BAYI YANG BARU LAHIR PUN HARUS MENGINAP DI TAHANAN

Ada kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa  jika  orang berbuat salah, maka tidak saja dirinya yang harus menanggung akibatnya, melainkan juga orang lain dapat kena getahnya. Ambil Contoh misalnya kejadian di Bereun Aceh, seorang perempuan yang bernama Maghfirah yang dituduh menjadi calo CPNS dan merugikan banyak pihak, akhirnya harus berurusan dengan hokum.  Saat ini dia harus menanggung perbuatannya, yakni ditahan oleh hakim sambil menunggu keputusan perkaranya.

Kebetulan bulan Agustus yang lalu dia melahirkan bayi kembar 3 yang saat ini masih emmbutuhkan asinya sehingga bayi tersbeut haus ikut menginap di tahanan. Kita berdoa semoga bayi tersbeut tidak akan mengikutin jejek orang tuanya meskipun saat bayinya harus tidur di tahanan juga.  Namun demikian tentu pihak yang terkait pasti telah menyesuaikan segala sesuatunya  agar bayi yang diajak serta menginap di tahanan tidak akan terganggu pertumbuhannya.

Dalam persoalan ini kita memang tidak menyalahkan hakim atau jaksia atau siapapun yang menahan orang tua bayi tersebut, karena demi proses hokum penahanan tersbeut memang harus dijalani. Ini murni kesalahan dari ibu tersebut, karena telah melakukan tindak pidana  menjadi calo dan merugikan banyak pihak.  Sedangkan bayionya tetap saja tidak salah dan nanti jika sudah memungkina tidak harus dekat dengan ibunya, maka bayi tersebut akan dipisahkan dnegan ibunya. Terutama nanti kalau ibunya masuk penjara dan bayinya diharapkan ada pihak yang akan merawatnya.

Memang dunia ini serba unik, banyak saja periostiwa yang mengundang  keprihatinan, meskipun terkadang kita harus mampu memahaminya.  Namun ada juga kasus yang bukan salah dari seseorang, melainkan justru kesalahan dating dari pihak lain yang kurang jeli dalam memandang persoalan, contohnya ialah ibu Baiq Nuril yang divonis 6 bulan oleh amahkamah Agung dalam kasasi, setelah dia dianggap salah telah mempermalukan seorang mantan kepala sekolah dan juga keluarganya.  Padhal substansinya yang membeuat malu ialah diri kepala sekolah sendiri yang telah melakukan pelecehan seksual kepada baiq.

Itulah kenyataan di dunia ini yang terkadang tidak sesuai dengan logika kita. Kasus seorang guru yang dipolsikan dan kemudian juga harus berurusan dnegan pengadilan dan  celakanya pengadilan juga hanya melihat satu sisi saja sehingga  seseorang yang tidak semestinya dihukum, terpaksa harus masuk penjara.  Seornag guru tugas utamanya ialah mendidik, dan mendidik itu tidak identic dengan mengajar, karena mendidik itu memerlukan proses pembentukan karakter sehingga diperlukan proses pembiasaan terhadap sesuatu yang dididikkannya.

Jika anak didik melakukan kesalahan, pendidik wajib memberikan sanksi hukuman yang tidak fatal, namun diharapkan anak didik akan  menyadari kesalahan dan memperbaikinya di masa mendatang.  Karena itu sangat wajar kalau seorang pendidik  mencubit atau sekesar  memberikan sanksi untuk lari mengitari halaman atau sanksi lainnya seuai dnegan kebutuahn anak didik.  Namun jika  ada anak didik  yang diberikan sanksi oleh pendidiknya dan lalu melaporkan sanksi tersbeut kepada orang tuanya dan orang tua tersebut menindak lanjutinya dengan melaporkan pendidik tersbeut kepada polisi dengan tuduhan melakukan penganiayaan, maka ini sudah keterlaluan.

