KIYAI YANG HIJRAH

Fenomena hijrah dari satu tempat pengabdian kepada pengabdian lainnya sudah terjadi sejak lama sekali. Khusua di Indonesia, banyak kiyai dan ulama yang kemudian menekuni dan terjun dalam bidang politik praktis dengan menjadi anggota perwakilan rakyat, baik di tingkat pusat maupun daerah. Pada masa yang lalu usaha tersebut mendapatkan sokongan yang nyata dan sungguh sungguh, karena memang mereka benar benar memerankan diri menjadi wakil rakyat dan memperjuangkan kepentingan mereka.

Namun seiring dengan berlalunya waktu ternyata kemudian banyak diantara para wakol rakyat yang tidak dapat menjalankan perannya sebagaiw akil, karena kepentingan materi yang lebih mendesak atau kepentingan partainya yang harus didahulukan, sehingga meeka ekmduian lupa dengan perannya sebagai wakil rakyat yang harus memeprjuangkan kepeentingan mereka.  Kibat lebih jauhnya lagi ialah merka kemudian sama sekali tidak pernah memikirkan nasib rakyatnya, melainkan semakin larut dengan kepentingannya sendiri atau kepentingan partainya.

Bahkan lebih parah lagi  akibat kondisi yang dmeikian mereka bahkan sudah berani meninggalkan hal hal pokok yang seharusnya tetap dipertanhankan, sep[erti melakukan praktek korupsi dengan segala macam jenisnya.  Namun dmeikian yang masih tetap dalam diri mereka ialah dengan menggunakan dukungan masyarakat tersbeut untuk mendapatkan suara sehingga mereka masih tetap berada di dalam  jabatan wakil rakyat etrsebut, dan sekali lagi setelah mereka jadi juga lupa dengan peran dan posisinya tersebut. Ini sungguh menyakitkan banyak pihak dan perlu disesalkan.

Melihat kenyataan yang demikian kemudian muncul  anggapan dari masyarakat bahwa politik itu benar benar kotor, karena siapapun  yang masuk di dalamnya, meskipun dia seorang kiyai sekalipun, pasti nantinya akan sama denagn  yang lainnya yang berlatar belakang tidak jelas.  Jdinya kemudian ada himbauan kepada para kiyai dan ulama untuk tidak memasuki dunia tersebut dan lebih baik tetap istiqamah dalam kekiyaiannya atau keulamaannya. Omong kosong ketika  ada seorang ulama atau kiyai yang berniat memasuki dunia etrsebut dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan, karena yang terjadi ialah justru  kiyai tersbeutlah yang terpengaruh dan menjadi rusak.

Sudah berapa banyak kiyai dan ulama  yang masuk dalam dunia politik tersbeut, bukannya politik dan partainya semakin membaik, melainkan njustru semakin  tidak karuan dan janjinya untuk mengubah kondisi partai dna memperbaiki keadaan Negara justru malah tinggal kenangan saja.  Bahkan sejak awal memasuki gerbang dunia tersebut mereka sudah tidak lagi ingat dnegan janji dan tujuan awalnya, karena di situ sudah terpapmang banyak kenikmata duniawi yang mellaikan dirinya dari niat suci awalnya.

Namun kita memang tidak berhak untuk melarang siapapun untuk menentukan masa depannya sendiri, karena itu merupakan pilihan dan merupakan hak bagis etiap orang. Kita hanya boleh berpendapat dan menyarankan saja, dan sleebihnya merupakan pilihan dan tanggung jawab mereka sendiri. Karena itu ketika kemudian ada  ualam atau kiyai yang mencalonkan diri sebagai anggota legislative, maka itu pastinya sudah dihitung untung dan ruginya dan masyartakat pun juga sudha memberikanmasukan sehingga tangng jawabnya sudah diambil alih sendiri.

Demikian juga jika ada kiyai atau ulama yang memilih menjadi calon bupati atau gubernur atau wakilnya, atau bahkan presiden atau wakilnya tentu juga harus dihitung sendiri tentang untung dan ruginya, dan tentu tanggung jawabnya akan dipikul sendiri.  Cukuplah kita hanya mengingatkan saja dan kalau boleh memintanya untuk tetap istiqamah dalam emmbimbing umat dalam kerangka  amar makruf nahi mungkar. Namun jika  hal tersebut tidak dianggap, maka kita hanya dapat mendoakan smeoga  mereka tidak tercebur dalam dunia yang kotor, melainkan  ada upaya untuk memperbaiki keadaan.

