SIMPATI UNTUK MUSLIM UIGHUR

Tragedi kemanusiaan kembali muncul. Kali ini terjadi di China sebelah barat dimana  para muslim di sana diperlakukan tidak manusiawi. Sesungguhnya sudah cukup lama berlangsung dan sudah banyak pula  yang mengkritiknya bahkan menentangnya, tetapi rupanya pemerintah beijing tetap pada pendiriannya dengan alasan  untuk mengamankan negara dari ancaman para ekstrimis, teroris dan  radikalis.  Dengan begitu pemerintah china sepertinya memang tidak akan pernh menanggapi ebrbagai protes dari masyarakat dunia.

Sebagaimana kita tahu bahwa etnis uighur China merupakan sebagian  rakyat China yang beragama Islam, dan kebanyakan  mereka adalah keturunan Turki. Konon menurut cerita bahwa etnis Uighur tersebut tidka mau tunduk kepada pemerintah beijing dan selalu saja melakukan perlawanan sehingga pemerintah kemudian mengawasi mereka dan abhkan ekmudian juga menangkap mereka dan menyiksanya. Kondisi tersbeut tentu akan semakin membuat mereka  marah dan melakukan perlawanan.

Bahkan kemudian konon pemerintah china membuat kamp kamp khusus untuk mendidik ulang mereka dan  memaksa mereka untuk meninggalkan agama dan keyakinan mereka.  Tentu saja ha tersebut menambah deretan kesengsaraan etnis tersebut.  Atas nama kemanusiaaan masyarakat dunia sudah melakukan banyak protes atas perlakuna kejam pemerintah china terhadap etnis tersebut dan  dihimbau untuk segera menghentikan smeua aktifitas yang menyiksa  dan membunuh.

Kondisi demikian dimana  masyarakat internasional hanya dapat mengecam dan menghimbau dan sama sekali tidak mampu untuk terjun langsung untuk menghentikan tidakan biadap tersebut akhirnya membuat beberapa pihak yang masih mempunyai simpati kepada mereka hanya berdoa  saja.  Harapannya Tuhan akan mengabulkan doa mereka dan menghentikan tindaklan  biadap pemerintah china kepada etnis uighur tersebut.  Kita yang berada di Indonesia  juga demikian, bukan semata mata karena sesama muslim, melainkan lebih banyak disebabkan  adanya tragedi kemanusiaan yang begitu menyayat hati.

Mungkin diperlukan  pengingatn kembali kepada PBB untuk lebih tegas lagi kepada china agar segera menghentikan perlakuan kejam mereka kepada  rakyat uighur. Karena sejatinya PBB sudah cukup lama menghimbau kepada pemerintah china untuk masalah etnis etrsebut. Namun rupanya  china memang mempunyai alasan tersendiri sehingga himbauan  masyarakat dunia termasuk PBB sama sekali tidak diindahkan.

Kita masih yakin bahwa jika masyarakat dunia seluruhnya menghimbau kepada pemerintah China untuk menghentikan penganiayaan kepada etnis Uighur dan dilakukan secara massif, tentu china akan berpikir juga untuk segera menghentikan perbuatan biadab mereka, bukan atass nama agama,  melainkan dengan mengatas namakan kemanusiaan. Martabat  manusia tentu harus dijunjung tinggi oleh smeua bangsa tidak terkecuali, meskipun misalnya masih ada sebagian bangsa yang mengaku sebagai ras tertinggi.

Seluruh dunai  saat ini sudah mengakui tentang hak asasi manusia , meskipun ada perbedaan warna kulit, ras dan juga keyakinan agama, namun semua sepakat atas nama kemanusiaan seluruh dunia harus menghargai martabat manusia sebagai makhluk Tuhan yang mempunyai keduukan yang sama.  Namun kita memang sadar masih ada di dunia ini yang tidak mau untuk mengakui hal etrsebut, akan tetapi jika mereka  melakukan  rasis  dimuka umum tentu juga akan tidak nyaman, karena pasti akan menjadi perhatian dunia.

Karena itu kita masih berharap bahwa penindasan dan perlakuan tidak manusiawi  tidak lagi akan muncul, apalagi kalau dilakukan secara massif dan mengorbankan banyak  pihak.  Idealnya kalau seluruh dunia sudah mengakui tentang HAM tersebut, jika ada sebagian negaera yang melakukan pelanggaran, maka harus ada tindakan nyata dari Negara lainnya agar tidak menjadi presedena buruk bagi penegakan hak hak azasi manusia.  Beberapa waktu yang lalu di Myanmar ada etnis Rohingya yang kebetulan mayoritas muslim yang diperlakukan tidak manusiawi oleh pemetintah Myanmar, dan kini di China.