Apa lagi kalau kemudian polisi juga menindak lanjtinya dengan memproses perkaranya tanpa harus melihat substansinya dan tanpa mengindahkan proses pendidikan yang sedang dijalani, tentu ini akan merusak pendidikan kita.  Pendidikan sesungguhnya bukan menjadi tugas seorang guru semata, meolainkan juga orang tua berkewjiban ikuit mendukung pendidikan tersebut.  Seharusnya orang tua malah berterima kasih kepada guru yang memberikan sanksi kepada anaknya, sebab hal tersbeut akan mampu memberikan pendidikan yang baik bagi anaknya.

Kita tidak  dapat membayangkan jika anak dimanja sepetri itu  dan pada saatnya hjustru para guru takut memberikan sanksi kepada anak didik dan  selanjutnya anak didik akan semakin kurang ajar dan berani kepada gurunya. Pertanyaannya kalau sudah dmeikian, maka apa yang dapat kita harapkan dari pendidikan tersebut?.  Beruntung atas  komenter dari banyak ahali pendidikan, akhirnya  MA mengeluarkan  edaran yang menyatakan bahwa seorang pendidik yang memberikan sanksi kepada anak didiknya tidak dapat dipenjara.  Sesungguhnya substansinya sudah ada dalam PP yang sayangnya tidak pernah dihiraukan oleh smeua pihak.

Kita juga  pernah mendapai anak yang harus dilahirkan di penjara, karena pada saat dia masih di dalam kandungan, ibunya melakukan tindak pidana yang harus dipertanggung jawabkannya. Kasus yang demikian tentu juga  akan memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak agar tidak main main dengan hokum karena yang akan mengalami kesusahan bukan dia sendiri melainkan juga anak anaknya.  Belum lagi kalau dia  merupakan tumpuan harapan anak anaknya yang masih kecil, lalu mereka akan ikut siapa dan siapa yang bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka.

Seharusnya semua orang mampu berpikir lebih luas, dengan memikirkan nasib anak anaknya. Jadi kalau akan melakukan apapun sebaiknya dipikir dahulu lebih satu kali terutama akibat dari perbuatan yang akan dijalaninya tersebut. Apalagi jika  apa yang akan dilakukan tersebut terkait dengan pelanggaran terhadap hokum, pastinya akan mengakibatkan sanksi yang  akan dijalani. Bahkan kalaupun di dunia ini terbebas karena tidak ketahuan, maka harus diyakini bahwa balasan di akhirat nanti jauh akan lebih berat ketimbang saat di dunia.  Dengan berpikir demikian insy Allah tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menjalani sesuatu yang menyimpang dari aturan yang ada.

Betapapun sulitnya hidup, kita harus yakin kalau kita menjalaninya dengan baik dan selalu berusaha   tidak melanggar aturan, maka pasti  aka nada jalan keluar yang diberikan oleh Allah swt.  Memang terkadang kita tidak kuat menjalani ujian, nah saat kita rapuh itulah kemudian setan merasuki  diri kita dan mengarahkan untuk melakuka hal hal yang dilarang, dan akibatnya diri kita akan rugi dan bahkan pihak lain juga akan ikut merasakan kerugian dan penderitaan yang kita buat tersebut.

Memang terkadang jkita juga tidak semata mata menyalahkan  ibu ibu yang kemudian melakukan tindakan melawan hokum, karena  biasanya mereka itu merupakan korban dari seoerng laki laki yang tidak bertanggung jawab, sehingga perempuan etrsbeut harus menanggung sendiri deritanya, padahal dia juga harus menanggung akibat perbuatan laki laki tersebut.  Kalau sudah demikian, maka kita hanya dapat neglus dada, kenapa ada orang yang tega berbuat kedhaliman terhadap sesame orang dan sama sekali tidak mengingat betapa sakitnya dikecewakan dan ditinggalkan  seenaknya saja.

Kembali kepada bayi bayi mungil yang harus ikut menginap di tahanan, kita memang merasakan perihatain, tetapi kita tidak dapat berbuat apa apap terkecuali jika kita mau merawat anak anak bayi tersebut dan mengasuhnya  serta mendidiknya hingga mereka  besar.  Itu baru solusi, namun jika kita tidak mampu melakukannya, sebaiknya cukup berdoa saja agar ada pihak lain yang mau merawat dan membearkan anak anak yang saat ini masih bayi tersebut, sehingga mereka akan emmpunyai masa depan yang lebih jelas.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.