan kemarahan beliau ternyata buklan dalam hal  yang lain melainkan hanya terhadaop sesuatu yang ingin diajarkan beliau kepada umatnya dan diperhatikan denagn seksama, sehinga dengan dmeikian kalau ghadlab tersbeut dimaknai selain marah juga tidak salah karena memang konteksnya bukan marah sebagaimana dipahami oleh kebanyakan manusia melainkan marah yang khusus yang ditunjukakn oleh beliau.

Isteri tercinta beliau Aisyah juga pernah mengatakan bahwa akhlak Nabi ialah alquran itu sendiri. Jadi kalau akhlak beliau ialah alquran, lalu  mampukah kiat memberikan label bahwa nabi pernah marah sebagai pengertian kebanyakan orang?  Marah dalam arti umum tersebut akan dapat menurunkan derjat beliau, sehingga  memang benar harus dijelaskan posisinya bahwa beliau pernah marah tetapi bukan sebagaimana pemahaman kebanyakan orang tentang marah tersebut.

Dengan penjelasan etrsebut kiranya menjadi klir peroalan ini karena bagaimanapun kita berkewajiban untuk meluruskan persoaln apalagi terkait dengan posisi anabi dan keberadaannya sebagai utusan Allah swt.  Kita tidak ingin ada sebagian umat beliau yang memahami salah tentang kondisi etrsebut sehingga seolah nabi pernah melakukan hal hal yang tidak patut yang hanya akan merusak reputasi beliau sebagai seorang  nabi dan rasul.

Dengan dmeikian kita  memang hartus terus menerus menjelaskn apapun yang terkait dnegan Nabi yang dapat dipahamis ebagai emndegradasi kenabian beliau. Sebab sangat mungkin kalau benar ada riwayat tentang diri beliau lalu dapat dikonotasikan dengans esuatu yang  rendah, maka sesunggunnya itu  ada maksuda yang lain yang tidak diketahui oleh banyak orang dan karena itu  hal tersbeut memang harus dijelaskan agar smeua menjadi tidak ada ganjalan, semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.