Ada memang ulama dan kiyai yang sangat kuat integritasnya dan kokoh imanannya, namun waktulah yang akan membuktikan, karena smeua  dapat dsaja terjadi, akan tetapi kita tetap mendoakan kepada mereka agar mereka tetap tabah dalam menghadapi berbagai godaan dan tetap pada niat awal yakni ingin memperbaiki keadaan dan berusaha untuk mensejahterakan umat.  Setidaknya akan mengubah kondisi menjadi lebih baik ketimbang sebelumnya meskipun belum mampu secara maksimal.

Kita sebut saja KH Abdurrahman Wahid yang menjadi presiden dan tetap mempertahankan keiyaiannya  dan saat itulah kemudian banyak pihak malah mengejeknya, memfitnahnya dan bahkan berusaha untuk menurunkannya.  Namun kita sangat salut dengan beliau yang tetap konsisten dengan prinsipnya meskipun harus dimusuhi banyak orang. Nah, siapakah yang sanggup untuk menjadi pihak yang diserang sebagaimana yang dialami oleh Gus Dur tersebut? yang akhirnya  malah mampu memenangkan kontestasi.

Mungkin kita akan sulit menemukan figure yang sebagaimana Gus Dur tersebut, karena  yang ada sampai saat ini justru sebaliknya. Jika  merka tidak terlibat dalam persekongkolan untuk melakukan kecurangan, juga paling paling hanya diam saja karena  takut dengan  ancaman politik yang mungkin sewaktu waktu dapat saja mencopotnya.  Namun buikan berarti tidak ada, kita sangat berharap akan muncul figure sebagaimana Gus Dur yang sanggup untuk  melakukan prubahan di tangah para “musuh”nya yang menghendaki sebaliknya.

Namu sekali lagi dalam kondisi normal kita masih tetap suka jika para kiyai dan ulama tetap ada dalam pesantren  dan umatnya sehingga akan lebih mampu untuk mendidik dan mengantarkan umatnya etrsebut  dalam menapaki dunia yang semakin keruh dan penuh tantangan.  Jika mereka  asih istiqamah dalam kekiyaiannya pasti mereka masih akan terhormat di mata Allah dan di mata umat hingga akhir hayatnya. Nanun jika mereka hijrah ke lain pengabdian, maka sangat mungkin mereka itu bahkan dicaci, dihujat dan diteriaki oleh masyarakat umum sehingga seolah tidak ada harganya, meskipun mungkin dimata Allah masih tetap terhormat.

Mungkin menilain saya ini terlalu fulgar dan mungkin juga tidak tepat, akan tetapi ini hanyalah sebuah renungan dan himbauan kepada smeua pihak agar jika sudah mapan di satu tempat pengabdian, sebaiknya tetap istiqamah sauja dan tidak ebrushaa  untuk berhijrah ke tempat lainnya yang masih  belum jelas keradaannya. Sejauh ini bagi mereka para kiyai dan ulama yang sudah kadung berhijrah ke tempat lain, kita doakan saja agar mereka mampu berusaha untuk mengubah kondisi menjadi lebih baik dan tetap mendapatkan bimbingan dari Allah swt sehingga tetap dalam kebajikan secara umum.

Pada dasarnya hijrah itu memang disarankan jika  yang dilakukan itu berangkat dari kondisi yang kurang baik menjadi lebih baik, dan itulah hijrah yang sangat dianjurkan dalam agama kita, tetapi jika hijrahnya untuk pindah dari sestau yang sudayh baik menuju sesuatu yang belum jelas kebaikannya, tentu itu  harus dijalankan dengan penuh hati hati dan secara terus menerus meminta diselamatkan oleh Allah swt.

Namun yang pasti mereka para kiyai dan ulama yang berketetapan untuk berhijrah tersebut, pastinya sudah memikirkan secara matang serta  akibat yang akan diambilnya, sehingga kita harus tetap berhusnudzdzan saja bahwa mereka akan mampu menjalankan perannya dengan baik dan mendapatkan pertolongan dari Allah swt. Semoga.

Write a Reply or Comment

Your email address will not be published.