Kita akan mendukung berbagai protes yang terjadi di belahan dunia, seperti di Eropa, Jepang dan Negara lainnya, termasuk di negera kita, meskkpun mungkin  kadarnya tidak semassif  sebelumnya. Bagi kita yang memang tidak terbiasa dengan protes atau demonstrasi, sebaiknya memang melakukan qunut nazilah dan berdoa  untuk keselamatan dan kesejahteraan etnis Uighur yang sedang menderita.  Harapannya mereka akan mendapatkan kebebasan dalam mengekspresikan  imannya dan sekaligus juga mendapatkan hak haknya sebegaimana manusia lainnya.

Tentu semua itu masih tergantung kepada etnis tersebut sendiri. Barangkali apa yang diklaim oleh pemerintah China memang ada benarnya bahwa  mereka memang  menjadi kaum sparatis yang selalu mengganggu pemerintah china dan ada bukti bukti nyata tentang hal etrsebut.  Namun  jika klaim tersbeut tidak benar sebagaimana laporan  dan informasi pihak lainnya, maka pemrintah china juga harus segera membebaskan mereka agar mereka dapat menjalani hidup dengan nyaman,damai dan penuh  harapan masa depan.

Dalam kondisi simpang siur informasi tersebut sebaiknya pihak PBB yang mungkin untuk melaklukan  penelitian tentang kebenaran klaim klaim tersbeut. Lembaga PBB memang sudah sewajarnya mencari fakta dan emmbuktikan klaim dari dua belah pijhak yang memberikan informasi saling bertentangan, Jika memang pemerintah china yang benar bahwa etnis Uighur tersbeut merupakan kaum separatis yang ingin memisahkan diri dan emmberontak kepada pemerintah yang sah, maka itu menjadi urusan dalam negeri china. Dan tentu saja  tetap harus dijaga  cara yang dilakukannya.

Namun jika klaim pemerintah china tersbeut tidak benar dan etnis Uighur tersbeut memang diperlakukan  secara tidak manusiawi dan idipaksa untuk mengikuti pendidikan tertentu serta harus meninggalkan keyakinan agamanya.  Apalagi kalau kemudian ada kekerasan bagi siapaun yang menentang perlakuan tersebut atau bahkan akan disakiti hingga dibunuh, maka sudah barang tentu dunia harus mengutuk perbuatan biadab pemerintah china tersebut.

Sepertinya dunia ini memang belum aman karena masih menyisakan sebagaian orang yang tidak mau tahu tentang penderitaan pihak lain, bahkan cenderung melakukan penyiksaan.  Kalau memang dmeikian halnya, kita petut bertanya untuk apakah ada PBB yang didengung dengungkan, kalau kemudian tidak mampu mengatasi masalah yang timbul dan bahkan mungkin malah dijadikan sebagai alat oleh beberapa Negara untuk menguntungkan dan meemperbesar pengaruhnya di dunia.  Sudah selayaknya PBB menjadi penengah dan penyelesai seluruh persoalan yang muncul di negera negera yang ada.

Terkadang kita  juga menjadi lupa bahwa kalau berhadapan dengan masyarakat dunia kita seharusnya  melakukan   pembelaan atas aniaya yang dilakukan oleh pihak tertentu dengan alasan  yang dapat diterima oleh masyarakat dunia, bukan atas nama agama tertentu yang mungkin malah akan tidak menimbulkan simpati kepada masyarakat duinia itu sendiri.  Bayangkan sauja kelau kita  memprotes etnis auighur dengan melandaskan diri kepada  agama yang dianut oleh mereka, dan karena kita juga seorang muslim yang harus membela mereka, maka itu justru akan mengurasi simpati dunai kepada mereka.

Cobalah kita lebih kritis lagi dalam mengemukakan argumentasi, yakni tentang  kemanusiaan misalnya yang smeua umat di dunia ini pasti akan ikut simpati dan mersakan betapa penderitaan mereka begitu hebatnya.  Sementara ketika kita hanya berhadapan dengan amsyarakat muslim dalam lingkup yang lebih sempit, bolehlah kita menyampaikan alasan sesame muslim dan seiman, karena lasan etrsebut justru akan lebih manjur untuk membangkitkan semangat dan militansi mereka.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.